Rrriiing... Rrriiing... Rrriiing...
Telepon yang biasa digunakan Irfan sebagai pengingat waktu pemakaian studio kepada para band penyewa, berdering di ruangan itu. Sontak Putra melepas dekapan mesra dirinya dari tubuh Alya. Bibir keduanya yang sejak tadi tak putus-putusnya beradu dalam gairah yang salah, kini terpisah sejenak. Firasat lelaki itu memang cukup kuat. Putra merasa ada pertanda dari bunyi telepon studio itu.
"Halo Fan, ada apa?" tanya Putra yang langsung menebak bahwa yang meneleponnya adalah Irfan - sang penjaga Stubborn Music Studio miliknya. "Boss, mbak Marsha lagi naik ke studio ya," ucap Irfan singkat, padat, dan jelas. "What??? Damn it!" Putra panik. Yang ia tahu, gadis itu masih berada di luar kota bersama kedua orang tua. Kenapa mendadak datang menghampirinya tanpa aba-aba. Putra menutup telepon dan ingin segera mengarahkan Alya untuk melakukan sesuatu.
"Al, gawat. Marsha..." Belum tuntas pria itu menjelaskan, pintu kedap suara yang super tebal khas studio musik itu terbuka. Putra yang tengah berusaha mengembalikan pencahayaan ruangan menjadi terang seperti semula, malah melakukan kesalahan fatal. Bukan ke kanan tuas lampu itu ia putar, namun sebaliknya. Marsha hadir di tempat itu dalam keadaan gelap sempurna. Alya paham apa pesan yang ingin disampaikan pria itu tadi, meski kalimatnya tidak selesai. Keadaan itu berganti menjadi sebuah kesempatan bagi Alya merapihkan diri yang sedikit berantakan akibat 'pertarungan' yang baru saja terjadi dengan Putra.
"Sayang... kenapa kok gelap sekali?" Penerangan studio tiba-tiba kembali terang benderang dalam hitungan 2 detik saja. Marsha tercengang. Gadis yang baru saja usai mendapat perawatan intensif di rumah sakit 3 minggu yang lalu itu, kini melihat sang kekasih di ujung kiri ruangan dengan tangan yang masih memegang saklar putar lampu, dan seorang wanita sebayanya di sisi berlawanan.
"Hai Marsha, kamu udah sehat? Kapan hari kata Putra abis opname ya..." kata gadis yang baru saja dilihat Marsha, yang tak lain adalah Alya. Gadis itu menghampiri Marsha seraya memberikan pelukan hangat serta 'cipika-cipiki' khas pertemanan yang biasa dilakukan di awal pertemuan. Alya berhasil menenangkan dirinya sendiri demi keadaan semuanya menjadi netral.
"Eh, iya... Aku udah sehat Al, thanks ya waktu itu udah digantiin ngisi di Nussel," - (Nusantara Selular, red) balas Marsha masih dengan tatapan heran yang ia layangkan ke arah sang pacar. Putra mengimbangi gaya penuh keyakinan yang dilakukan Alya. Sekejap kegugupannya memudar. "Iya sayang, ini barusan Alya kesini karena ambil fee manggung waktu itu," jelas Putra yang langsung ditimpali Alya. "Hehehe, maklum Sha, lagi bokek. Makanya dibela-belain kesini, jemput rejeki."
Suasana awkward itu mendadak cair. Apalagi setelah Putra menambahkan klarifikasi tentang penerangan studio yang mendadak padam beberapa waktu lalu. Lelaki itu berdalih bahwa ia sedang 'pamer' pada sang vokalis pengganti kekasihnya, tentang mode lampu yang baru saja ia beli minggu kemarin. Keraguan Marsha hilang bak ditelan bumi karena penjelasan yang masuk akal. Ketiganya berbincang ringan hingga Alya pamit undur diri dengan alasan ada jam kuliah yang akan segera mulai.
Alya menuruni tangga studio dengan sejuta rasa yang mengusik sebagian hati dan pikirannya. Bayang-bayang Putra dengan seluruh kejadian hari itu di studio, menghantui memori otak Alya. 'Aaarghh!' Alya memekik dalam hati sembari memejamkan mata rapat-rapat selama beberapa detik. Ia menarik nafas panjang dan mengangkat senyumnya kepada Irfan seraya berlalu dari tempat itu. Seolah tidak ada satupun hal luar biasa yang terjadi padanya.
Tatapannya meremang memandangi Mobil Marsha yang terparkir di halaman studio. Senyum gadis itu memudar. Toyota IST warna merah yang amat cantik. Mobil build up yang sekejap membangkitkan memori masa lalu Alya akan janji sang ayah padanya saat SMA.
-
Flashback ON, Desember 2003
--
"Kata mami kamu suka mobil itu ya Al?" tanya Benny sambil menunjuk sebuah mobil. "Iya Pi, Toyota IST yang warna merah. Mobil itu sering dipake di FTV FTV yang aku tonton. Keren sih, kayanya aku banget. Hehehe," jawab Alya dengan ceria. "Yaudah, nanti pertengahan Februari tahun depan ya, Papi belikan." Benny menutup obrolan itu dengan penuh keyakinan.
Tidak ada reaksi yang mampu diberikan Alya selain bersorak gembira. "Tapi aku belum 17 tahun Pi, SIM nya gimana?" Alya balas memastikan pada sang ayah. "Sementara nanti kemana-mana di antar Pak Eko aja, biar Papi cariin sopir baru buat mami. Kalo kamu udah 17, baru boleh bawa," tandas Benny dengan pasti. Alya setuju. Pasalnya, gadis itu memang penurut, walau apapun keinginan lain yang terselip di benaknya.
Namun apa yang terjadi? Nyatanya di awal tahun 2004 itu, tragedi besar menghampiri Benny. Gulung tikar usaha sukses yang belum lama dirintisnya, tidak dapat terelakkan. Kebangkrutan dan seluruh pernak-pernik mengerikan di dalamnya terjadi bagai bencana yang datang di kala lelap.
--
Flashback OFF
-
"Kamu pulang dari Malang kok nggak bilang-bilang sih, Sayang?"
"Kenapa harus bilang? Biar kamu siap-siap ya? Supaya nggak ketawan kalo abis selingkuh dari aku?"
Deg! Kalimat Marsha benar-benar menghujam jantung Putra. Membuat pria itu serasa lemas karena tebakan tepat sang kekasih yang telah 2 tahun menjalin hubungan spesial dengannya itu. Padahal, Marsha telah mencoba beberapa kali menghubungi pacar 'buaya' nya itu sedari pagi untuk memberi kabar, namun hasilnya nihil.
Putra mencubit gemas pipi Marsha sembari berdalih, "Astaga sayangku, cintaku, pujaan hatiku, masa iya sih cewe secantik ini aku dua-in? Kalo ada yang tega kaya begitu ke kamu, aku tonjok nih. Kalo aku yang gitu, aku tonjok mukaku sendiri." Marsha tersenyum senang. Gadis itu bergelayut manja memeluk d**a bidang Putra, lelaki yang sukses mengelabuhi sang gadis dengan segenap jurus dan rayuan menggoda.
"Beneran ya? Kamu cuma punyaku ya," tanya Marsha memastikan sekali lagi. Sebelum ia gantungkan rasa percaya kepada sang pria. Sebelum ia merasa was-was lagi seperti yang sudah-sudah. "Iya Marsha-ku sayang, aku milikmu. Lagian bisa 'modar' aku dimarahin Bunda kalo sampe kamu kenapa-napa. Tau sendiri Bunda sama Mami kamu akrabnya kaya gimana. Udah dong cemburunya, ntar cantiknya ilang lho," tutup Putra dengan 'gombalan' yang sama dengan yang tadi pagi ia lakukan pada Alya.
-
-
Air mata menetes satu-persatu dari ujung netra hitam Alya. Ia melihat jalanan yang membawanya menuju kampus siang itu. Stubborn Music Studio memang berdiri megah di jalan raya yang terlewati beberapa rute angkot. Tak sulit bagi Alya menghentikan salah satunya untuk dijadikan pilihan transportasi yang mampu mengantar dirinya ke Universitas Mahisa Cempaka (UMC), tempat sang gadis menuntut ilmu.
Gedung demi gedung terlewati dari pandangan Alya dari balik kaca angkot berwarna hijau yang ia tumpangi. Lalu lintas kota Surabaya siang itu cukup bersahabat. Semilir angin yang bertiup dari celah jendela menyibak rambut panjang gadis itu. Entah apa yang ia pikirkan di sepanjang perjalanan.
Matanya mengkristal. Air bening tak lagi mengalir ke pipi Alya, namun bola mata jernihnya masih berkaca dengan tatapan kosong. Betapa nelangsa hati sang gadis yang tak pernah mendapat cinta sejati dari lelaki-lelaki yang telah ia beri hati. Termasuk dengan Putra, sang anak semata wayang Pak Walikota yang mengabaikan dirinya meski ketertarikan telah ada di dalam hati keduanya sejak SMA. Apalagi alasannya, jika bukan strata sosial yang tidak setara di antara mereka.
Dada Alya menyesak memikirkan semua itu. Di satu sisi, ia merindukan dirinya yang dulu. Anak tunggal seorang pejabat perusahaan ternama yang keinginannya tak pernah terbantahkan. Di sisi lain hatinya mendewasa untuk terus legowo menerima suratan diri dari Sang Pencipta. Bagaimanapun, gadis itu yakin, bahwa suatu saat nanti, Tuhan akan menggantikan kesedihannya hari ini dengan kebahagiaan yang lebih baik.