Alya mengintip ruang kelas 405 dari balik kaca pintu. Mata kuliah keduanya hari ini, telah dimulai 30 menit yang lalu. Ia melihat Martha duduk di dekat pintu kelas itu. Bagaikan jodoh, Martha tiba-tiba menengok dan matanya menangkap intipan sang sahabat. Alya memanggil dengan isyarat lambaian tangan. Martha ijin keluar kelas sesaat kemudian.
"Al... Dari mana aja sih? Tadi pagi udah skip, kenapa nggak masuk lagi sekarang?" Martha tak kuasa menahan sikap 'bawel' nya dengan memberondong Alya sejumlah pertanyaan. Alya mengeluh. "Satu-satu dong, Tha kalo nanya." Alya lalu membalas tanya tentang situasi kelas dan malah meminta pada Martha untuk kembali membantu dirinya untuk TA (Titip Absen, red). Alya beralasan dirinya sedang migrain dan tak sanggup mengikuti mata kuliah.
Setelah Martha menyanggupi, Alya berjalan ke luar lobby kampus menuju kantin Bu Surti. Jika ia tak sedang lapar, namun suasana hatinya buruk, maka ia akan memesan sebuah minuman hangat favoritnya. Surti yang telah menangkap mimik muka Alya saat menghampiri kantin miliknya, langsung menebak apa yang akan dipesan gadis itu kepadanya.
"Teh tarik panas, s**u kental manisnya dikit aja?" ucap Surti yang sontak membuat Alya mengembangkan senyum. Jika di luar sana ia tidak dicintai, namun sikap perhatian Surti membuatnya merasa lebih baik. Terkadang kita tidak sadar, bahwa sekecil apapun perhatian yang kita lakukan pada sesama, dampaknya bisa sebesar luka hati mereka. Hingga, kepedihan itu tidak lagi terasa karena tertutup penghiburan kita.
"Bu Surti..." jawab Alya dengan nada mengayun khas nya yang manja. Dalam respon sederhana itu, terkandung ribuan makna yang tersirat. Semacam 'terima kasih telah mewarnai langitku yang mendung hari ini' atau sejenisnya.
Minuman pun tersaji di hadapan Alya. Surti bertanya pada sang gadis tentang gerangan apa yang mengusik hatinya. Alya menjawab diplomatis, sebagaimana ia sering mengelabuhi orang tentang perasaannya. Alya berkata bahwa ia sedang tidak ingin berbincang dengan siapapun. Ia berdalih ingin menikmati hari menyambut sore dengan kesendirian.
MP3 Player merek Sony yang diperoleh Alya dari lomba menulis cerpen di sebuah rubrik remaja surat kabar lokal, ia keluarkan dari tas. Ia memang tidak meraih juara, namun hadiah hiburan tersebut cukup sesuai dengan kebutuhannya. Sang gadis lalu memasang kedua headset dan menyalakan benda itu hingga terpendar cahaya biru dari salah satu ujungnya. Bukan sebuah lagu random yang ia putar seperti yang sudah-sudah, kali ini Alya memilih sebuah lagu yang ada di playlist untuk diputar berulang. Lagu itupun mengalun merdu di telinganya.
-
--
"If love was a bird, then we wouldn't have wings... If love was a sky, we'd be blue... If love is a choir, you and i could never sing... 'Cause love isn't for me and you.
If love was an Oscar, you and I could never win... 'Cause we could never act out our parts. If love is the bible, then we are lost in sin... 'Cause it's not in our hearts.
So why don't you go your way? And I'll go mine. Live your life... And I'll live mine. Baby you'll do well, And I'll be fine. 'Cause we're better off... separated."
Translete :
Jika cinta adalah seekor burung, maka kita tidak akan punya sayap. Jika cinta adalah sebuah langit, maka kita akan menjadi awan mendung. Jika cinta adalah sebuah paduan suara, kamu dan aku takkan pernah bisa bernyanyi. Karena cinta bukanlah untukku dan dirimu.
Jika cinta adalah sebuah piala oscar, kamu dan aku takkan pernah memenangkannya. Karena kita tidak pernah bisa memerankan bagian kita dengan baik. Jika cinta adalah sebuah kitab suci, maka kita adalah orang-orang yang tenggelam dalam dosa. Karena ayat-ayat itu tidak pernah ada dalam hati kita.
Maka mengapa engkau tidak pergi saja menempuh jalanmu? Dan aku akan pergi di jalanku. Jalani hidupmu sendiri, dan aku akan menjalani milikku. Sayang, jika kau melakukan semua itu dengan baik, maka akupun akan baik-baik saja. Karena kita lebih baik... Berpisah.
--
-
Gadis itu memandang langit dengan senyum tipis. Sesaat ia tertawa kecil menganggap lucu kisahnya sendiri. Semua itu terlalu komedi untuk ditangisi, walau begitu melasnya perasaan Alya saat ini. 'Tenang Alya, ini bukan kali pertama kamu menghadapinya' gumam sang gadis jelita itu di dalam hati. Segala rahasia rasa dan jiwa ia tanggung seorang diri.
Mulai dari berbagai mimpi dan harapan yang mendadak kandas oleh tragedi 'jatuh miskin' orang tuanya. Lalu dengan segala perjuangan hidup yang terlalu dini ia rasakan. Lengkap dengan pertikaian harian yang terjadi dalam keluarga. Dan diakhiri sempurna oleh cerita cintanya yang tak pernah sampai. Alya tertawa sendiri dengan gelak yang makin terdengar jelas sebab saking bingungnya ia berusaha merekayasa suasana hati yang nelangsa.
"Wooooyyyy! Ada orang gila rupanya di siang bolong hot potato potato kaya begindang. Lu lagi ngapa sih, nona Alya Sasikirana Bonaparte? Whyyyy sampe ngakak sendirian gitu?" Seseorang menepuk dahi Alya di Kantin Kampus Bu Surti. Dia Andika, bersama 3 orang 'antek' nya yaitu Dini, Friska, dan Meida.
Lelaki flamboyan asal Jakarta itu memang memiliki gaya unik dalam berkomunikasi. Bisa dibilang, Andika dan geng perempuannya itu adalah kelompok mahasiswa paling 'gaul' di angkatan 2006. Mereka lah teman Alya di kala rasa suntuk yang sudah tak terbendung sedang menghampiri. Tidaklah mempan jika sekedar bermain bersama Martha atau teman-temannya yang lain untuk mengatasi kepenatan yang terlalu membelenggu.
"Eh Dik, serius tadi pagi gue udah pengen banget kontak lu. Nggak tau kenapa belom sempet nelpon, eh ada yang ngeduluin. Celakanya, abis itu gue hilang arah. Fix gue butuh maen," kelakar Alya pada Andika and the gang. "Kenapose beb? Lu tersingkir lagi dari dunia percintaan yang diliputi aral melintang? Yuk lah ntar malem 'berangkat' kita." Andika menanggapi dengan penuh pengertian. Sikap ganjil Alya sangat mudah ditebak oleh pria metropolitan itu. Dan... tawaran yang dinanti Alya pun direspon dengan baik oleh Andika.
"Yaudah ntar ya, abis pulang ngajar les dulu, jam 9 an lah kira-kira, Dik di rumah lu," ucap Alya dan dibalas berbeda oleh Andika. "Beb, lu nggak capek apa? tidur dulu lah di rumah gue, maskeran dulu, facial-facial, ngopi-ngopi cantik. Udah sih berapa ongkos privat lu? gue ganti 100%" pungkas Andika yang disanggupi oleh Alya. Ia segera mengambil ponsel miliknya dan menghubungi sang murid les untuk memberi kabar bahwa hari ini bimbingan itu di re-schedule karena Alya sedang sakit.
Siang itu, kekacauan baru kembali diputuskan oleh Alya. Entah berapa macam kesalahan telah ia lakukan di hari yang sama. 'What a day!' begitu kata para kawula muda menanggapi hari sial mereka. Demikian pula Alya. Meski ia tahu semua ini menuntut dampak buruk di hari esok, ia tetap melangkah maju, menjabani dosa demi dosa dari gejolak jiwa remaja yang meronta.
-
-
Author's note :
Halo readers ?Gimana rasanya aku double UP hari ini? Episode sebelumnya, kirain Alya udah calm down ya, dengan pemikiran bijak di paragraf akhir yang kutulis? Eh... malah ketemu Andika and The Gang, hihihi. Kira-kira mereka mau kemana ya malem ini? ?