10. Let's Get The Party !

1501 Kata
"Hompimpa alaiyum gambreng!" kelima muda-mudi itu mengibaskan telapak tangan bersama dalam posisi melingkar berhadapan. "Yes! Giliran gue ya. Truth or dare, gue pilih dare!" ucap Friska penuh kemenangan. Pasalnya, permainan truth or dare yang mereka lakukan sedikit berbeda. Jika biasanya siapa yang keluar dari tahap 'hompimpa' akan menjadi korban yang dikenai tantangan, mereka melakukan sebaliknya. Kali ini Friska yang berhak menentukan hal menantang apa yang harus dilakukan teman-temannya. "Dare apaan, Fris? Awas aja lu sampe nyuruh kita-kita mutusin ekor cicak lagi ya!" bantah Meida. "Nggak dong, kali ini gue mau kalian nyanyiin lagu yang liriknya paling sering salah kaprah, trus sebutin salah kaprahnya di bagian mana!" kelakar Friska. Gadis itu merasa, pasti akan ada banyak 'badut' di antara mereka. Karena hukuman bagi yang tidak mampu menunaikan tugas permainan, maka wajahnya akan tercoreng larutan bedak putih basah di segala sisi. "Oke gue bisa!" Dini mengajukan diri yang pertama. "Lagu mengheningkan cipta pas upacara bendera," jawab gadis asal Bandung itu. "Yak silahkan, teh Dini boleh nyanyiin lagunya, jangan lupa disebut bagian salah kaprahnya. Waktu anda 1 menit dari sekarang!" Bak kuis-kuis di televisi, Friska menjadi moderator bagi para 'korban permainan' nya. "Dengaaaan seluruh angkasa raya memuja pahlawan negaraaaa. Namuuun ku remaja, di ribaan benderaaaa, merah nusa bangsa. Hayo, yang bener tuh 'dengan' seluruh apa 'dengar' seluruh? Terus, yang bener 'memuja' apa 'memuji' pahlawan negara? Naaahlo, bingung kan? Sama gue juga bingung. Terus lagi, 'namun ku remaja' atau 'nan gugur remaja'? Terakhir, 'merah' atau 'bela' nusa bangsa? Pusing, pusing lu pada. Hahaha. Mission accomplished kan gue? Fix yaaa," ucap Dini dengan yakin. Keempat pemain lain bungkam. Mereka baru sadar bahwa 'iya juga ya' dalam lirik lagu mengheningkan cipta banyak kata yang rancu di kalangan para siswa. "Jago lu, Din. Yaudah next dah," sahut sang pemberi tantangan. Alya mengajukan diri. Ia menyebut bahwa lagu Balonku juga memiliki lirik yang sering salah dinyanyikan orang. "Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya. Merah, kuning, kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau, duarrr! hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat. Ada yang salah nggak dari nyanyian gue?" tanya Alya serius kepada teman-temannya. Gadis itu menelisik satu persatu ekspresi teman-temannya. Semua menggeleng. "Gak ada tuh yang salah, Al. Trus? gagal dong lu," tandas Friska. Kemenangan telah di depan mata. Friska senang akan mendapat 'pasien' baru untuk dirias. "Kan gue tadi bilang 'merah', kuning, kelabu. Merah muda dan biru. Nah, kok bisa meletus balon hijau terus balon gue tinggal empat? sedangkan gue aja kan nggak megang balon hijau, ya nggak? Berarti gue mission accomplished juga dooong hahay" Alya men-skakmat Friska dengan sumringah. "Wah kacau nih, pada curang, gue nggak dapet mangsa," jawab Friska mulai putus asa. "Gue dong. Gue pake lagu Topi Saya Bundar deh," kata Meida yang diiyakan oleh Friska "Sok Mei, coba nyanyi" , "Topi saya bundar... Bundar topi saya... Kalau tidak bundar... Giginya tinggal dua... Trekjing trekjing trekjing lalala," Belum saja Meida merampungkan lagunya, Friska memotong dengan tawa membuncah disusul oleh yang lain. Mereka semua terbahak. "Gila lu! Maksa tapi kocak, asli gue ngakak. Ngapa tuh topi saya bundar jadi melipir ke burung kakak tua. Tapi emang mereka nadanya sama sih. Yaudah boleh lah, aman," tutup Friska memberi pengecualian karena lelucon Meida cukup menghibur. "Yoook mamen, gimana mamen? tumben lu kehabisan ide?" Friska bertanya pada satu-satunya pemain yang belum andil sejak tadi, Andika. "Gue ini aja deh, bukan lagu daerah, lagu anak-anak, maupun lagu kebangsaan. Gue pake lagunya Ada Band, Langit Tujuh Bidadari," pungkas Andika meyakinkan. Giliran sang pria maskulin disikapi sedikit berbeda oleh keempat pemudi lain di kamar itu. Mereka semua menyimak dengan penuh sikap waspada dan fokus. Ini adalah pamungkas, mereka berharap banyak pada jawaban Andika. "Ku yakin ku bisa bawamu terbang ke angkasa... menembus 'kelamyn' lewati langit tujuh bidadari," Bagai meracau, Andika menyanyikan lagu itu dengan lirik salah yang mungkin hanya dia seorang yang akan melakukannya di dunia ini. "Yeeee apaan tuh ada kata menembus 'kelamyn' segala, lu lagi j****y kali ya? Yakali menembus 'kelamyn' bisa nyampe ke langit tujuh bidadari. Yang ada malah nyampe neraka, cong kalo nggak halal! Hahahaha," sela Friska memotong nyanyian melantur dari sang ketua geng. Mereka semua riuh dengan tawa. Merayakan jiwa penuh kebebasan. Merayakan masa muda yang mungkin takkan berlangsung lama. Di kamar Andika, lima muda-mudi itu merasa senang dan riang. Tiba-tiba Friska mencorengkan larutan bedak basah ke arah Andika, disusul oleh pemain lain. Andika yang kesal, memberikan pembalasan lebih kejam. Ia menorehkan bedak putih itu ke seluruh teman-temannya yang ada di kamar miliknya. Suasana menjadi kacau dan penuh canda, kelima remaja itu saling membalas satu sama lain diakhiri dengan berfoto bersama dengan seluruh wajah penuh gambar putih tak beraturan. Lagi, dan lagi, mereka riuh dengan tawa. - - "Al, btw lu nggak pa-pa ama bonyok lu nggak pulang?" tanya Dini mengkhawatirkan Alya. Pasalnya, di antara mereka, hanya Alya yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Dini, Meida, dan Friska tinggal di rumah kos yang tak jauh dari kampus. Sedangkan Andika, anak seorang importir mobil mewah, memiliki rumah di Surabaya. Rumah yang ia tinggali hanya bersama asisten rumah tangga dan sopir. Rumah yang sering menjadi basecamp bagi siapa saja yang butuh hiburan dan tempat singgah. "Astaga! Lupa gue. Yaudah Din, gue bilang nginep kosan lu aja ya ngerjain tugas. Ntar lu ikut ngomong ke nyokap gue juga ya pas gue nelpon," seloroh Alya pada sang teman. Alya memang sudah pernah melakukan ini sebelumnya. Benny dan Indah - orang tua Alya, mengenal Dini sebagai sosok yang rajin dan tidak 'neko-neko'. Tidak seperti Friska dan Meida. Dari tampilannya saja, semua orang akan menebak bahwa mereka pasti anak Ibukota yang menganut paham pergaulan bebas. Dini mengiyakan. Alya segera menelepon sang ibu untuk meminta ijin dan diakhiri dengan obrolan oleh Dini. "Halo tante, ini Dini. Iya tante, Alya dipinjem dulu ya tante, soalnya tugasnya buat kelas besok pagi. Dini ada baju kok tante, biar nanti Alya pake punya Dini dulu. Besok paling siang abis selesai kuliah Alya pulangnya. Makasi ya tante udah diijinin, salam buat om juga," tutup Dini dengan rangkaian kalimat dan intonasi yang luar biasa santun kepada orang tua. Tak salah jika Alya diijinkan, karena Dini adalah tipe gadis terpercaya secara penampilan dan gaya bicara. - - Para sahabat itu berganti agenda dengan makan malam. Rumah Andika memang bagaikan surga yang diimpikan para remaja. Bebas dan fasilitasnya sangat lengkap. Semua serba ada. Kalaupun tidak ada, uang saku dan tabungan Andika pun mampu mengadakannya. Jika saja Andika memiliki orientasi percintaan yang 'normal', tentu ia akan dengan mudah memiliki semua gadis-gadis yang selalu menjadi pengikut setianya itu. Setelah kenyang, mereka melanjutkan aktivitas dengan bersiap menuju suatu tempat. Tempat yang diidam-idamkan Alya untuk meluruskan benang kusut di pikirannya. Tempat berbahagia sesaat yang mampu membuatnya lupa akan segala pelik kehidupan. Tak lama setelah semua berhias, Sutrisno - supir pribadi Andika mengantar 5 orang mahasiswa itu ke Kapadokia Bar and Night Club di bilangan Surabaya Barat. Mereka diantar menggunakan Toyota Velfire yang sehari-hari digunakan Andika. - - Mobil penuh wewangian berbagai merek memendarkan semerbak aromanya sesaat ketika Sutrisno membukakan pintu otomatis mobil mewah itu tepat di lobby Kapadokia. Lima serangkai remaja pun turun dengan anggun dengan penampilan menawan. Tak terkecuali Andika, sang ketua geng yang menjadi dalang setiap dandanan sempurna teman-teman wanitanya. Moment epic kedatangan mereka, jika digambarkan dalam sebuah lagu pengiring, maka yang paling cocok adalah lagu 'London Bridge' yang dinyanyikan oleh Fergie. Menjadi backsound langkah demi langkah yang muda-mudi itu lakukan saat memasuki tempat paling bergengsi di kalangan usia mereka. Tak ada mata yang tak takjub dengan kehadiran mereka. Alya dengan profil 'wanita tak berdaya' yang biasa menjadi penampilan favoritnya, kini berubah bagai Angelina Jolie dengan tampilan tegas dan riasan bold. Andika mendandani Alya dengan kunciran ponytail yang tinggi, aksen smokey eyes, lengkap dengan lipstik merah yang memenuhi seluruh garis bibir gadis itu. "Andika Rajasa. Good night, Brother! Long time no see," seseorang menyapa Andika di front gate club. Andika membalas sapaan dengan salam 'lelaki' yang melibatkan saling menepuk pundak di antara mereka. Andika cukup piawai dalam bergaul. Bahkan sepertinya, tidak ada 1 kota pun yang terlewatkan tanpa kolega atau kenalan yang ia punya. Untuk melewati front gate, Andika memiliki sisa 3 free pass yang ia dapat dari kedatangan sebelumnya, dan untuk 2 orang lagi, pria itu menggunakan credit card berwarna hitam miliknya. Tak lama kelima remaja itupun masuk ke tempat itu, Kapadokia Bar and Night Club. Jangan bayangkan setelah masuk, mereka akan berdiri berdempetan dengan para tamu lainnya untuk saling bergantian mencari tempat duduk. Andika dengan segala 'power' nya, mampu 'open table' dan membuat 4 orang gadis yang ia bawa itu duduk di sebuah meja dengan sofa setengah lingkaran yang berada di ujung ruangan club. Beberapa botol minuman pun tak lama terhantar sempurna di meja mereka. Sang lelaki flamboyan itu mulai mempersiapkan 'suguhan' nya. "Gimana guys? kita mulai dari mana? dari siapa dulu?" Andika bertanya kepada para gadisnya dengan seringai tawa. "Yoookk, gue dulu nih yaaaa! Lanjooott!" ucap Meida heboh seakan menjadi 'kompor' bagi teman-temannya untuk minum bergiliran setelahnya. "Wuhuuuu!!! Enjoy girls!!! Let's get the party!!!" , "Hell YEAH mamen!!!" teriak Andika dan Friska bersahutan. Berusaha mengalahkan suara musik club yang menghentak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN