Malam yang hingar bingar, penuh gelak tawa para kaum pemuja kebebasan jiwa dan raga. Itulah istilah paling tepat menggambarkan suasana di tempat keberadaan Alya saat ini. Ia berada di antara para remaja yang sibuk dengan hasrat masing-masing.
Golongan penikmat suasana, akan sibuk dengan pandangan yang beredar menyusuri seluruh sudut ruangan. Golongan pendamba lapak ekspresi, akan sibuk dengan ragam gerakan tubuh mengikuti irama lagu. Golongan berbeban berat, akan sibuk meringankan diri dengan minuman yang membuat mereka melayang.
Alya bukanlah termasuk ketiga golongan itu. Tidak ada yang benar-benar ia inginkan di tempat ini. Di lubuk hati ia bertanya pada jiwanya sendiri, adakah rasa sepi yang sempurna sedang menyelimuti diri di tengah gemerlapnya masa muda?
Sontak ia teringat akan lirik lagu Grup Band Dewa yang terdapat kalimat 'Di dalam keramaian aku masih merasa sepi... sendiri memikirkan kamu. Kau genggam hatiku, dan kau tuliskan namamu... kau tulis namamu'. Rupanya, ini semua masih tentang lelaki itu. Lelaki yang bernama Abhivandya Putra Nenggala.
Di sekitar Alya ada Andika, Dini, Friska, dan Meida tengah terlibat obrolan tanpa makna yang membuat keempatnya terbahak. Mereka telah merasakan pesona rasa 'terbang' akibat larutan nikmat yang mereka minum bergantian sedari tadi. Andika memang selalu membatasi level minuman keras yang ia tenggak di setiap kesempatan seperti ini. Ia selalu menyiapkan diri sebagai 'pelindung' bagi siapapun yang ia beri suguhan 'buka meja' di club malam.
Pasalnya, pernah di sebuah kesempatan serupa, Meida terlibat cekcok dengan tamu lain sebuah club saat kondisi mabuk. Pertengkaran antar wanita pun terjadi. Jika bukan Andika yang menjadi penengah, siapa lagi? Oleh karenanya, lelaki flamboyan itu selalu berjaga-jaga. Sedang yang lain, bebas melepas batasan diri sesuai 'bawaan' mereka usai menenggak miras.
"Al... lu sebenernya kenapa sih? ngajak party, eh di sini malah murung. Biasanya lu teriak-teriakan kalo lagi kesel ama urusan 'bonyok' lu. Berarti beda kasus nih?" tanya Dini berusaha menggali informasi. "Iya Al... kenapa sih? cerita dong, jangan diumpetin sendiri," Friska ikut membujuk. Andika hanya memandangi teman wanitanya yang tengah galau itu. Berusaha menebak-nebak apa yang terjadi.
"Masalah cowok ya Al?" tandas Andika dengan tegas. Alya mulai tertawa terkekeh. Seolah segala rahasia yang ia simpan, sesaat lagi akan terkuak. Ia mengambil botol miras berjenis Martel di atas meja. Menenggaknya langsung dari botol sambil frustasi. "Terjawab guys! Jadi gimana? kita samperin aja apa orangnya? kita gebukin!" seloroh Meida memberi dukungan pada Alya yang tampak menderita.
"WOY ANJING LU b*****t! DASAR COWOK GOBLOG. BERANI-BERANI LU BIKIN SUSAH TEMEN GUE! GUE HAJAR LU YA! BAEK-BAEK LU, BOKAP GUE POLISI!" Friska mulai memperagakan perannya sebagai support system Alya, bersikap bak jagoan yang tengah melabrak seorang pria bastard. Namun Andika malah tertawa keras disusul 3 orang lainnya termasuk Alya.
"Eh permisi nih Mbak, sebelumnya. Mbaknya jadul banget ya gayanya kalo ngancem. Kalo boleh tau nih, mbaknya kelahiran tahun berapa ya? HAHAHAHAHA!" Andika tak sanggup melanjutkan candaannya. Ancaman Friska berupa sebuah frase lawas 'bokap gue polisi' itu semacam sebuah punchline yang membuat Andika tak tahan untuk larut dalam tawa.
"1988. Napa? Kaya lu pada anak 90 an aja lagaknya!" ucap Friska kesal. Entah kenapa ia tidak sadar bahwa gayanya terlihat jenaka bagi teman-temannya itu. Alya mulai bisa tersenyum lagi. "Yoook telen lagi yoookk, giliran siapa sekarang?" Meida langsung mengambil kesempatan untuk melanjutkan aktivitas menuju 'get drunk' mereka.
"Mas Raka?" tanya Alya lirih sambil mengucek mata memastikan sosok yang dilihatnya. "MAS RAKA!" panggil Alya berteriak. Gadis itu melambaikan tangannya dan melangkah menuju meja yang ada di depan posisi dirinya menghadap. Sang lelaki yang merasa namanya dipanggil, sontak menengok. Wajahnya sumringah menyambut sapaan gadis itu.
Sebenarnya, pria itu bukan baru saja datang. Ia telah ada sedari tadi di tempat itu. Namun, penampilan dirinya yang sedikit 'diubah' dan arah pandang posisi duduknya yang menghadap ke stage, membuat Alya baru saja menyadari kehadiran sang pria.
"OH-MY-GOD! itu bukannya Arjuna Raka?" tanya Dini memastikan kepada 3 sekawan lainnya. "Daaaamn! You die man!!! Itu beneran Arjuna Raka. Ngapain coba orang macem dia ke Kapadokia? Oke, gue mau foto," jawab Meida. Meida lantas mengeluarkan ponselnya, menjepret wajah sang pria dari sisi kanan, tepat saat pria itu menoleh karena Alya memanggil nama dirinya.
Andika menggeleng. Ia heran. Lelaki dengan sejuta impresi positif seperti Raka, bisa-bisanya ditemui di club malam seperti ini. "Penceramah kajian juga butuh pelepasan guys. Dia pasti lelah menjadi pahlawan bertopeng," komentar Andika.
Arjuna Raka Pramahesa. Seorang Ketua Himpunan Mahasiswa (Kahima) Universitas Negeri ternama pada masa Alya dan keempat teman-temannya itu pertama kali masuk menjadi mahasiswa di UMC 1.5 tahun yang lalu. Pria yang akrab disapa Raka itu, juga aktif dalam organisasi keagamaan dan rutin mengisi ceramah mingguan bagi para muda-mudi di kampus mereka. Beragam prestasi seperti juara lomba tingkat nasional, banyak ia kantongi. Dan terakhir, saat ini ia adalah asisten dosen mata kuliah kewirausahaan karena sepak terjang Raka yang juga aktif dalam dunia UMKM.
Malam ini, lelaki sejuta impresi positif itu, ditemui oleh para juniornya, di tempat clubbing terkemuka di Surabaya, Kapadokia Bar and Night Club. Sungguh sebuah kenyataan yang ironis. Apalagi, memperhatikan isi meja yang ditempati Raka, botol-botol minuman yang serupa dengan pesanan Andika pun, berjajar di sana.
"Kamu sama siapa aja, Al?" tanya Raka dengan santai. Pria itu seperti tidak peduli jika gaya hidup rahasianya diketahui oleh khalayak. "Aku sama Andika, Dini, Meida, dan Friska Mas," jawab Alya polos sambil mengedarkan pandangan ke orang-orang yang duduk bersama Raka. Tidak satupun wajah yang ia kenal. Alya menebak, malam itu Raka tidak datang dengan anak-anak kampus UMC.
"Minum, Al... suka Bailey's nggak kamu?" Raka menyodorkan minuman alkohol rasa s**u coklat itu ke arah Alya. "Cobain deh, kayanya minuman ini kamu banget, hehehe," tawar Raka pada sang adik kelas. Benar saja, saat Alya menenggak minuman itu, ia merasa sedang minum Ultra Milk rasa coklat, namun terdapat rasa alkohol yang cukup kuat mengimbangi.
"Apaan coba Mas? minuman yang aku banget, hahaha. Emang aku kaya gimana?" celoteh Alya pada sang senior. Entah mengapa, penampilan Raka yang berbeda dari biasanya itu, membuat Alya merasa lebih nyaman berada jarak dekat dengan sang pria. Terlebih, ada sesuatu yang mengingatkan Alya pada Putra. Slouchy Beanie Hat. Ya, malam itu Raka memakai beanie hat yang menyisakan sedikit poni depannya saja. Kaos putih v-neck ditumpuk jaket jeans dengan kancing yang terbuka.
"Kamu itu... manis seperti s**u coklat, tapi punya magnet yang tarikannya kuat seperti alkohol. Persis kan, kayak rasa minuman ini?" goda Raka seraya mengerlingkan sebelah mata. Rayuan maut untuk sang adik kelas berhasil mendarat sempurna. Alya tertawa menikmati bujuk rayu sang idola kampus. Kesadarannya memburuk malam itu. Ia sudah merasa 'ringan' akibat larutan nikmat yang sedari awal telah ia tenggak.
"Hahaha, mas Raka bisa aja," tawa Alya. Ia mencoba berdiri hendak kembali ke mejanya, namun rasa 'fly' telah sedikit menguasai diri. Alya sempoyongan dan selamat oleh pelukan Raka. "Mau kemana sih Al? sini aja," ajak sang pria.
Lelaki itu tidak terlalu banyak minum malam itu. Ia lantas memangku sang gadis sambil terus mencekoki minuman. Alya menenggak gelas demi gelas masih dalam posisi dipangku oleh sang senior. Sesekali Alya merangkul leher Raka dengan mesra dan manja, tanpa dilarang oleh sang lelaki yang juga menikmati.
Entah apa yang gadis itu pikirkan. Lelaki yang tidak terlalu akrab dengannya, telah berada begitu dekat tanpa jarak dengan dirinya. Raka beberapa kali mengusap-usap punggung Alya yang malam itu memakai dress backless. Telapak tangan Raka yang menyentuh langsung kulit punggung mulus Alya, mulai memercikkan reaksi kimia pada dirinya. Seolah ada hasrat yang memenuhi naluri liar pria itu.
Meida dan Friska sudah mulai sibuk bertahan dari rasa pening yang bertengger di kepala mereka. Rasa 'mabok' mulai menghampiri. Meida yang selalu merasa ingin buang air kecil saat get drunk, mulai berdiri dan sempoyongan menuju toilet. Namun kali ini dirinya tak sanggup menopang tubuh. Gadis itu jatuh tersungkur di depan meja. Andika dan Dini yang masih cukup 'sadar', segera memapah Meida ke toilet. Meninggalkan Friska yang berisik dengan ocehannya sendiri. Kalimat yang seolah menyanyikan lagu-lagu yang dibawakan home band Kapadokia, terlontar tanpa makna dari bibir Friska.
Sementara itu, rupanya Alya sudah tidak berada di ruangan club itu lagi. Keempat temannya tak satupun sadar bahwa Alya tidak lagi terlihat di sana. Meida mulai 'kumat' beradu mulut dengan orang yang menyenggol dirinya di tengah perjalanan menuju toilet. Gadis itu telah benar-benar mabuk minuman. Selalu saja ingin bertengkar dengan orang tak dikenal setiap kali efek miras melemahkan kesadarannya.
Tak terasa 45 menit berlalu. Andika memicingkan matanya mencari-cari keberadaan satu teman lain yang tadi sempat pindah ke meja depan mereka. "Beb, si Alya mana beb?" tanya pria itu pada Dini, satu-satunya teman lain yang tidak terlalu mabuk. Andika mulai gelisah. Ia dan Dini berpencar mencari Alya ke seluruh sudut ruangan club malam itu. Hasilnya nihil.
Pria flamboyan itu mulai kehabisan akal. Kekhawatiran telah menguasai dirinya. Namun satu hal yang diingat Andika, yakni Alya terakhir kali dilihatnya tengah bersama pemuda bernama Raka. Yang tak lain adalah kakak kelas mereka. Sosok Raka pun, mendadak tidak terlihat batang hidungnya. Sama hilangnya seperti Alya.
"Aduh Din, mampus gue. Anak orang gue ajak party malah ilang. Duh lemes gue," keluh Andika. Dini berulang kali menelepon Alya, namun ponsel Alya tidak aktif. "Yah elah, orang HP nya di sini, mati, pantes gue telponin ngga nyambung," ujar Dini yang baru sadar bahwa tas Alya ada di sampingnya. Lengkap bersama dompet dam ponsel milik sang gadis. Dini membuang nafas kasar.
"Gue nelpon Raka juga gak aktif. b******k! Kemana sih mereka!" pekik Andika. "Din, Alya tuh perawan nggak sih?" Tiba-tiba Andika bertanya hal tabu pada Dini. "Setau gue sih iya ya. Soalnya dia pernah cerita, naksir cowo, tapi cowo itu kalo pacaran biasa sampe ML gitu ama cewenya. Dan akhirnya Alya bilang dia kegeser gara-gara alasan ngga bisa menuhin itu. Ya gue nggak tau juga ya..." jawab Dini berspekulasi.
"Ikut gue, Din!" seru Andika. Keduanya meninggalkan Friska dan Meida di tempat itu dan menuju ke sebuah lokasi yang masih berada dalam satu bangunan dengan Kapadokia, yaitu The Sofia Boutique Hotel. Hotel bintang 4 bergaya klasik timur tengah yang rate per night nya cukup merogoh kocek.
"Mbak, tolong kasih tau saya, tamu atas nama Arjuna Raka Pramahesa menginap di room berapa?" Andika tampak yakin saat bertanya pada resepsionis hotel. Meski fakta tentang apakah Raka benar-benar tengah mengajak Alya check in, masih sejauh hipotesis belaka. Pria itu sedang berspekulasi dengan niat segera menemukan Alya. "Baik Pak, mohon ditunggu sebentar..." ucap sang petugas front office dengan ramah. Jantung Andika dan Dini serasa hampir 'copot' saking tegangnya menunggu hasil pencarian data tamu di hotel itu.
****
Author's note :
Halo readers, seru nggak episode kali ini? Coba tebak, kira-kira apa ya jawaban dari petugas hotel atas pertanyaan Andika? Masa sih, sosok senior panutan kampus ngajak check in adik kelas? Wah...wah...wah... gawat nih. Tapi apapun hasilnya, jangan lupa tap ♥️ ceritaku yaaa :) Selamat membaca.