12. Identitasmu Adalah Dirimu Sendiri

1493 Kata
30 menit sebelumnya ... -- "Mas Raka, hahaha, kenapa wajahmu warna-warni?" Alya terbahak menepuk-nepuk muka sang senior dengan tangan terhuyung. Wajah itu putih bersih. Tidak ada kumis dan jenggot yang tumbuh berserakan di wajah pria itu. Raka memang tergolong lelaki yang rajin mencukur. Potongan rambut lurus rapi dengan poni yang sedikit menjuntai, malam itu dihiasi dengan asesoris kepala berupa slouchy beanie hat warna abu-abu. Arjuna Raka Pramahesa memang menawan dan kharismatik. Tidak hanya gadis sebaya yang akan terpikat jika melihat sosok seorang Raka, namun para wanita paruh baya pun tentu tertarik hendak menjadikan Raka calon menantu. Hal terbaik dari penampakan pria itu adalah kesan terpelajar, santun, dan ramah seolah seluruh attitude terbaik di muka bumi dimilikinya. Raka memegang punggung tangan Alya dan membawa tangan halus itu menyentuh tepat di pipi sang lelaki. "Kalo megang yang bener, kaya gini. Masa nepuknya kaya tangan bayi belajar ngenalin muka bapaknya?" balas Raka. Gadis itu makin terlihat gamang dengan tubuhnya. "Mas, huweekk" Alya menutup mulutnya. Rasa mual menggelayuti dirinya. Raka menengok ke meja teman-teman Alya, dan hanya mendapati Friska yang tertunduk memegangi kepala. Pemuda itu berpikir, bukan pilihan yang tepat untuk menyerahkan Alya yang berada pada puncak efek miras, kepada sesama teman yang senasib. "Al, pegang sini ya, tahan ya," Raka mengarahkan Alya untuk menggantungkan tangan ke lehernya sembari ia menggendong sang adik kelas menuju ke luar club. "Huweeekk... Huwweeekk..." Alya mengeluarkan sebagian isi perutnya. Jika minuman beralkohol telah menguasai diri, akan sulit untuk tidak berakhir dengan muntahan. Untung saja gadis itu sedang dalam tatanan rambut ponytail yang cukup tinggi, sehingga tidak ada bagian tubuh yang terkotori oleh cipratan isi perut yang keluar tak tertahan. Raka dengan sigap mengelap mulut Alya. "Mas, aku mau pulang... Mas, ayo pulang sekarang," kata sang gadis. "Iya Al, oke aku anter ya sekarang," jawab Raka. Raka memapah Alya menuju parkiran dan mendudukkan gadis itu di kursi penumpang bagian depan mobilnya. Lelaki itu bersegera mengambil posisi mengemudi, menyalakan mesin, AC, dan pemutar musik. Raka berusaha memberikan suasana yang rileks dan nyaman untuk Alya. "Kamu minum dulu, nih." Pria itu menyodorkan air mineral botol ke arah sang gadis. "Mas, kita pulang ke rumah kamu aja ya, Mas," ajak Alya lirih. "Hahaha, aku aja lagi nggak pulang ke rumah, Al. Mana bisa aku bawa kamu pulang?" Raka terbahak. Ia seakan sedang melihat cermin dirinya pada sosok gadis di sampingnya. Gambaran anak muda yang tengah berada di persimpangan jiwa yang bergejolak. Entah apakah alasan mereka sama, atau berbeda. Alasan untuk tidak pulang ke rumah malam ini. - -- "Aku kan berjanji, takkan mengulang segala kesalahan... Aku kan mengabdi, pada satu cinta dan itu dirimu... Jujur ku hanya seorang lelaki, yang terkadang, tak lepas dari godaan." -- - Lagu bertajuk Pada Satu Cinta yang dibawakan Glenn Fredly, mengalun syahdu di mobil Kia Picanto hitam milik Raka. Alya bersandar nyaman di kursinya. Ujung matanya mengalirkan air bening. Sang gadis menangis tanpa isakan. Raka menengok ke arah Alya dengan kedua tangan berada di atas setir. Ia memandangi sang adik kelas yang tengah memejamkan mata, dengan tatapan melas. "Mami... maafin aku Mi. Mami... maafin aku ya Mi, aku bohong sama Mami. Mami maafin aku kan Mi... Mamiiiii... hiks hiks hiks," Alya mulai tersedu, masih dengan mata terpejam. "Ssshhh... udah Al, jangan nangis," potong Raka sembari memeluk gadis itu. Menenangkannya dalam dekapan yang tulus. "Sssshhh... ngga pa-pa, mami kamu udah maafin kok Al, km tenang ya," Alya terus menitikkan air mata hingga rasa damai menghampiri. Ia tertidur dalam tangisnya, di mobil Raka. Gadis itu memang selalu memanggil-manggil ibunya di saat-saat terburuk dirinya. Raka membiarkan adik kelasnya beristirahat sejenak. Pikiran pria itu mulai terusik. Mengingat sang ibu yang ia tinggalkan di rumah sendirian. Tes... Tes... Tes... Raka tertunduk pilu di atas kemudi mobilnya yang terparkir. Pria itu menangis tanpa terisak. Ia mulai dihantui rasa bersalah pada ibunya. Ibu yang ia debat habis-habisan sesaat sebelum ia pergi ke club itu. Wanita yang terus membela sang suami hingga menutupi fakta keji terhadap dirinya selama 10 tahun. Sosok ayah sempurna yang ia banggakan, rupanya terpaksa berpoligami sejak 10 tahun silam hanya karena menghamili rekan kerjanya di pemerintahan. Arjuna Raka Pramahesa, anak laki-laki sulung dengan satu adik laki-laki. Anak seorang anggota DPRD dan pejabat partai. Anak yang sempurna dengan ketampanan, prestasi, dan latar belakang keluarga yang sempurna. Segala kesempurnaan takdir yang ia banggakan, bak runtuh dalam semalam ketika ada seorang anak perempuan berusia sekitar kelas 4 SD yang datang ke rumahnya bersama sang Ayah. Dan dari mulut kecil gadis itu memanggil kata 'AYAH' kepada sosok yang juga ia panggil Ayah selama 21 tahun. Fakta itu. Fakta bahwa sang Ayah panutan, sang Ayah idola, sang Ayah setia, sang Ayah yang amat mencintai istri dan kedua anak laki-lakinya, semua itu rupanya omong kosong belaka. Fakta itu telah patah oleh hadirnya gadis kecil hasil perzinahan sang Ayah dengan rekan kerjanya. Dan yang teramat menyakitkan bagi Raka, adalah ibunya yang telah mengetahui hal itu sejak 10 tahun silam tanpa memberitahu dirinya. Kesempurnaan hormat dan rasa bangga terhadap sang Ayah, mendadak larut bagai pasir tepi pantai yang terhempas gulungan ombak. Ia merasa ditipu. Ia merasa teramat dikhianati, oleh ayah dan ibunya sendiri. - - Cahaya senter mendadak membuat mata Raka silau. Pria itu sontak menghapus air matanya, menghentikan adegan solo drama yang tengah ia lakukan. Ada sekitar 4 orang yang mendekati mobilnya. Dok... Dok... Dok... "Woy buka pintunya!" Pekik seseorang dengan kasar sambil setengah menggebrak kaca jendela mobil milik Raka. Raka lalu membuka pintu dan keluar dengan tenang. Belum saja Raka bicara sepatah katapun, pria di depannya terburu-buru menyemprotnya dengan kalimat-kalimat yang kasar. "Hey, Arjuna Raka yang terhormat! Dasar sok alim lu ya! Mau lu bawa kemana temen gue? Mau lu ajak 'ngedut' ya? Dasar laki otaknya di kelamin lu ya!" ucap seorang pria yang rupanya adalah Andika. Bak melabrak adik kelas yang cari masalah, sebaliknya Andika justru melabrak kakak kelasnya tanpa alasan yang pasti. Raka hanya diam menunggu sampai lelaki flamboyan di hadapannya itu selesai dengan makian untuknya. "Udah selesai ngomong?" tanya Raka santai. Andika mendadak ciut dengan nyalinya akibat sorot mata tajam dari Raka. Ia dan Dini, saat itu tengah berada di bawah pengawalan 2 petugas keamanan yang ia kerahkan untuk proses pencarian Alya. Langkah itu ia tempuh sejak seluruh tempat telah ia jabani untuk mencari sang teman, namun hasilnya nihil. Rupanya, orang yang sejak tadi membuatnya khawatir setengah mati, telah ditemukan di mobil Raka dalam keadaan aman dan utuh. "Pak, temen saya udah ketemu. Makasih ya Pak sudah dibantu," ucap Andika sembari memberi 'salam tempel' kepada 2 orang tersebut dan mempersilahkan mereka pergi. Raka mulai angkat bicara "Dimana mobil kalian? Aku akan gendong Alya ke sana. Dia butuh istirahat," tanya Raka tanpa menjawab tuduhan bertubi yang dilayangkan sang adik kelas kepadanya. Hati Raka pedih mendengar kalimat Andika. Ia memang lelaki tulen yang bisa saja tergoda dengan gadis cantik seperti Alya. Terlebih, Alya seolah telah memasrahkan diri kepadanya dengan kalimat 'minta dibawa pulang'. Namun, kekecewaan yang besar pada kegagalan syahwat sang Ayah terhadap rekan kerjanya 10 tahun silam, membuat Raka terpacu untuk tidak membuat sejarah serupa dalam hidupnya. Malam itu, Raka mendapat sebuah pencerahan tentang prinsip hidupnya. Ia memutuskan untuk tetap menjaga 'kesempurnaan' yang telah ia bangun selama ini. Tak peduli orang tuanya telah berlaku tak sempurna dalam hidup mereka. Ia sadar, ia tetap bisa menjadi versi terbaik dirinya, tanpa risau akan identitas dirinya yang lain. Yang bukan karena kesalahannya, ia mengemban identitas itu. Identitas sebagai anak seorang pejabat pemerintah yang berzinah. Identitas sebagai anak seorang pelaku poligami yang bukan karena syariat agama, melainkan karena korban birahi. Bibir Raka tersenyum kecil, merasa menang atas 'godaan' yang baru saja ia hadapi. Mulai detik ini, ia temukan kembali semangatnya. Semangat untuk kembali membangun identitasnya sendiri. Seluruh buah pikiran itu, terlintas begitu saja setelah tudingan buruk Andika terucap dengan kalimat yang mengiris hati. Ia terus membangun tekad baiknya di sepanjang langkahnya saat membopong Alya menuju mobil Andika. - - Keesokan paginya, di rumah Andika... - -- "Don't wanna wake up alone anymore... Still believing you'll walk through my door. All i need is to know it's for sure, then i'll give... All the love in the world." Translete: "Jangan mau terbangun sendirian lagi... Tetap percaya bahwa kamu akan berjalan melewati pintuku. Segala yang kuinginkan adalah untuk mengetahui secara pasti tentang hal itu, kemudian aku akan memberi... seluruh cinta di dunia." -- - Alya terbangun di pagi hari dengan kondisi badan yang cukup segar. Ia melihat Friska dan Meida masih terpejam di sampingnya. Andika dan Dini rupanya sedang berkreasi di dapur rumah Andika. Mereka tengah melakukan eksperimen memasak sandwich keju yang dipanggang dengan telur mata sapi. Aroma harum makanan itu menyemerbak hingga ke kamar tamu tempat Alya beristirahat. Lagu All The Love In The World yang dinyanyikan The Corrs membawa Alya ke alam sadar setelah semalaman nyenyak dalam tidurnya. Entah siapa yang membawanya dari mobil Raka sampai ke kamar tamu rumah Andika, namun ia yakin tidak ada 'hal buruk' yang terjadi pada dirinya tadi malam. Sekarang adalah waktunya berbenah diri, bersiap untuk pulang ke rumah. Menghadapi sederet kenyataan situasi yang telah terbayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN