13. Perihal Rahasia Hati

1496 Kata
Ting Tung... Notifikasi SMS berbunyi di ponsel Alya. Gadis yang telah siap untuk pulang itu segera mencabut gawaynya dari kabel charger dan mulai membaca pesan yang ia terima. - -- [Mami] : Al, kamu ada 150 ribu nggak ya? Papi mau ke gresik ada janji ketemu rekan bisnis, butuh buat transport dan pegangan Al. Mami lagi nggak ada, kalo kamu ada mami pinjem dulu, nanti gajian mami ganti. -- - Senyum Alya mendadak pudar. Ia menjadi lesu. Tadinya, ia semangat sekali untuk pulang, setelah rentetan tragedi 'what a day!' nya berakhir manis dengan berbagai kesenangan bersama teman-temannya. Setidaknya, ia telah mendapat asupan energi yang baru untuk menghadapi hari-hari yang menantang kedepannya. Namun, belum sempat gadis itu bernafas lega untuk menjalani hidup yang tenang, hal baru yang cukup 'menarik' telah menyambut di depan mata. Uangnya tersisa 165 ribu. 65 ribu sisa fee bulanan mengajar les, dan 100 ribu dari fee manggung bersama Putra. Dengan apa ia harus meniti waktu, jika 150 ribu dari uangnya ia berikan untuk sang Ayah? Huufffttt... Alya membuang nafas kasar. Ia memijit pelipisnya mencari akal. Minggu ini, belum ada kepastian dari Rina - manajer agency, yang biasanya memberi dirinya pekerjaan untuk weekend di supermarket. Sebelum membalas pesan sang ibu, Alya mencoba menghubungi Rina via telepon. "Halo, mbak Rina... Lagi sibuk, Mbak?" "Engga Al, biasa aja. Gimana-gimana?" "Hehehe, itu mbak, kangen aja sama Mbak Rina, kok semingguan nggak nelfon, hehehe," Alya mencoba memberi 'kode' jika ia butuh pekerjaan. "Iya nih Al, lagi belom ada event lagi, kayanya sih minggu depan yah..." Degh ! Alya kecewa. Gayungnya tak bersambut. Padahal, jika ada event di weekend ini, ia merasa cukup dengan 15 ribu sebagai pegangan. Mengingat, fee event selalu dibayarkan cash setiap absen pulang di kantor agency Rina. "Oh... gitu ya mbak, hehehe, yaudah kalo gitu. Nanti kalo ada, meski dadakan, kabarin aja ya Mbak Rin. Aku ready kok," tutup Alya. Tiba-tiba Rina seperti teringat sesuatu. "Al, tunggu deh, kamu itu sering manggung buat kaya nikahan atau band cafe gitu kan ya?" "Iya mbak, kenapa? Ada yang nikah?" "Bukan... itu adikku sekarang kan jadi manajer di Restonya The Sofia Boutique Hotel. Kamu tau kan hotel itu?" "Iya tau Mbak, terus?" "Dia kemarin nyari yang bisa main kibord sama nyanyi buat sabtu minggu besok di Restonya. Buat ngiringin acara dinner gitu," Bak bola lampu yang mendadak nyala setelah mati listrik, Alya sumringah menanggapi permintaan Rina. Ia menawarkan diri untuk mengirimkan portfolio penampilannya saat manggung. Dan singkat cerita, Rina membantu Alya untuk mendapatkan kesempatan itu. Alya, bersama kibordis andalannya yang bernama Vita, akan tampil di acara dinner The Sofia Resto selama 2 hari berturut-turut. - -- [To: Mami] : Iya Mi, aku ada. Nanti di rumah aku kasih Mami aja ya uangnya. Nanti Mami yang kasih ke Papi, biar Papi nggak sungkan. See you :) -- - Sungguh bagaikan sebuah balasan SMS dari seorang anak yang berbakti. Banyak halangan dan rintangan Alya lewati hanya untuk mendapatkan bahan balasan singkat dan menenangkan untuk pesan sang Ibu. Dan di tempat berbeda, di ruang Training Akademi Karyawan sebuah Bank, seorang wanita paruh baya tersenyum lega mendapat jawaban ramah dan solutif dari sang putri. Tenaga pengajar senior untuk para pegawai baru Bank Indonesia Sejahtera (BIS) itu menghela nafas lega. Ia bersyukur memiliki seorang anak yang amat pengertian, tanpa ia ketahui bahwa semuanya itu sedemikian diperjuangkan oleh sang Anak. Indah Utami, adalah salah satu ibu yang merasa sangat beruntung. - -- [To : Alya Putriku] : Terima kasih sayang, Mami sayang Alya. -- - Alya membaca pesan ibunya tanpa membalas lagi. Ia langsung bersibuk ria membahas lagu-lagu yang akan ia bawakan besok, bersama Vita, kibordis yang merupakan salah seorang teman karibnya sejak SMP. Sederet lagu-lagu slow telah direncanakan untuk mengiringi makan malam para aristokrat Surabaya. Alya pulang ke rumah diantar oleh Andika. Setibanya di rumah, gadis itu langsung bergegas ke tempat tinggal Vita dengan berjalan kaki. Beruntung, lokasi rumah mereka berdekatan. Alya tak perlu repot mengisi bensin dan berkendara jauh untuk berlatih demi penampilan manggung terbaik. Mereka berpikir, jika pihak resto menyukai nuansa musik yang sepasang gadis itu bawakan nanti, bisa saja kontrak kerja reguler sebagai home band mereka kantongi. - - Stubborn Music Studio - "Putra... Kesayangan Bunda... Hmmm... Gini kan nyaman jadinya studio kamu, Nak. Ada sofabednya, dan wanginya aroma lavender," komentar seorang wanita modis yang penampilannya tampak 20 tahun lebih muda dari usianya. Ia adalah Erni Rifai. Peragawati kondang pada masanya, yang kini telah beralih status menjadi istri walikota. Wanita itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan studio musik yang ia buat untuk anak tunggalnya. Menikmati wewangian favoritnya sembari duduk di atas sofa abu-abu. "Bunda kapan datang?" tanya sang pemuda menyambut dengan senyum merekah sembari mencium punggung tangan sang ibu dengan takzim. Erni mencium kedua pipi sang anak dengan penuh rasa rindu. "Baru aja. Ayah lagi nggak terlalu sibuk jadwalnya, dan hari minggu katanya mau ada acara ketemuan sama temen-temen SMA nya buat bahas rencana reuni akbar bulan depan," jawab wanita itu dengan kalimat tertata khas ibu pejabat. Cara duduknya pun masih sama seperti saat ia aktif di dunia model tempo dulu. Siapa yang tak kenal sosok Ernie Rifai. Pada jamannya, perempuan yang bisa dikenal sebagai peragawati, hanya segelintir saja. Tentu sosok tersebut adalah sosok yang tenar, supel, dan jelita. Begitulah masa lalu ibu dari Abhivandya Putra Nenggala. Sikap luwes dan ketampanan Putra, banyak yang menyebut karena 80% dirinya sangat mirip dengan sang ibu. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, anak seorang seniman, menuruni jiwa seni yang kental juga, seperti yang dimiliki Putra. - - Di Rumah Vita... - "Udah nih ya, Vit. Aku kirim email ke Pak Dirga dulu list lagu yang mau kita bawain besok. Semoga dia cepet respon," ucap Alya memastikan. Ia dan Vita telah menyusun daftar lagu yang rencananya akan mereka mainkan di Resto The Sofia Boutique Hotel. Tak lama email balasan yang dinanti-nantipun masuk. - -- [From : dirga.mgr@sofiahotel.com] Dear Alya (classy music), Terima kasih atas kiriman list lagu yang akan dibawakan. Saya sudah terima dengan baik. Masukan saya hanya satu, mohon lagu barat dan indonesia dapat dibuat selang-seling agar menjangkau perhatian dan selera semua tamu serta tidak membosankan. Terima kasih. Regards, Dirga Anugrah The Sofia Boutique Hotel Resto Manager -- - "Yes! List lagu kita approved, Vita," celoteh Alya girang. "Kita cuma butuh selang-seling aja antara western dan indo nya, it's not a big deal. Yuk kita latihan dan catat nada-nada dasarnya!" ajak Alya pada Vita, sang kibordis andalan yang telah ia kenal baik sejak SMP. Pertama kali Alya berteman dekat dengan Vita adalah pada suatu hari dimana Alya diminta guru untuk menyanyikan lagu-lagu wajib saat upacara bendera di sekolah, dengan Vita sebagai pemain organ pengiring dirinya. Sejak itu, mereka pun sering terlibat project musik sekolah maupun band di luar kegiatan siswa. - - Stubborn Music Studio - "Kamu nanti hari minggu ikut ya Put, ke acara persiapan reuni Ayah. Bunda ikut juga kok," ujar Erni pada anak tunggal kesayangannya. "Bun, itu kan acara orang-orang tua, masa aku ikutan sih?" keluh sang anak. "Bunda pengen kamu nyanyi di acara itu, duet sama Marsha, siapa tau pas acara reuni nya, band kalian yang kepilih buat tampil. Kan Bunda bangga jadinya." Erni menjawab dengan terus terang. Disusul hela nafas kasar dari Putra. Putra tidak pernah bisa berkata tidak jika sang Ibu yang meminta. Pasalnya, ia segan berurusan dengan ibunya terkait hal bantah-membantah amanah. Ia berat untuk kehilangan fasilitas yang dimilikinya selama ini. Studio musik pribadi, mobil, kartu kredit platinum, dan uang saku bulanan yang sudah setara karyawan lulusan sarjana di perusahaan besar. Ia dan Marsha memiliki nasib yang sama. Marsha sebenarnya tidak terlalu suka dengan 'anak gaul' seperti Putra. Mereka akhirnya memutuskan berpacaran setelah sama-sama lelah menjalani hubungan backstreet alias 'sembunyi-sembunyi' dengan partner 'friendzone' masing-masing. Bagi mereka, hubungan yang disetujui kedua orang tua akan memperlancar operasional pacaran, tentunya 'sponsor' juga makin mudah didapatkan. Meski nyatanya, di dalam hati mereka masing-masing, masih terpendam nama-nama seseorang lain yang selalu membayang di khayalan. "Oke Bundaku yang paling cantik. Aku dan Marsha akan berduet di acara Ayah. Nanti aku bilang Marsha. Lagunya terserah aku ya Bun, Please..." rengek Putra pada sang Ibu yang mulai tersenyum senang. Akhirnya, rencana Ernie Rifai untuk show off kebolehan dari anak dan calon mantunya akan terlaksana. "Boleeehh sayang. Bunda titip satu aja. Lagunya yang romantis ya," Putra langsung memeluk sang Ibu. Ia memang sangat sayang pada ibunya, meski seringkali melakukan amanat beliau dengan terpaksa. Dan kali ini, ada seringai senyum di bibir Putra. Sepertinya, ada sesuatu yang ingin pria itu minta pada sang Ibu. Berbekal menuruti permintaan Erni, Putra pun ingin menuntut balas atas kepatuhannya. *** Author's Note: Hai, maaf ya lama banget baru update :) Aku lagi sibuk banget ngerjain orderan T-Shirt kejar tayang dgn aneka custom design dan personalized packaging buat hadiah dll. Btw, gimana episode kali ini? Suka nggak? Menurut kalian, 'rahasia hati' apa sih yang sering banget kalian lakuin ke orang terdekat? Seperti Alya yang padahal susah banget cari duit tapi nampak mudah di depan mami, atau seperti Putra yang nampak patuh di depan bunda padahal ada niat terselubung? Cerita dong :)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN