bc

Eternally

book_age16+
22
IKUTI
1K
BACA
second chance
friends to lovers
drama
bxg
city
office/work place
first love
friendship
tricky
stubborn
like
intro-logo
Uraian

Qirani melarikan diri dari kota yang telah memberinya luka pengkhianatan. Dia meninggalkan semua kisah di kota itu dan memulai kehidupan baru di kota yang baru selama empat tahun setelah lulus kuliah. Dia sudah memutuskan tidak akan kembali ke kota itu jika lukanya belum sembuh.

Namun, waktu dan takdir berkehendak lain. Sejauh apapun dia berusaha melarikan diri, pada akhirnya Qirani tahu bahwa dia akan kembali terseret dalam tragedi di masa lalu itu.

Dia sudah terbiasa hidup sendiri, tapi seorang laki-laki bernama Aksara tidak membiarkannya hidup sendiri dengan tenang. Aksara menjebaknya, mengikatnya dan menariknya kembali ke masa lalu. Dia membuat Qirani menghadapi banyak kenyataan yang tidak ingin dihadapinya.

Semua semakin menjadi rumit untuk Qirani setelah Aksara mengetahui identitasnya sebagai seorang penulis di perusahaan tempatnya bekerja. Aksara semakin tidak melepaskannya dan terus mengganggunya.

Hingga suatu ketika, Aksara memberitahunya bahwa ada banyak hal yang tidak diketahui Qirani setelah kepergiannya ke kota lain. Terutama fakta tersembunyi yang terkuak dibalik tragedi empat tahun lalu yang membuat Qirani mengasingkan diri.

Setelah mengetahui satu persatu kebenaran yang tersembunyi itu, mendadak Qirani tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak ingin kembali dalam hubungan masa lalunya, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa dia merindukan kenangan itu.

Bahkan Qirani sempat memiliki keinginan untuk pergi melarikan diri lagi, tapi apakah selamanya dia harus melarikan diri seperti itu? Tidak bisakah dia menerima kenyataannya? Dalam kebimbangan itu, Qirani menemukan satu alasan kenapa dia harus tinggal dan menghadapi kenyataan.

chap-preview
Pratinjau gratis
Mereka Kembali
Akan jadi sangat menyenangkan jika hingar-bingar disekitarnya ini bertahan sepanjang malam. Lampu-lampu yang berpendar ke seluruh penjuru ruangan dan dentuman musik yang terus terdengar akan membuat tempat ini menjadi tempat yang cocok untuk membuang masalah.           Lantai dansa dihadapannya telah dipenuhi oleh manusia-manusia yang haus akan kebahagiaan dunia. Para bartender juga tidak membiarkan tangannya berhenti bekerja, terus bergerak untuk meracik minuman dengan cita rasa yang berkualitas tinggi. Begitu memabukkan.           Qirani menyambar gelas minumannya, dia menatap ke arah sekitar. Terlalu berisik, namun dia menyukainya. Diseretnya langkah kaki menuju lantai dansa yang sudah semakin tidak memiliki celah baginya untuk menari. Begitu sampai hampir di tengah-tengah ruangan itu, Qirani mengedarkan pandangannya kembali. Dia berniat mencari seseorang yang tadi datang bersamanya, tapi sialnya orang itu tidak ada ditengah-tengah manusia ini.           Hingar-bingar disekitarnya masih terdengar begitu memekakkan telinga. Qirani bisa mendengar suara dentuman musik yang tidak pernah berhenti, beberapa orang disekitarnya tertawa sembari menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama musik. Bau minuman dan bau tubuh dari orang-orang ini mengusik indra penciumannya, membuat Qirani sempat mengernyit tidak nyaman. Namun setelah itu dia mengabaikannya.           Dia tidak lagi perduli jika orang yang tadi datang bersamanya itu, tidak dapat dia temukan. Untuk apa memikirkan orang lain? Lagipula orang itu mungkin tengah bercengkarama atau berkenalan dengan orang-orang baru, seperti biasanya.           Qirani mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama musik yang terus berdentum ke seluruh penjuru ruangan. Dia mulai menikmati tempat ini. Aromanya, keberisikannya, dan orang-orang asing ini, Qirani merasa cukup nyaman. Cukup untuk mengalihkan pikirannya.           Ketika dia mulai menikmati suasana hingar-bingar ini, tiba-tiba seseorang mencengkeram pergelangan tangannya, membuat Qirani menoleh dan hampir menjatuhkan gelas ditangannya. Dia mengernyit menatap pria yang tingginya sejajar dengannya itu. Pria itu menyeringai, dia meneriakkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh Qirani karena suara dentuman musik yang lebih terdengar mendominasi indra pendengarannya.           Qirani mengerutkan dahinya, dia tidak merasa mengenal laki-laki ini. Tapi sepertinya pria itu mengenalnya. Qirani berteriak menanyakan siapa laki-laki itu, “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”           Laki-laki itu kembali menyeringai lalu meneriakkan kalimat yang ingin diucapkannya. Kali ini Qirani bisa mendengarnya.           “Ini gue Gentala. Lo Qirani, kan?” Pria itu mencondongkan tubuhnya pada Qirani agar dia bisa mendengarnya. Hingar-bingar disekitar mereka masih terdengar, tapi Qirani juga bisa mendengar dengan jelas ketika pria itu mengenalkan dirinya.           Gentala? Siapa Gentala? Apa dia pernah bertemu atau kenal dengan seseorang bernama Gentala? Nama ini terdengar tidak asing, tapi dia tidak bisa mengingat siapapun.           “Lo bener-bener punya ingatan yang rendah, Ran!” Pria yang mengaku bernama Gentala itu menarik pergelangan tangan Qirani dan membawanya ke meja counter yang tidak terlihat begitu ramai. Setelah merasa cukup tenang dari sebelumnya, Gentala kembali membuka mulutnya.           “Cuma 4 tahun lamanya kita gak ketemu, tapi lo udah lupain gue gitu aja. Tega lu, sialan!”           Belum apa-apa, tapi laki-laki itu sudah memakinya. Qirani memutar bola matanya lalu berujar setelah sekian lama terdiam, “Lo bukannya udah mati, ya?”           Sialan! Gadis itu tidak pernah berubah, masih saja sembarangan jika mengatakan sesuatu. Gentala mendengus kasar, “Gue gak berniat mati sebelum nikah!”           Mereka sudah duduk di kursi meja counter. Gentala memanggil bartender dan memesan minuman yang ingin diminumnya. Lalu dia kembali memfokuskan pandangannya pada gadis yang duduk disebelahnya. Dia menatap Qirani dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat gadis itu menyipitkan matanya kesal.           “Jangan liat gue pakek mata jorok lo itu! Tutup mata lo!” bentaknya.           Namun Gentala justru tertawa ringan, “Hahaha... gue cuma gak nyangka aja. Ini beneran lo kan, Ran? Lo berubah banget sumpah!”           “Maksud lo?”           Apa itu perlu dipertanyakan? Melihat penampilan gadis ini sekarang, Gentala bisa dapat dengan mudah menyimpulkan perubahan yang dilihatnya pada Qirani.           “Lo kelihatan lebih cantik daripada 4 tahun yang lalu.” Perkatannya itu sukses membuat Qirani semakin mendengus kesal.           “Lo juga sama,” ujar Qirani tiba-tiba. Matanya menelisik penampilan laki-laki disampingnya ini lalu kembali melanjutkan ucapannya, “Masih keliatan cupu!”           “Sialan lo!” Gentala hampir ingin melempar gelas ditangannya, tapi urung karena takut gadis itu akan mati dan dia akan masuk penjara. Kan jadi ribet urusannya.           Qirani menyesap minumannya, kembali mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Dia menyadari bahwa semakin larut malam, maka tempat ini akan semakin dipenuhi oleh manusia-manusia yang tengah mencari kepuasan tersendiri. Semakin ramai, tapi dia merasa masih terlalu sepi.           Gentala kembali mengajaknya bicara. Dia bertanya, “Lo dateng sendirian?”           Qirani mengalihkan pandangannya dan menggeleng, “Bareng temen tadi, tapi entah sekarang dia dimana. Mojok kali!”           Mendengar itu, Gentala tertawa pelan. Dia menyesap minumannya sejenak sebelum akhirnya Qirani membuka mulutnya untuk bertanya.           “Lo sendiri? Dateng sama siapa?”           “Kenapa tanya?” tanya Gentala balik.           Kalau boleh jujur, sebenarnya Qirani hanya ingin berbasa-basi saja dengan pemuda itu. Setelah empat tahun lebih mereka tidak bertemu, rasanya pertemuan tiba-tiba ini terasa sangat canggung. Tapi karena Qirani yang memang tidak suka memikirkan banyak hal, terutama soal ucapannya, dia berkata dengan jujur.           “Basa-basi doang sih.”           “.........” Gentala tiba-tiba merasa ingin menarik ucapannya tentang Qirani yang berubah banyak. Hanya penampilannya saja yang berubah, tapi sifatnya tidak berubah. Terlalu acuh dan menyebalkan, tidak lupa paket komplit dengan mulut pedasnya.           Dentuman musik terdengar semakin keras. Hingar-bingar ini tidak akan berakhir dengan cepat. Meski tidak akan bertahan sepanjang malam, setidaknya cukup membuat lautan manusia di tempat ini merasa puas.           Setelah beberapa lama terdiam, Gentala tiba-tiba kembali bersuara, “Gue dateng bareng Aksara.”           “.......”           Oh, Aksara. Mendengar itu, tanpa disadarinya Qirani mengepalkan tangannya. Sudah empat tahun lebih dia tidak mendengar nama Aksara disebut, dan sekarang dia kembali mendengarnya. Ah, sial! Dia lupa bahwa Aksara selalu mengikuti kemanapun Gentala pergi. Jadi bukan hal yang aneh jika laki-laki itu akan mengikuti Gentala ke tempat ini.           Qirani menormalkan kembali raut wajahnya yang tadi sempet membeku mendengar nama Aksara disebut. Dia kembali berujar dengan suara acuh tak acuhnya, “Oh. Dia masih hidup ternyata.”           Gentala menyipitkan matanya dan menggelengkan kepala, “Apa lo berharap semua orang yang lo temuin di masa lalu mati di masa sekarang?”           Tanpa berpikir panjang Qirani menjawab, “Mungkin.”           Kalau saja, Qirani bukan seorang gadis yang sudah dikenalnya begitu lama, mungkin Gentala akan merasakan uap di kepalanya mengepul karena kesal. Tapi dia hanya mendengus pasrah dan memutar bola matanya.           “Selama empat tahun ini, kemana aja lo? Kita semua gak pernah liat lo di sekitar kota ini.” Gentala memainkan gelas ditangannya sembari menatap Qirani yang tidak menatapnya.           Mungkin jika ‘kita’ yang dimaksud Gentala adalah orang-orang di masa lalunya itu, maka Qirani lebih memilih tidak mengatakan apapun. Dia tidak lagi ingin bersinggungan dengan orang-orang itu.           “Kalo ada waktu, kita selalu kumpul buat ngobrol. Dan tiap kali kumpul, kita selalu ngomongin lo,” tukas Gentala.           Qirani menyeringai kecil, “Kalian gosipin gue? Gak berfaedah banget hidup kalian.”           Mendengar itu, Gentala menghembuskan napasnya kasar. Suaranya melembut, “Bukan gitu. Kita cuma pengen tahu perkembangan kabar dari lo. Meski nyatanya selama empat tahun ini, kita gak dapet banyak kabar tentang lo. Selain satu kabar tersebar kalo lo pergi ke luar kota.”           Memangnya untuk apa mereka mencari kabarnya? Kenapa mereka repot-repot mengusik kehidupannya? Bukankah sudah cukup untuk semua hal yang terjadi hari itu? Qirani tiba-tiba merasa hingar-bingar disekitarnya terdengar sedikit menganggu.           Gentala kembali melanjutkan, “Tapi siapa sangka kalo lo udah balik ke kota ini, dan kita bisa ketemu. Dengan perubahan lo ini, temen-temen yang lainnya bakal kaget kalo liat lo.”           Tidak, Qirani harus pergi sekarang. Terlalu berisik, dia tidak ingin mendengar apapun lagi dan tidak ingin bertemu siapapun. Qirani menghentakkan gelasnya ke atas meja counter dengan pandangannya yang tiba-tiba mengabur. Kepalanya sedikit terasa pusing, tapi Qirani memaksakan diri untuk bangkit dan segera keluar dari tempat ini. Sebelum pergi, dia menatap Gentala dan berkata dengan suara yang terkesan datar dan dingin.           “Gentala,” panggilnya. Laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang sama seperti empat tahun lalu. Tatapan teduh dan penuh keantusiasan. Qirani menarik napasnya dan kembali melanjutkan, “Anggap pertemuan kita gak pernah terjadi. Anggep aja lo gak pernah ketemu gue, dan gue gak ada di kota ini.”           “.......”           Melihat Gentala yang tidak mengatakan apapun, Qirani memutar tubuhnya dan melangkah pergi. Persetan dengan orang yang tadi datang bersamanya! Dia bisa pulang sendiri dan akan memberi kabar nanti setelah sampai di rumah. Yang harus dia lakukan sekarang adalah pergi secepatnya dari tempat yang tidak lagi memberikannya kenyamanan itu.           Dihiraukannya panggilan akrab dari Gentala. Dia terus melangkahkan kakinya menjauh dari tempat itu. Qirani datang ke tempat ini dengan mobil orang itu, tapi sekarang dia harus pergi sendiri. Tapi dia tidak ingin naik taksi, jadi Qirani melangkahkan kakinya tanpa henti hingga sampai di halte bus yang sepi.           Ini sudah hampir tengah malam, apa masih ada bus yang akan lewat? Terserahlah! Meski tidak ada satu pun bus yang akan lewat, dia akan berjalan kaki sampai ke apartemennya.           Qirani mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Jalanan terlihat begitu sepi, hanya beberapa mobil yang melintas dihadapannya. Udara dingin malam menusuk hingga menembus pakaiannya, tapi Qirani justru tidak merasakan apapun. Tanpa alasan yang jelas, dia merasa bahwa tubuhnya mati rasa.           Disenderkannya kepalanya di kursi halte bus itu. Matanya menerawang jauh ke arah jalanan yang gelap. Tiba-tiba sebuah pertanyaan melintas di kepalanya. Dia sudah sejauh ini, kenapa dia harus kembali? Kenapa dia harus menuruti keinginan ibunya sehingga membuat dia harus menapaki kaki di kota ini lagi?           Qirani melempar kepalanya ke belakang hingga membentur dinding halte beberapa kali. Dia merutuki dirinya sendiri. Kesal karena setelah sekian lama dia masih tidak bisa mengendalikan dirinya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Qirani bisa melihat sebuah bus melaju ke arahnya. Dia menyeringai kecil melihat betapa beruntungnya dia hari ini, di jam seperti ini masih ada satu bus yang lewat. Ketika bus itu berhenti tepat dihadapannya, Qirani menyeret tubuhnya yang berat dan melangkah masuk. Hari semakin larut, dan dia harus kembali melupakan banyak hal.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook