Laki-laki Bermata Cokelat

1560 Kata
Meski keinginannya untuk pergi menjauh dari kota ini begitu kuat, tapi ada beberapa alasan yang membuat Qirani harus kembali ke kota ini. Setelah sekian lama dia berusaha mengenyahkan nama kota ini dalam pikirannya, pada akhirnya dia kembali ke kota ini secara cuma-cuma. Dia merasa empat tahun yang telah dilewatinya untuk meninggalkan semuanya berakhir dengan sia-sia. Tapi dia bisa apa, selain tetap berusaha menjalani kehidupan normalnya dan berharap tidak pernah bertemu dengan orang-orang itu.           Sebenarnya dia sudah berhasil melewati kehidupan normalnya tanpa bertemu orang-orang itu selama satu tahun terakhir ini. Tapi sialnya, beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Gentala, salah satu orang yang ingin dihindarinya. Siapa yang bisa menduga hal itu akan terjadi? Jika Qirani bisa memutar waktu, dia tidak akan mendatangi bar itu dan berakhir bertemu dengan Gentala. Jadi dia tidak perlu repot-repot berpura-pura tidak terjadi apapun, dan menganggap semuanya baik-baik saja. Padahal tidak sama sekali.           Terserahlah! Lagipula itu hanya kebetulan saja. Qirani berharap setelah ini, dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang-orang itu. Kota ini begitu luas, kenapa juga mereka harus bertemu? Mereka tidak akan sebosan itu untuk mencari tahu keberadaannya bukan? Gentala pasti akan mengikuti ucapannya dan melupakan pertemuan mereka.           Qirani menghela napasnya, dia membenarkan letak topi berwarna hitam yang dikenakannya. Dia kembali dikelilingi oleh hiruk-pikuk disekelilingnya. Namun kali ini sedikit lebih sepi dari club yang beberapa hari lalu dikunjunginya. Jika beberapa hari yang lalu dia berada di sebuah club, maka malam ini Qirani berada di sebuah cafe.           Forest Cafe merupakan salah satu cafe yang selalu ramai dan cukup dikunjungi banyak orang. Desain cafe ini cukup unik. Sesuai namanya, cafe ini dipenuhi tenaman-tanaman hijau yang menyejukkan mata. Meja dan kursi ditata rapi, dinding-dinding berwarna cokelat caramel menjadi pemanis desain cafe itu. Ada panggung kecil di salah satu sudut cafe, menambah kesan estetik dan menyenangkan. Aroma kopi, teh, dan dessert menyeruak menyebar ke seluruh penjuru cafe.           Qirani mengernyit, aromanya terlalu manis dan dia tidak menyukainya. Tapi dia tidak bisa pergi dari tempat ini, jadi Qirani mengalihkan pikirannya dengan  menghampiri meja counter dan memesan minuman. Setelah menunggu beberapa saat, dia mendapatkan minumannya. Itu adalah es americano yang terlihat pahit. Tidak perduli fakta bahwa kafein akan membuatnya terjaga sepanjang malam, Qirani tetap meminumnya.           Bunyi dentingan lonceng pintu berkali-kali terdengar. Orang-orang semakin banyak masuk dan memenuhi meja cafe dalam sekejap. Qirani melirik arlojinya, 10 menit lagi mereka akan tampil. Diletakkannya cup minuman ke atas meja counter, lalu dia beralih mendekati tiga orang dibelakang panggung.           Salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang lebih tinggi darinya, menyapanya, “Gue pikir lo gak bakal dateng.”           Dengan wajah malasnya Qirani menyahut, “Kalian tanpa gue? Gak bakal meriah.”           Terdengar dengusan dan cibiran dari ketiga orang itu. Seorang gadis lain diantara mereka merangkul pundak Qirani sembari bertanya, “Jadi, berapa bayaran kita kali ini?”           Laki-laki tinggi itu menjawab, “Gak banyak, kayak biasanya.” Dia terdiam sejenak, kemudian seperti menyadari sesuatu, dia kembali berbicara, “Ah, iya. Pemilik cafe ngajuin kontrak buat band kita.”           Mendengar itu, Qirani mengernyit, “Kontrak? Berapa lama?”           “Mmn... tiga bulan,” jawab laki-laki itu.           Tidak biasanya band yang telah menguasai banyak panggung cafe itu, ditawari sebuah kontrak dengan jangka waktu yang cukup panjang. Biasanya mereka hanya mendapat tawaran kontrak seminggu dan paling lama sebulan. Baru kali ini band mereka mendapat kontrak tampil untuk 3 bulan.           “Itu bagus. Kalo gini kan kita gak perlu ber-nomaden kesana-kemari buat nyari cafe baru. Kita bisa stay dan dapet bayaran selama 3 bulan penuh!” Zoya, gadis berwajah cantik itu mengibaskan rambutnya ke belakang dengan anggun.           “Nomaden? Lo kira kita manusia purba, pakek disebut nomaden segala lagi!” Nevan mencibir pelan.           Kali ini Qirani ikut menyahuti, “Ya kalo bukan nomaden, apalagi namanya? Kita kan emang berpindah-pindah, maen cafe sana-sini tiap harinya.”           “Salah siapa sapa coba?” Zoya mencoba mengompori pembicaraan mereka.           Dengan mulut pedasnya, Qirani dengan santai menjawab, “Noh! Yang Mulia Jasver, dengan segala hormat kami melimpahkan semua kesialan ini padamu!”           Segera setelahnya, jitakan keras melayang ke arah kepala Nevan, membuat laki-laki manis itu memaki kesal, “Eh sialan! Yang ngomong Qirani, kenapa malah gue yang lo jitak?!”           Laki-laki tinggi yang dipanggil Jesvar itu mengedikkan bahunya, “Qirani cewek, kasian kalo maen jitak. Apalagi otaknya lebih berharga dari otak lo. Emangnya otak lo, murahan!”           “........” Demi dewa-dewi di sinetron India yang selalu bundanya tonton, Nevan merasa kali ini dia memang tidak pernah benar-benar dibutuhkan di grub bandnya ini. Apa dia harus keluar dari grub bandnya? Tapi siapa yang akan menampung gelandangan miskin seperti dirinya? Bundanya saja acuh tak acuh, apalagi orang lain.           Nevan mengubah ekspresi wajahnya sedikit lebih sedih, tapi justru semakin terlihat menyebalkan. Dengan suara yang dibuat sedih, dia berkata, “Kalian emang pada kenyataannya gak perduli sama gue kan? Kalian cuma kasian, makanya mungutin gue buat gabung di band kalian.”           Jasver dengan cepat menyambar, “Sadar lo?! Lah emang iya!”           Dan suara kedua gadis di hadapannya juga terdengar secara bersamaan, “Konyol!” setelahnya, mereka pergi menyiapkan penampilan band mereka, meninggalkan Nevan yang merengut sendirian.           “Woy elah! Gini-gini gue juga dibutuhin!”           Semua persiapan sudah dilakukan, tinggal menunggu aba-aba dari sang leader untuk memulai penampilan mereka. Qirani semakin menarik turun topi hitam yang dikenakannya, sengaja membuat wajahnya sedikit tertutupi. Dalam bandnya ini, posisi Qirani adalah seorang drummer. Sebenarnya dia tidak benar-benar handal memainkan drum, tapi Jasver selaku leader band terus mengajarinya hingga Qirani mampu memainkan drum dengan baik.           Saat pertama kali Qirani kembali ke kota ini, hal pertama yang dia pikirkan adalah mencari pekerjaan. Usianya sudah cukup dewasa untuk bertanggung jawab atas kebutuhannya sendiri. Namun dia tidak pernah menyangka bahwa mencari pekerjaan akan sesulit dari yang dikiranya. Qirani berkeliling mencari pekerjaan di setiap tempat yang membuka lowongan pekerjaan. Meski dia adalah mahasiswa lulusan prodi ekonomi, Qirani tidak benar-benar ingin bekerja di bidang ekonomi dan keuangan.           Jadi saat dia tidak sengaja bertemu Jasver yang waktu itu tengah mengumpulkan anggota personil untuk grub bandnya, tanpa berpikir panjang Qirani mendaftarkan dirinya. Dia berkenalan dengan Nevan dan Zoya yang juga mendaftarkan diri mereka. Karena suara Zoya sangat unik dan bagus, maka dia ditempatkan sebagai vokalis untuk band mereka. Sedangkan Jasver mengambil bagian gitaris, dan Nevan sebagai bassis. Sisanya adalah Qirani sebagai drummer.           Terjun di dunia musik dan menggeluti alat musik yang dikuasainya, sempat membuat Qirani tidak percaya diri. Namun seiring berjalannya waktu, ketiga orang itu meyakinkannya dan membuatnya menjadi Qirani yang berbeda dari sebelumnya. Kadang Qirani merasa bahwa mereka memang sudah ditakdirkan untuk bertemu dan membentuk sebuah band, karena tiba-tiba saja mereka dipertemukan dengan mudah. Meski mungkin Qirani tidak begitu tahu seperti apa perjuangan Jasver membentuk grub bandnya waktu itu.           Mengingat semua itu membuat Qirani merasa bahwa dunia benar-benar sudah mengubah dirinya. Dia seperti patung setengah jadi yang hendak diukir kembali, tapi akhirnya sang pengukir justru membuat bentuk ukiran baru pada patung itu. Mengubahnya hingga menciptakan bentuk baru dan sifat yang baru.           Suara Zoya terdengar menggema ke seluruh penjuru cafe, menariknya kembali dari lamunannya. Qirani menatap gadis yang satu tahun lebih muda darinya itu. Untaian rambutnya bergerak pelan, menciptakan kesan cantik yang begitu memikat.           “Selamat malam semuanya. Hari ini, kami akan membawakan sebuah lagu yang cukup energik. Sudahi galau kalian dan mari bersenang-senang bersama kami.” Suaranya terdengar begitu jernih dan bersahabat, membuat penonton bersorak senang.           Qirani memegang stik drumnya dan bersiap bermain. Begitu suara gitar dari Jasver terdengar, dia segera menggerakkan tangannya dan menyelaraskan irama musik mereka. Suara alat musik mengalihkan perhatian orang-orang di dalam cafe. Qirani bisa melihat dari sudut matanya banyak orang yang bersorak dan menikmati permainan musik mereka. Diam-diam Qirani merasa bersyukur karena penampilan mereka sepertinya akan berjalan lancar.           Tidak seperti berada di club dengan dentuman musik yang memekakkan telinga, bermain musik dengan alat musik terdengar jauh lebih lembut dan menyenangkan. Mungkin karena club diciptakan untuk bersenang-senang dengan cara yang lebih ekstrem.           Qirani memusatkan perhatiannya pada drum yang tengah dikuasainya. Sejak bergabung dengan band ini, dia terkadang mendengar sedikit berita tentang band mereka yang membawa namanya. Selain Zoya yang memiliki suara jernih dan wajah cantiknya, Qirani kerap kali dibicarakan karena penampilannya yang terlalu tertutup.           Itu memang benar. Lagipula siapa juga yang akan tampil dengan baju oversize dan tidak lupa topi hitam yang selalu bertengger di atas kepalanya itu. Hanya Qirani yang berani memakai tampilan seperti itu. Ketika semua orang mengelu-ngelukan betapa tampannya sang gitaris, betapa manisnya sang bassis, dan betapa cantiknya sang vokalis, Qirani justru mendapat label ‘Terlalu Tertutup’. Persetan dengan semua itu! Lagipula dia tidak terlalu memikirkannya, biarkan saja sesuka mereka berbicara.           Satu lagu telah selesai dimainkan. Penonton bersorak-sorak meminta tambahan lagu. Zoya langsung menanggapi dengan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajahnya.           “Tenang saja, kami masih punya satu lagu untuk kalian.” Dia memainkan microfon di tangannya sebelum akhirnya kembali berkata, “Lagu ini dipersembahkan untuk kalian yang ingin melupakan masa lalu dan untuk kalian yang ingin hidup bahagia.”           Gema musik kembali terdengar, lagu kedua telah dimainkan. Mereka kembali memfokuskan diri, menikmati sorak-sorai penonton yang semakin membuat darah mendidih dan semangat membakar jiwa mereka. Ini adalah kali pertamanya bagi Qirani merasakan hawa menakjubkan dari penonton. Dia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan kecil, tersenyum kecil melihat wajah-wajah penonton dihadapannya.           Tepat setelah lagu kedua selesai dimainkan, pandangan Qirani membeku di pintu cafe dan stik drum yang dipegangnya terlepas. Tiba-tiba perasaan terkejut, takut, marah, dan lega menguasai pikirannya. Seseorang berdiri di ambang pintu dengan mata yang menyorot tajam padanya. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN