Aksara

1187 Kata
Mata cokelat itu, pandangan itu, wajah itu, tidak akan pernah bisa dia lupakan. Pandangan Qirani dan orang yang berdiri diambang pintu bertemu, mereka saling menatap dalam diam. Saat ini Qirani tidak lagi mendengar suara-suara disekitarnya. Telinganya tuli dan hatinya terasa membeku. Qirani mengepalkan tangannya ketika menatap orang itu.           Orang itu adalah Aksara. Laki-laki yang tidak pernah ingin ditemuinya lagi. Melihatnya saat ini berada didepannya dengan jarak yang tidak begitu jauh, membuat Qirani merasa sesak tanpa alasan. Dia adalah orang pertama yang memutuskan kontak mata mereka. Qirani menunduk, memungut stik drumnya yang terjatuh, lalu tangannya beralih menurunkan topinya yang sedikit terangkat, semakin membuat wajahnya tidak terlihat. Dia menunduk, menatap tangannya yang bergetar tanpa alasan.           Saat ini, yang ingin dilakukan Qirani hanyalah cepat pergi dari tempat ini dan terus merapalkan doa dalam hati bahwa semoga laki-laki yang dilihatnya tadi bukanlah Aksara, atau semoga laki-laki itu tidak mengenalinya.           Tapi harapan tidak selamanya terkabul. Laki-laki yang sekarang duduk di salah satu meja itu memang Aksara. Laki-laki itu datang bersama Gentala yang saat ini tengah berbicara dengan waiters cafe dan memesan minuman.           Qirani menahan napasnya. Tidak, ini bukan saatnya bagi dirinya untuk menunjukkan sisi menyedihkannya. Dia harus berpura-pura tidak terjadi apapun, dan semua baik-baik saja. Setelah bertarung dengan pikirannya sendiri, akhirnya Qirani mengangkat wajahnya dan memasang ekspresi dinginnya.           Suara Zoya yang mengucapkan kata terima kasih dan sampai jumpa, menyadarkan Qirani untuk segera mengikuti teman bandnya turun panggung. Nevan yang masih tersenyum puas karena penampilan mereka, membuka pembicaraan.           “Gue bener-bener gak nyangka, penontonnya seantusias itu. Wah latihan gue selama ini terbayar lunas!” Dia menepuk tangannya didadanya, tepat sebelum Jasver yang berdiri dibelakangnya menjitaknya.           “Setahu gue, seminggu terakhir ini lo gak ada latian. Ngebucin mulu kerjaannya,” cibirnya.           “Ya, namanya orang lagi kesemsem, wajar aja ngebucin. Emang lo, jomblo mulu dari lahir. Percuma ganteng kalo jomblo.”           Kali ini Zoya angkat bicara, “Percuma punya pacar kalau kuliah aja gak lulus. Punya otak tuh dipakek bukan disumbangin ke kebun binatang!”           “..........”           “Ppfftt....” tadinya Qirani tidak ingin menanggapi pembicaraan teman-temannya karena pikirannya masih teralihkan oleh laki-laki itu. Tapi begitu dia mendengar ejekan yang dilayangkan untuk Nevan, Qirani tidak bisa menahan tawanya.           Pemuda yang jadi sasaran sindiran itu mencebik kesal. Dia memungut tas ransel yang terletak dibelakang panggung lalu berniat pulang saja. Sebelum benar-benar pergi, dia berkata sinis.           “Percuma punya temen, kalo bikin gedeg tiap hari!”           Dengan serempak, Jasver dan Zoya menjawab, “Ya udah minggat aja lo sana!”           Qirani tidak tahu harus tertawa atau bagaimana. Melihat interaksi teman-temannya yang tidak pernah berubah setiap harinya, membuat suasana hati Qirani sedikit terhibur. Mungkin benar, saat ini Aksara dan Gentala berada di cafe yang sama dengannya. Lalu kenapa? Lambat laun mereka akan bertemu, meski Qirani berharap dia tidak akan pernah melihat wajah orang-orang itu lagi.           Qirani menghembuskan napasnya pelan, tindakannya itu tidak luput dari perhatian Jesvar. Pemuda jangkung itu mengerutkan keningnya dan bertanya, “Kenapa lo?”           Qirani mengangkat kepalanya dan menggeleng, “Gak papa. Napas aja, kalo gak napas kan ntar gue mati.”           “.......” Jesvar bertanya karena khawatir melihat wajah Qirani yang terlihat lelah, tapi gadis itu menjawab dengan jawaban asalnya. Kalau sudah begini, berarti Qirani masih waras-waras saja.           “Gue pulang duluan ya, ada beberapa hal yang harus gue urus.” Qirani menyambar tas ranselnya dan berpamitan, berniat pulang lebih cepat.           Zoya yang masih mengemas barang-barangnya, mencibir pelan, “Sibuk terus. Sok sibuk lo ah! Kapan kita maen-maennya?!”           “Lo lupa atau kudu gue jedotin ke tembok nih kepala lo? Minggu kemaren kan gue ikut lo keluar. Gak usah sok lupa!” Baru juga minggu kemarin mereka pergi keluar bersama, Zoya sudah menagihnya jalan-jalan lagi.           Gadis itu terkekeh kecil, “Iya deh iya. Elah lo mah gak bisa dibercandain.”           Qirani mendengus, akhirnya melangkahkan kakinya pergi setelah berpamitan kembali. Dia hendak keluar lewat pintu depan, ketika akhirnya dia sadar bahwa Aksara dan Gentala ada di cafe ini. Jika Qirani tidak ingin bertemu dengan mereka, maka dia harus menghindari mereka. Tapi bagaimana caranya dia bisa pergi tanpa bertemu dengan mereka?           “Ah, Gentala sialan! Kan udah gue bilang buat ngelupain aja kejadian itu, sekarang dia malah nyeret Aksara kesini! Tuh anak emang dari dulu gak berubah bebalnya!” Qirani menggerutu kesal, dia memutar tubuhnya berbalik arah. Ada pintu belakang cafe yang bisa digunakan untuknya pergi tanpa lewat pintu depan, dia baru ingat hal itu. Jadi Qirani menurunkan topi hitamnya dan melangkah keluar lewat pintu belakang. Dia bersumpah akan menghabisi Gentala jika dia bertemu lagi dengannya.           Qirani akhirnya bisa bernapas lega setelah dia berhasil keluar dari cafe lewat pintu belakang. Jika saja Gentala sialan itu tidak menyeret Aksara ke tempat ini, dia tidak akan repot-repot keluar diam-diam seperti ini. Ah, tidak. Bukan seperti itu. Lebih tepatnya, jika saja Qirani tidak bertemu dengan Gentala di club kemarin, maka hari ini.... apa?           “Arrghsss!!” Maka apa? Dia tidak akan bertemu Aksara? Tapi sampai kapan dia akan terus bersembunyi seperti ini? Qirani mengusap wajahnya frustasi. Dia mendongak, menatap langit malam yang gelap tanpa ditaburi satu bintang. Mendung, Qirani bisa merasakan hujan akan turun sebentar lagi. Jadi dia mempercepat langkahnya menuju parkiran. Hari ini dia membawa motornya sendiri, jadi dia bisa pulang dengan cepat.           Dirogohnya saku jaketnya untuk mencari kunci motor. Setelah kunci itu berada ditangannya, Qirani hendak menyalakan mesin motornya ketika sebuah telapak tangan yang terasa dingin memegang pergelangan tangannya. Qirani mendongak, melihat sepasang mata hitam yang menatapnya tajam. Seperti terkena sengatan listrik, Qirani membeku menatap laki-laki yang menggenggam pergelangan tangannya.           Aksara menatapnya tajam, kerutan didahinya terlihat semakin dalam. Sorot matanya meredup, entah itu ilusi atau bukan Qirani seperti melihat kelegaan dalam matanya.           “Qirani.” Suara Aksara terdengar lembut memanggilnya. Sudah berapa lama Qirani tidak mendengar suara itu? Sudah berapa lama dia tidak melihat pemuda dihadapannya ini?           Bukan hanya dirinya yang banyak berubah, Aksara juga sama. Laki-laki itu mengalami banyak perubahan. Pandangan Qirani hendak menelusuri penampilan pemuda itu, namun tiba-tiba dia tersadar dan segera menghempaskan telapak tangan Aksara.           Dia berkata dengan suara datarnya, “Lo salah orang.”           Setelah mengatakan itu, Qirani menyalakan motornya dan hendak pergi. Tapi seakan dia tahu bahwa Aksara tidak akan menyerah begitu saja, Qirani menatap sekilas laki-laki itu.           Aksara mengernyit, “Gue gak salah orang, dan gak akan pernah salah orang. Qirani, kemana aja lo selama ini?”           “Bukan urusan lo.” Nada bicara Qirani tidak berubah, masih mengeluarkan nada suara datar dan dinginnya.           Aksara menyambar kembali pergelangan tangannya, namun dengan cepat ditepis. Kemarahan terlihat jelas di mata Qirani, dia berusaha menahan gejolak emosinya.           “Ran, tolong jangan melarikan diri kayak gini terus. Sampai kapan lo mau terus-terusan kayak gini?” Aksara memperlembut suaranya, dia menatap Qirani penuh harap.           Sampai gue ngelupain kalian semua, atau sampai gue gak pernah ketemu kalian lagi.           Qirani ingin berkata seperti itu, namun kalimat yang justru terdengar adalah, “Biarin gue pergi.”           Dia hanya ingin cepat pulang dan mengunci pintu rumahnya. Berharap tidak ada siapapun yang mengganggunya. Mesin motornya sudah menyala, tanpa menghiraukan Aksara yang terlihat ingin mengatakan sesuatu, Qirani telah menerobos pergi dan melajukan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Pikirannya lelah, tubuhnya juga lelah, tidak bisakah mereka membiarkannya sendirian?   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN