bc

Aku Wanita Bukan Bunga Liar

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
kickass heroine
heir/heiress
drama
city
like
intro-logo
Uraian

Di usia delapan belas tahun, Killua percaya bahwa menikah adalah jalan menuju kebahagiaan. Namun setelah masuk ke rumah besar keluarga suaminya, ia sadar bahwa dirinya bukan diperlakukan sebagai istri—melainkan pelayan yang harus selalu menunduk dan menerima hinaan.

Cinta yang dulu dijanjikan perlahan berubah menjadi luka yang menghancurkan harga dirinya.

Saat semua orang menganggapnya lemah, Killua justru mulai bangkit dan belajar bahwa seorang wanita tidak diciptakan untuk dipetik, diinjak, lalu dibuang begitu saja.

Karena ia bukan bunga liar.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 : Rumah yang Tidak Pernah Menerimanya
“Dasar perempuan nggak tahu diri.” Suara pecahan piring menggema di dapur besar itu. Killua refleks mundur. Nafasnya tercekat saat serpihan keramik berserakan tepat di dekat kakinya. Tangannya gemetar memegang lap basah, sementara dadanya naik turun menahan takut. Di hadapannya, ibu mertuanya berdiri dengan wajah penuh amarah. “Aku cuma suruh bikin sarapan, itu aja nggak becus!” bentaknya lagi. Killua langsung menunduk dalam-dalam. “Maaf… tadi Killua nggak sengaja—” “Alasan terus!” Perempuan paruh baya itu menunjuk lantai dengan tatapan jijik. “Pantes aja keluarga kamu miskin. Didikan ibumu juga pasti berantakan.” Kalimat itu terasa seperti tamparan. Killua menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar air matanya tidak jatuh. Sudah tiga bulan ia tinggal di rumah besar keluarga suaminya. Tiga bulan menikah. Tiga bulan meninggalkan hidup lamanya demi laki-laki yang katanya mencintainya. Dan selama tiga bulan itu juga… Ia belum pernah benar-benar merasa diterima. Rumah megah dengan lampu kristal dan tangga marmer itu selalu terasa dingin. Terlalu luas. Terlalu asing. Tidak peduli seberapa keras Killua berusaha, semua yang ia lakukan selalu salah di mata keluarga suaminya. Masakannya kurang enak. Cara bicaranya terlalu pelan. Bajunya terlihat murahan. Bahkan cara ia berjalan pun dianggap memalukan. “Cepat bersihin! Nanti tamu datang!” Bentakan itu membuat Killua buru-buru jongkok membersihkan pecahan piring dengan tangan gemetar. Ia tidak berani melawan. Tidak pernah. Karena sejak awal, Killua sadar dirinya hanya perempuan biasa yang masuk ke keluarga kaya raya. Dan semua orang di rumah ini seakan tidak pernah lupa mengingatkannya. *** Pukul lima pagi, Killua sudah bangun. Pukul enam, ia harus memastikan seluruh rumah bersih. Pukul tujuh, sarapan harus siap. Setelah itu ia mencuci, mengepel, membersihkan kamar, menyiram taman, lalu membantu dapur lagi. Kadang Killua bingung. Ia ini istri… atau pembantu? Namun setiap kali pertanyaan itu muncul, ia buru-buru menghapusnya sendiri. Mungkin memang beginilah menjadi menantu di keluarga terpandang. Mungkin ia hanya harus lebih sabar. Mungkin nanti semuanya akan membaik. Bukankah suaminya pernah bilang begitu? “Aku bakal bikin kamu nyaman di sini.” Killua percaya. Karena ia terlalu mencintai laki-laki itu. Raka. Laki-laki yang dulu datang dengan senyum hangat dan janji manis. Yang membuat gadis delapan belas tahun seperti Killua rela meninggalkan segalanya. Ia masih ingat bagaimana dulu Raka menggenggam tangannya sambil berkata, “Aku bakal bikin hidup kamu enak.” Saat itu Killua benar-benar percaya. Bagaimana tidak? Raka begitu berbeda dari hidupnya yang sederhana. Mobil mewah. Baju mahal. Cara bicara yang tenang dan dewasa. Ketika laki-laki itu datang ke hidupnya, Killua merasa seperti tokoh utama dalam dongeng. Ia pikir akhirnya ada seseorang yang memilihnya. Seseorang yang mau mencintainya meski ia bukan siapa-siapa. Dan kebodohan terbesar Killua adalah… Ia menyerahkan seluruh hidupnya terlalu cepat. “Killua!” Suara bentakan kembali menyadarkannya. Ia buru-buru berdiri. “I-iya, Bu?” “Malam ini ada acara keluarga. Jangan bikin malu.” Killua mengangguk cepat. “Iya.” “Dan jangan pakai baju murahan itu lagi.” Tatapan ibu mertuanya turun naik menilai pakaian sederhana yang dikenakan Killua. “Kelihatan kampungan.” Killua menunduk pelan. “Maaf…” Padahal baju itu adalah satu-satunya dress bagus yang ia punya. *** Malam harinya rumah besar itu dipenuhi tamu. Lampu-lampu menyala terang. Gelas kristal berjejer di meja panjang. Tawa orang-orang terdengar memenuhi ruangan. Killua berdiri canggung di sudut. Gaun putih sederhana yang ia pakai terasa begitu kecil di tengah kemewahan itu. Ia bahkan tidak berani mengangkat kepala terlalu lama. Beberapa wanita memandangnya sambil berbisik pelan. “Dia istrinya Raka?” “Masih muda banget.” “Keluarganya bukan orang berada, ya?” Killua pura-pura tidak mendengar. Tangannya dingin. Dadanya sesak. Ia ingin pergi ke kamar saja. Namun tiba-tiba seseorang menarik kursi di sebelahnya. Raka. Suaminya akhirnya datang. Jantung Killua langsung menghangat sedikit. “Mas…” Raka hanya melirik sekilas. “Kamu dari tadi diem aja?” Killua tersenyum kecil. “Iya… aku nggak kenal siapa-siapa.” Namun laki-laki itu justru terlihat kesal. “Ya jangan keliatan aneh gitu.” Senyum Killua perlahan menghilang. “Aku udah bilang berkali-kali, belajar menyesuaikan diri.” Nada bicara itu dingin. Berbeda sekali dari laki-laki yang dulu mengejarnya setiap malam. Killua menunduk pelan. “Maaf…” Lagi-lagi kata itu keluar. Maaf. Seolah seluruh keberadaannya memang selalu salah. Raka menghela nafas kasar lalu berdiri lagi karena dipanggil seseorang. Dan Killua kembali sendirian di tengah keramaian. Aneh sekali. Di rumah sebesar ini… Di pesta semewah ini… Kenapa ia merasa begitu kesepian? *** Acara selesai hampir tengah malam. Killua membereskan gelas-gelas kotor sendirian di dapur. Pelayan rumah sebenarnya ada. Namun ibu mertuanya bilang, “Sebagai menantu, kamu harus tahu diri.” Jadi Killua mengerjakan semuanya. Tangannya pegal. Kakinya sakit. Namun ia tetap diam. Sampai tanpa sengaja, ia mendengar suara tawa dari ruang makan belakang. Suara Raka. Killua refleks berhenti bergerak. “Ayolah, Rak,” suara laki-laki lain terdengar samar. “Serius lo tahan sama cewek kayak dia?” Lalu tawa kecil terdengar. Dan jawaban Raka membuat tubuh Killua membeku. “Kalau bukan karena kasihan, gue juga nggak bakal nikahin dia.” Deg. Nafas Killua berhenti. Tangannya melemas. Piring di genggamannya hampir jatuh. Di balik dinding dapur yang dingin itu, ia berdiri mematung. Tidak. Tidak mungkin. Mungkin ia salah dengar. Namun suara Raka kembali terdengar jelas. “Cewek kayak Killua gampang diatur.” “Polos. Nurut.” “Enak dijadiin istri.” Dunia Killua runtuh dalam hitungan detik. Dadanya terasa seperti diremas sesuatu yang besar. Air matanya langsung jatuh tanpa izin. Selama ini… Jadi itu alasan Raka menikahinya? Bukan cinta? Bukan karena sayang? Tapi karena ia mudah dikendalikan? Killua menutup mulutnya sendiri agar tidak menangis keras. Tubuh kecilnya gemetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak menikah… Ia merasa benar-benar takut. Karena tiba-tiba ia sadar— Mungkin rumah ini tidak pernah menganggapnya keluarga. Dan mungkin… Laki-laki yang ia cintai itu juga tidak pernah benar-benar mencintainya. Janji manis Pernikahan yang Ia Impikan hancur dalam sekejap, Killua gadis cantik pintar dan menawan harus rela dirinya, diinjak seperti bunga liar, bahkan ia pun merelakam karir nya yang di janjikan sebelumnya. Kini hanya penyesalan dan air mata yang hanya bisa Ia teteskan sekarang.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
703.3K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.5M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
943.2K
bc

A Warrior's Second Chance

read
338.2K
bc

Not just, the Beta

read
337.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook