Si Putih Bab 44 : Bukan Rayuan Gombal Kulirik jam tangan berbahan kulit yang melingkar di pergelangan tangan, ternyata sudah jam sebelas siang. Aku meminta supir taxi mempercepat laju mobilnya agar kami bisa segera tiba di rumah. Kutatap Si Putih yang kini sudah kubelikan kandang agar ia bisa beristirahat dan tak lari ke mana-mana lagi. Untunglah tadi aku cepat membawanya ke klinik, jadi bisa secepatnya si Putih mendapatkan perawatan dari dokter hewan langsung. Aku sedih melihat si Putih terluka begini. Dia hanya berdiam diri di dalam kandangnya. Dia pasti merasakan kesakitan akibat luka yang dideritanya. Aku sedih melihat kucing kesayangan terluka seperti ini. Seperti ada kontak batin di antara kami. Aku merasa sakit dan sedih seperti yang dirasakan oleh makhluk imut berbulu lembut in

