Si Putih Bab 43 : Khawatir Dengan membaca bismillah dalam hati, aku berjalan mendekat ke ranjang. Jantungku sudah berdebar-debar. Meskipun AC sudah dimatikan, tapi hawa dingin karena grogi ini membuat kaki dan tangan terasa dingin. Cuaca di luar mendung dan sangat cocok digunakan untuk menunaikan ibadah malam pertama yang tertunda. Aku ikut berbaring di sebelah Nadine dengan perasaan tak menentu. Aku menggosok telapak tangan yang terasa beku. Aku miringkan badan ke samping tepat di dekat Nadine. Kini tidak ada lagi jarak di antara kami berdua. Aku memberanikan diri untuk menyentuhnya. Tanganku bergerak melingkar di perutnya yang rata. Nadine tak menolak atau bergerak sedikit pun. Dia diam saja menerima pelukanku. Mungkin, dia juga merasa hal yang sama. “Nadine, maafin saya, ya.”

