Delapan

1376 Kata
"Cintaku temukan dirimu" “Ma, Mama tahu enggak kalau pak camat kita itu anaknya pak RT sebelah?” tanya Gauri ketika mereka sedang menikmati berkumpul keluarga di malam hari. “Enggak tahu,” jawab Mama yang sedang fokus menonton sinetron azab. “Papa tahu?” Papa menggeleng sebagai jawaban. “Anak pak RT? A Nendra dong teh!” pekik Jaka terkejut. Gauri mengangguk dan memperlihatkan SKU yang sudah di tandatangani. “Tuh lihat nama lengkapnya,” Jaka, Mama, Papa dan Shaka kompak membaca yang ditunjuk Gauri. “Kalau enggak salah Ganendra ini teman sekelas Teteh waktu SD kan?” tanya Papa. Gauri mengangguk. “Keren itu teh, masih muda udah jadi pak camat. Dia udah nikah belum?” “Belum,” jawab Gauri mendadak malas. Jaka terkekeh. “Belum lah orang A Nendra naksirnya sama teteh!” Gauri mengetuk kepala Jaka pelan. “Enggak usah fitnah yaa,” Jaka menatap si bungsu Shaka yang sejak tadi asyik bermain game di HP. “Ka, inget enggak kamu kan pernah tanya ke Aa tiap main ke RT sebelah suka ada yang nyalamin ke Teteh. Itu kayaknya A Nendra deh!” Shaka terlihat kebingungan, membuat Jaka merasa jengkel dengan adiknya yang kadang suka pelupa. “Waktu SMA kamu kan pernah pacaran sama Mita anak RT sebelah, terus kamu tanya k Aa ‘A, napa ya tiap aku ke rumah Mita suka ada laki-laki tetangga Mita nyalamin ke si teteh?’ inget enggak?” Shaka terdiam sebentar mencoba mengingat, tak lama pria itu mengangguk. “Oh iya, anak pak RT yang laki-laki.” “Kok enggak bilang?” tanya Gauri. Shaka hanya mengendikkan bahu. “Kan teteh udah pacaran sama si buaya, ngapain nyampein. Nanti dikira merusak hubungan lagi.” Gauri menatap jengkel adiknya yang memang sifatnya tidak mau ikut campur, berbeda dengan adik pertamanya yang selalu kepo. Oh.. jadi Ganendra suka nyalamin sejak dulu ya? Kenapa enggak datang ke sini saja ya? Coba kalau dulu Ganendra deketin dia, mungkin sekarang dia sudah menjadi bu camat yang punya lima anak. Enggak seperti sekarang, menjadi janda.. nikah cuma beberapa jam lagi. Tuh kan baliknya ke situ lagi! Ah.. lupain?! Yang penting sekarang ia sudah memiliki SKU, akhir bulan akan mengikuti pameran dan mendapatkan orderan dari pernikahan kakak Nendra. Alhamdulillah.. rezeki janda soleha!! “Eh, kamu udah daftarin toko kita ke acara pameran?” tanya Gauri pada Jaka yang kini sedang tiduran di samping sambil membaca majalah. “Udah, tinggal persiapin aja. Oh iya, dari panitia cuma kasih meja, kursi aja. Stop kontak bawa masing-masing buat nyambungin,” “Yaudah nanti kamu yang urus,” Gauri menatap adik bungsunya yang masih fokus main HP. “Heh De, kamu juga bantu teteh!” “Malas ah Teh,” “Yaudah kalau enggak mau duit, jatah kamu teteh kasih ke Jaka aja.” Shaka dengan cepat menyimpan HPnya dan menatap Gauri. “Dapat duit? Yaudah entar aku bantuin jaga stan.” Mama yang melihat keakraban anak-anaknya hanya menggeleng pusing. “Ini bertiga, kalau ngomongin uang aja baru akur!” keluh Mama. “Yah kayak kita lah Ma,” tambah Papa di sebelah yang ternyata menyimak juga. … Hal yang paling membuat malas Gauri ketika hari minggu adalah menyiram tanaman. Tidak, ia tidak semuram itu sampai membenci tanaman cantik di pekarangan rumahnya. Namun yang ia kesal adalah.. “Teteh, yang benar nyiramnya masa airnya melimpah gitu keluarnya! Itu jangan di injek tanaman panglainya, aduh masa tanaman kayu putih Mama jadi kering gitu sih?!” Nah sudah terjawab bukan? Tiada lain tiada bukan, dirinya tidak akan berhenti diomelin selama menyiram tanaman Mama. Padahal daripada ia membuat kesalahan terus, kenapa tidak Mamanya saja yang menyiram tanaman? Toh Mamanya yang lebih mengerti. Kalau dirinya kan hanya melakukan yang di suruh saja, menyiram.. membasahi tanaman, sudah selesai. Tidak perlu memikirkan besar kecilnya air yang keluar dari selang. Toh kalau hujan besar juga, tanamannya baik-baik saja. “Tanaman itu sama saja dengan makhluk hidup yang harus di rawat sebaik mungkin supaya bisa tumbuh cantik. Kamu nyiram kayak gitu sama aja kayak minum pake sedotan jumbo, ya awur-awuran atuh! Tuh lihat, tanahnya jadi becek kan! Heran deh Mama, padahal tiap minggu udah Mama kasih tahu tapi kok gini lagi-gini lagi!!” Gauri menutup mulutnya yang menguap, ia ngantuk dan ingin kembali tidur di kasurnya yang empuk. Semalam ia begadang membuat desain banner untuk ditampilkan di acara pameran, ia juga memesan beberapa pernak-pernik lampu untuk menghias stannya. Dan hari ini rencananya ia akan membuat desain brosur untuk dibagikan. “Assalamualaikum,” “Siapa tuh?” tanya Mama sambil membuka pintu pagar. “Tukang sayur kali,” jawab Gauri yang kini sedang membersihkan sendalnya yang kotor karena tanah. “Waaah… ada siapa ya ini?” “Bu, ada Urinya?” Gauri yang merasa namanya di sebut, berbalik dan membeku mendapati Ganendra berada di rumahnya. Pria itu tidak mengenakan seragam kebanggaannya, melainkan hanya menggunakan celana training dipadukan sweater abu. “Nendra, kok di sini?” tanya Gauri menyimpan selang dan menghampiri Ganendra. “Oh ini anaknya pak Ahmad ya?” tanya Mama sumringah. Ganendra mengangguk, matanya melirik Gauri yang masih menatapnya bingung. Mama menarik tangan Ganendra, menyuruh pria tampan itu untuk masuk ke dalam meninggalkan Gauri yang masih terkejut. “Teh bikini teh manis buat Ganendra, atau mau s**u?” “Su-s**u?” wajah Ganendra memerah. “Enggak usah! Saya air putih aja.” Gauri mengambilkan air minum di dapur. Ia sedikit malu dengan respon Mamanya yang sedikit berlebihan. Seperti girang mendapatkan hadiah sabun cuci piring di supermarket gitu! Begitu kembali ke ruang tamu, Gauri semakin mengerutkan kening melihat Papanya kini sudah bergabung dengan Mamanya. “Teh, hebat pisan ya Nendra ini sudah ganteng, masih muda, PNS lagi! Sudah punya calon belum?” tanya Mama. Ganendra tersenyum malu-malu, matanya melirik Gauri yang balas menatapnya bingung. Kenapa sih Ganendra?? Ganendra tiba-tiba berdeham dan menegakkan posisinya. Ia kembali menatap Gauri, lalu kepada orangtuanya yang masih menatap antusias. “Sebenarnya saya ke sini mau ketemu Uri, enggak nyangka juga bisa ketemu Ibu sama Bapa. Tapi mumpung ada Ibu Bapa, saya mau sekalian saja bicara serius.” Mama dan Papa saling menatap bingung kini, begitu pun juga Gauri. Mau pesan souvenir kenapa harus bilang ke orangtuanya ya? Ganendra kembali berdeham dan melirik Gauri. Jantung sedikit berdebar manakala penampilan Gauri begitu cantik, natural dan seksi. Astagfirullah.. astagfirullah.. fokus Ganendra!! “Begini Bu, Pak mungkin nantinya saya akan sering datang ke rumah ini selain saya sedang pesan souvenir untuk pernikahan kakak saya, saya juga ada niat untuk mendekati Uri, anak Ibu sama Bapa.” Mama, Papa dan tentu saja Gauri sama-sama terkejut di tempat. “Mendekati? Maksudnya bagaimana ya?” tanya Papa yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya. “Saya suka sama Gauri, ada niat ingin menjadikan Gauri istri saya. Mungkin Gauri masih belum siap sama lamaran saya, tapi setidaknya saya ingin mendekati Gauri dengan niatan yang sudah jelas.” Tegas Ganendra. Mama menutup mulutnya. “Masha Allah.. kalau Mama dan pasti Papa juga sangat-sangat menerima dengan niatan Ganendra!!” Papa mengangguk di sebelah. “Papa suka dengan maksud Ganendra, tidak ada basa-basi, maksud jelas dan sangat menghargai kami terutama Uri. Yah Ganendra sendiri juga tahu, Uri sedang mengobati luka di hatinya dan kami berharap semoga Ganendra bisa menyembuhkan luka hati Uri.” Ganendra tersenyum lega dan mengangguk. Mama berdiri dan menarik tangan Papa. “Pa, beli bubur di depan yuk! Ganendra, di tinggal dulu ya. Teh, di kulkas ada kue, suguhin buat Ganendra ya.” Gauri sendiri masih dalam kondisi shock, gadis itu masih melongo bahkan dengan tidak tahu malunya mulut gadis itu menganga. “Uri,” panggil Ganendra pelan setelah orangtua Gauri pergi. Gauri mengerjapkan mata dan menatap Ganendra campur aduk. Antara kesal, marah, bingung, ingin tertawa dan sedih. “Aku pikir hubungan kita hanya sekedar penjual konsumen aja.. atau teman SD?” Ganendra menggeleng. “Saya pengen Uri mempertimbangkan saya,” Gauri menggeleng. “Kamu sia-sia kalau minta seperti itu ke aku. Aku udah enggak percaya pernikahan! Mending kamu cari perempuan yang lebih baik aja daripada janda kayak aku!” “Saya maunya kamu Uri, kalau saya bisa cari perempuan lain dari dulu juga saya pasti udah nikah.” “Ngomong apaan sih?” “Saya suka Uri,” “Iya suka sebagai teman kan?” “Saya sukanya Uri jadi istri saya titik enggak pakai koma.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN