"Jangan dulu Kau lelah menunggu"
Gauri menatap tidak percaya pria yang juga teman SDnya ini. Kenapa Ganendra jadi seperti ini sih? Bukankah ketika SD pria itu bahkan menganggap Gauri tidak kasat mata? Mana judes banget kalau di sapa di luar sekolah.
Tapi kenapa sekarang Ganendra bucin padanya?
Ketemu aja enggak, ngobrol apalagi.
Apa jangan-jangan Ganendra sedang ada masalah sehingga otaknya bergeser?
Atau ia di pelet??
HAHH??
Tunggu sebentar, kalau di pelet itu berarti dirinya yang melet! Astagfirullah.. main dukun aja kagak, kalau melet mah mungkin nasibnya enggak sengenes ini!
Satu jawaban yang masuk akal adalah, Ganendra ada masalah pada otaknya!!
“Uri, kamu sudah sarapan?” tanya Ganendra setelah mereka terdiam beberapa menit.
Gauri mengangguk. “Kamu belum?”
Ganendra menggeleng malu-malu. “Saya buru-buru pengen ketemu Uri, jadi belum sempat sarapan hehe..”
Gauri terhenyak dengan perkataan Ganendra. “Kamu beneran suka aku?”
Ganendra tersenyum malu-malu dan mengangguk pelan.
“Kok bisa?”
Bukannya menjawab pria itu malah berdiri. “Uri, temenin aku sarapan ya. Kita beli kupat tahu di depan gimana?”
Keluar itu berarti ketemu ibu-ibu gossip!! Mending Ganendra kelaparan aja dari jadi bahan gibah lagi.
“Kamu sendiri aja,”
Ganendra menatap kecewa. “Kenapa kamu enggak mau temenin saya?”
“Aku cuma enggak mau jadi bahan gossip orang lain aja,” aku Gauri.
Ganendra kembali duduk membuat Gauri menatap bingung. “Enggak jadi sarapannya?”
“Nanti aja, masih pengen sama Uri.”
Gauri menggaruk rambutnya, antara bingung dan salah tingkah. Dia juga enggak tega, sepertinya Ganendra kelaparan. Akhirnya Gauri berdiri. “Ayo,”
“Ke mana?”
“Ruang makan, enggak tega juga lihat kamu kelaperan. Biar aku masakin, yah walaupun hanya sepiring nasi goreng enggak apa-apa kan?”
Ganendra tersenyum lebar. “Enggak apa-apa,” ucap Ganendra mengikuti Gauri.
Gauri mengambil sepiring nasi di magicom dan mengulek bumbu bahan nasi goreng. Membuat makanan sambil di lihat seperti ini membuatnya teringat masa-masa ia berpacaran dengan Reyhan. Lelaki itu pasti selalu menemaninya memasak.
Gauri menampar dirinya sendiri agar tersadar dari lamunannya. Ia menggelengkan kepala dan mulai fokus untuk memasak.
Sementara Ganendra sendiri sejak tadi tidak bisa berhenti tersenyum. Ia bersyukur bisa datang ke rumah Gauri pagi-pagi sehingga memberinya kesempatan padanya melihat Gauri memasak, untuk dirinya lagi.
Mata Ganendra menatap punggung Gauri yang telihat sibuk dan luwes di dapurnya. Ia tidak habis pikir bagaimana mantan suami Gauri malah berselingkuh meninggalkan wanita secantik Gauri demi perempuan yang biasa-biasa saja.
Tapi ini keberuntungan untuknya. Itu berarti Tuhan memberikannya kesempatan untuk memperjuangkan Gauri. Ia ingat bagaimana patah hatinya mendapatkan undangan pernikahan Gauri, ia juga harus menahan sesak datang ke resepsi pernikahan melihat Gauri yang begitu cantik bak malaikat.
Tapi ia bersyukur, belum sehari pernikahan Gauri kandas.
Saat itu juga ia bertekad untuk memperjuangkan Gauri. Meskipun Gauri masih belum menerima lamarannya, tetapi setidaknya Gauri sudah tahu jelas maksudnya apa.
“Silahkan di makan, maaf kalau rasanya kurang enak.” Ucap Gauri menyimpan sepiring nasi goreng lengkap dengan telor dan kerupuk di hadapan Ganendra.
Ganendra meneguk ludah mencium harumnya nasi goreng buatan Gauri. Mengucapkan doa makan dalam hati, pria itu langsung menyuapnya ke mulut. “Masha Allah ini enak banget Uri!!”
Gauri tersenyum mendengar pujian Ganendra. Ia pun lebih memilih mengemil kue sambil menemani Ganendra makan.
Luar biasa mereka bak pasangan suami istri!!
“Jadi, sejak kapan kamu menjadi camat?”
“3 bulan yang lalu,”
“Aku kaget lho kamu jadi camat!!”
Ganendra terkekeh. “Karena?”
“Ya biasanya kan camat itu udah tua, udah ubanan. Lah ini masih muda!”
“Enggak juga, teman-teman saya banyak yang lebih dulu jadi camat.”
“Oh,”
“Kenapa?”
“Cuma ngerasa keren aja jadi camat,”
“Kamu mau keren juga?”
Gauri mengangkat sebelah alisnya.
“Kamu bisa langsung jadi bu camat, tinggal bilang iya perihal lamaran saya enggak lama kita bakalan nikah.”
Gauri berdecak dan memilih memakan kuenya.
Setelah sepiring nasi goreng habis, Ganendra membantu Gauri membuat desain brosur untuk dibagikan ketika pameran nanti. Padahal dikira Gauri, Ganendra akan langsung pulang namun ternyata pria itu malah masih ingin bersamanya dan membantunya. Katanya sih anggap saja bayaran karena membuatkan sepiring nasi goreng untuknya.
“Jaka Shaka ke mana?” tanya Ganendra yang menyadari rumah Gauri begitu sepi. Orangtua Gauri juga belum pulang, mereka beli bubur di mana sih?
“Mereka nginep di rumah temannya, kalau Shaka biasanya weekend gini suka ada jadwal manggung.”
“Shaka penyanyi?”
“Anak band tepatnya. Lumayan sih nyalurin hobi, apalagi dibayar juga jadi punya uang jajan sendiri.” Gauri menunjuk layar laptop. “Bisa enggak tulisannya disambung terus ada shadow gitu biar lebih jelas.”
Ganendra mengikuti instruksi Gauri. “Kayak gini?”
“Hmm.. kebaca enggak sih tulisannya?” tanya Gauri yang awalnya duduk di sofa kini berpindah di bawah sebelah Ganendra.
Ganendra membeku merasakan lengannya menempel dengan Gauri. Pria itu bahkan tidak bisa berkonsentrasi saking gugupnya. Apalagi tubuh Gauri menyondong ke depan, membuat dirinya semakin menempel dengan gadis itu.
“Ganti kayak tadi aja deh, Ndra. Kayaknya lebih jelas yang tadi deh terus warna logonya yang pink warnanya lebih kayak fanta aja biar enggak pucet.”
Astagfirullah… Astagfirullah.. Allahhu Akbar.. Allahhu Akbar..
“Backgroundnya warna gading aja coba,” cerocos Gauri yang masih belum melihat situasi bujang galau di sebelahnya.
Ganendra mencoba menarik nafas pelan, ia akhirnya menggeser posisinya agar memberi jarak baginya dan Gauri. Situasi ini lebih gawat dibandingkan menghadapi ibu-ibu yang protes akan pengambilan sampah yang terlambat. Apalagi mereka hanya berdua saja di rumah, itu berarti godaannya semakin besar.
Ganendra hampir terjungkang ketika merasakan tangan Gauri berada di atas tangannya yang memegang mouse. Wanita itu bahkan dengan santai menggerakan mouse, sementara dirinya semakin berkeringat dingin dan menahan hasratnya.
Alamat mandi air dingin pulang dari sini.
“Nah kayak gini udah pas!!” Gauri menatap Ganendra. “Gimana? Eh Ndra, kamu kenapa?”
Ganendra melepaskan mouse yang masih berada di atas tangan Gauri. Pria itu buru-buru berdiri. “Saya mau pulang aja Uri,”
“Hah? Kok tiba-tiba?”
“Bahaya kalau kita berduaan kayak gini, maksud saya kamu yang berada dalam bahaya. Eh atau saya ya?”
Gauri menatap tidak mengerti Ganendra yang terlihat gugup, gelisah dan kalimatnya yang aneh. “Apaan sih?”
“Kita berduaan di rumahnya kalau sudah sah aja ya Uri, ini enggak baik buat saya. Sa-saya pulang dulu! Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam,” begitu Ganendra pergi dengan terburu-buru, Gauri masih bingung di tempat.
Ada apa dengan pria itu?
Aneh sekali!
Mungkin kebelet pipis kali ya, padahal di rumah Gauri ada toilet.