Dita segera berlari ke ruangan Gunawan memberi pertolongan. Tatjana tak bercanda, ia benar-benar memukul kepala Gunawan hingga berdarah. Dita bergidik ngeri tak menyangka Tatjana tega melakukan semua ini.
Kelakuan minus Gunawan sudah menjadi rahasia umum di TA. Dita sendiri juga pernah menjadi korban pelecehan Gunawan. Jika tak ingat tulang punggung keluarga mungkin Dita sudah memutuskan resign. Ia mensyukuri keadaan Gunawan yang tak berdaya seperti ini. Biar tahu rasa! Sesekali buaya darat seperti Gunawan diberi hadiah bogem mentah seperti ini. Setidaknya Tatjana sudah mewakilkan dirinya untuk menghajar Gunawan.
Gunawan memang pantas diberi pelajaran. Mata suka jelalatan dan pikirannya tak jauh dari s**********n. Hampir semua pegawai cewek di TA menjadi korban kenakalan Gunawan. Minimal korban grepe-grepe. Gunawan tak ingat umur. Ia bisa pusing jika tak menggoda perempuan. Sifat genit sudah menjadi ciri khas seorang Gunawan.
"Bapak tidak apa-apa?" Dita basa-basi busuk sok khawatir dengan keadaan Gunawan.
Gunawan meringis menahan nyeri. Tangannya bermandikan darah dan matanya berkunang-kunang. Gunawan tak hentinya menyumpahi Tatjana karena telah melukainya. Gunawan bersumpah akan memberi pelajaran pada Tatjana setelah sembuh.
Dita sedikit panik. Ia takut Gunawan mati. Jika Gunawan mati ia akan menjadi saksi. Dita tak mau jadi saksi andai Gunawan mati karena resikonya sangat besar. Bisa jadi ia akan dituduh sebagai tersangka karena menemukan Gunawan pertama kali.
Walau sering dizalimi Gunawan, namun Dita yang berhati baik tak tega melihat kondisi Gunawan yang mengenaskan. Darah segar tak berhenti meluncur dari pelipis Gunawan. Jiwa kemanusiaan Dita terpanggil. Ternyata ia tak tega melihat Gunawan terluka.
"Pak. Saya panggil dokter ya Pak. Bertahanlah Pak." Dita beranjak keluar ruangan seraya berlari.
"Please......bantu bawa dokter kesini. Pak Gunawan
terluka. Kepala beliau berdarah." Dita panik menelpon bagian umum untuk memanggil dokter. Sikap panik dan gusar Dita menjadi perhatian karyawan lain.
"Lo kenapa Ta?" Tanya Ana curiga melihat ekspresi panik di wajah Dita.
"Ba-pak gue.........." Dita bicara terbata-bata. Dita heran
sikapnya berubah panik. Bukankah tadi ia mensyukuri keadaan Gunawan? Kenapa sekarang ia malah khawatir?
"Lo tenang dulu dech. Ngomong pelan-pelan." Ana berusaha menenangkan Dita.
Dita mendengarkan ucapan Ana. Ia berusaha menyusun kata-kata untuk bicara. "Ba-pak gue habis berantem sama anaknya." Dita cerita perlahan-lahan
"Trus????" Ana memotong pembicaraan Dita.
"Lo bisa diam dulu ga?" Dita menghardik Ana.
Ana menutup mulutnya karena kaget dihardik oleh Dita. Ternyata Dita bisa galak juga.
"Bapak gue berantem sama Tatjana. Pas Tatjana datang udah kayak tentara mau perang. Dan lo tahu apa yang terjadi sama Pak Gunawan? Tatjana pukul Bapaknya pake asbak kaca sampai kepalanya berdarah."
"What ????" Bibir Ana monyong lima senti seakan tak percaya ucapan Dita.
Masa seorang Tatjana bisa bersikap barbar? Pegawai TA tahu siapa Tatjana karena dia mantan pramugari TA. Tatjana mengundurkan diri karena malu dengan sifat genit Gunawan. Gunawan sering berbuat affair dengan pegawai wanita. Tatjana muak, memutuskan resign dan minggat dari rumah.
"Lo udah panggil dokter?" Tanya Ana penuh selidik. "Sudah."
Dokter segera datang menolong Gunawan. Dokter membawa Gunawan ke rumah sakit karena kepala lelaki itu harus dijahit. Masalah Gunawan bertengkar hebat dengan Tatjana menjadi buah bibir di TA. Berita cepat menyebar dari mulut ke mulut. Awalnya Ana yang bercerita dan beritanya tersebar ke seluruh kantor TA dari Sabang sampai Merauke.
Karyawan TA bukannya simpati mereka malah senang dan memuji Tatjana. Lelaki zolim seperti Gunawan layak diperlakukan seperti itu. Gunawan tidak bermoral dan menyalah gunakan jabatannya.
Tatjana malah dapat apresiasi dari karyawan. Semenjak Gunawan menjadi dirut ritme kerja di TA sudah tak manusiawi dan manajemen sesuka hati membuat aturan. Manajemen tak lagi kerja sesuai SOP. Banyak karyawan jadi penjilat agar posisi mereka aman. Mereka kadang menjatuhkan satu sama lain di depan Gunawan.
Siapa yang menjilat dipastikan memiliki jabatan dan cepat promosi. Asal Bos Senang (ABS) mereka dapat mengincar posisi yang mereka mau. Dulu Gunawan bermain mata dengan beberapa karyawan namun semenjak Rara berhasil menaklukan lelaki itu hanya Rara yang dikencani Gunawan.
Rara mendapatkan posisi penting di hati Gunawan. Bahkan gundik itu bersikap otoriter karena Gunawan mendukungnya. Rara bahkan bisa memilih rekan kerja untuk terbang.
Sifat Rara sangat arogan dan berkuasa layaknya Gunawan. Ia bahkan menyombongkan diri pada semua karyawan. Gunawan bertekuk lutut padanya. Rara pernah bersikap arogan karena merasa tidak dihargai oleh pilot. Gara-gara itu sang pilot dimutasi dan tak diberi jadwal terbang. Semua itu terjadi karena pengaduan Rara. Perselingkuhan Rara dan Gunawan sudah menjadi rahasia umum di TA. Rara bahkan tidak malu mengaku sebagai gundik Gunawan.
Para karyawan hanya mengelus d**a melihat sikap tak bermoral Rara dan Gunawan. Rara sudah tak punya malu dan harga diri. Pelakor zaman now lebih berani dari pada istri sah.
Rara jadi bahan gunjingann karena ia berhasil menjadikan Gunawan orang 'Bodoh'. Apa pun permintaan aneh Rara selalu dituruti Gunawan.
Para karyawan TA yakin jika Gunawan sudah dipelet Rara. Pakai pelet tempe atau jaran goyang! Gunawan begitu takluk pada Rara. Bak kerbau dicongek hidungnya. Ada juga karyawan TA menuduh Rara memelet Gunawan melalui celana dalam. Rara menanam celana dalam Gunawan dan menjampinya. Gunawan hanya mau berhubungan dengannya dan lupa istri.
****
Rara berada di sebuah klinik kecantikan di Pantai Indah Kapuk. Rara meminta Gunawan mengantarnya ke klinik kecantikan langganannya. Mey Mey Beauty Clinic adalah klinik langganan Rara untuk perawatan tubuh dan wajah. Hebatnya Rara semua perawatannya dibiayai Gunawan pakai dana TA. Setelah mengantar Rara, Gunawan pergi karena ada rapat terbatas dengan para direksi TA.
Dokter Astrid dengan telaten memeriksa hidung Rara yang meradang akibat tonjokan Irma dan dorongan Tita. Astrid menyuntikan obat penghilang rasa sakit. Untunglah hidung Rara tidak apa-apa.
Andai tonjokan Irma kuat dipastikan hidung Rara di operasi lagi agar bentuknya cantik seperti sedia kala. Tak ada tulang patah di hidungnya. Hanya radang efek ditonjok.
Bagi perempuan yang suka oplas dibagian hidung atau p******a sangat tidak di anjurkan meremas bagian tersebut karena akan merusak jaringan disekitarnya.
"Dok. Hidung saya gapapa?" Tanya Rara merengek manja. Rara sudah menjadi pelanggan tetap mendapat pelayanan spesial.
"Gapapa mbak Rara. Oplasnya udah lewat sebulan yang lalu. Mbaknya terlalu takut aja hingga berpikiran buruk. Untung tonjokannya ga keras. Kalo tonjokannya keras dan tulangnya bergeser baru di operasi."
"Ya udah operasi lagi dok. Yang penting aku cantik, gapapa oplas berkali-kali," kata Rara enteng.
"Ga perlu mbak Rara. Mbak Rara oplasnya udah sebulan yang lalu. Ga oplas pun kalo hidung kita kena tonjok ya sakit mbak. Untuk sekarang ga perlu tindakan operasi mbak. Hidungnya baik- baik saja."
Rara gampang bilang oplas karena bukan dia yang bayar. Semua dibayar Gunawan. Ia rela oplas demi Gunawan supaya laki-laki tidak meninggalkannya dan menjadikannya satu-satunya ratu di hati Gunawan.
Rara dulu berbody semok dan montok. Pipinya chubby. Ia pintar menggoda Gunawan sehingga laki-laki itu bersedia membiayai hidupnya dan membiayainya oplas.
Tubuh Rara langsing karena oplas. Gen keluarga Rara bertubuh subur sehingga Rara sulit memiliki badan ideal, walau sudah diet mati-matian. Rara memutuskan oplas untuk mempercantik diri dan memperoleh tubuh seksi. Berkat oplas semua keinginan Rara terwujud. Wajah oval, kulit putih, badan langsing, p******a montok dan p****t bahenol. Gunawan sangat tergila-gila pada tubuh Rara hingga tak pernah menyentuh Irma.
Rara mengambil Iphone lalu membuat snapgram jika sedang melakukan perawatan. Setiap melakukan perawatan ia selalu membagikannya di medsos. Ia ingin memamerkan kepada semua orang terutama pegawai TA jika ia melakukan perawatan mahal.
Rara manusia bermulut ember. Ia selalu membagikan aktivitasnya di medsos. Mulai dari makan, minum, nyalon, shopping, liburan dan kerja. Ia ingin menunjukan pada dunia siapa dia sekarang. Rara sibuk memainkan Iphone seraya menunggu observasi. Sebuah panggilan telepon masuk. Rara membaca nama pemanggil dilayar Iphone.
"Dina. Ngapain ni anak nelpon?" Rara bicara pada dirinya sendiri. Rara segera menjawab panggilan Dina.
" Incess lo ada dimana?" Dina memanggil Rara dengan sebutan Incess.
Gundik Rara tentu senang dipanggil Incess karena panggilannya sama dengan penyanyi Syahrini. Suatu kebanggaan untuk Rara dipanggil Incess. Dina salah satu pramugari TA yang jago menjilat. Ia menjilat pada Rara agar posisinya aman dan ia memanfaatkan Rara untuk tujuannya. Apa pun permintaan Rara akan dipenuhi Dina. Ibarat kata mereka simbiosis mutualisme (saling menguntungkan).
Dina sebenarnya jijik dengan kelakuan Rara tapi bagaimana pun ia membutuhkan Rara. Jika ia bisa melempar Rara dari Gunawan ia akan melakukannya dan akan menggantikan Rara menjadi gundik Gunawan. Namun sayangnya Gunawan lebih tertarik pada Rara dan lelaki itu tunduk pada Rara. Apa pun akan dilakukan demi Rara walau menjadi orang bodoh sekali pun.
"Gue lagi di Mey Mey Beauty Clinic perawatan. Hidung gue radang abis ditonjok bini Daddy."
"Ya ampun Incess. Lo gapapa?" Dina sok khawatir dan panik. Dalam hati Dina mensyukuri dan malah berharap istri Gunawan melabrak Rara dan menyiram gundik itu dengan air keras.
"Gapapa sich cuma hidung gue radang. Lo tahu kan gue baru oplas sebulan yang lalu di Korea. Gue kesal sama Irma, bininya Daddy. Beraninya nonjok gue."
"Lo emang harus kesal Incess. Masa dia mau merusak hidung mahal lo." Dina bukannya menasehati Rara supaya tidak cari masalah dengan istri Gunawan malah mengompori.
"Emang gue kesal. Gue udah bilang sama Daddy buat kasih pelajaran sama istri dan anaknya bernama Tita. Berani-beraninya mereka bikin gue kayak gini. Gue ga terima direndahkan begini. Gue ke rumah Daddy buat jemput dia dan ingatin rapat eh istri kurang ajar itu malah menghina dan nonjok gue. Gue ini wanita kesayangan Daddy. Untung Daddy segera datang dan marahin perempuan tua itu. Daddy langsung nampar istrinya. Perempuan itu emang ga tahu diri Din. Udah syukur gue ga minta Daddy ninggalin dia. Kalo Daddy ninggalin dia mau makan pake apa?" Kata Rara arogan dan tak tahu malu.
"Ga tahu diri juga istrinya," kata Dina pura-pura membela Rara. "Dah syukur sahabat gue masih berbaik hati. Gemes gue sama istrinya. Udah tua ga tahu diri."
Jika Dina boleh jujur yang ga tahu diri dan ga punya malu itu Rara. Istri Gunawan wajar marah karena Rara berani datang kerumah menjemput suaminya. Istri mana yang tidak meradang jika pelakor datang ke rumah dengan arogan mengaku selingkuhan suaminya?
Pasti semua istri di dunia ini tidak terima perbuatan Rara. Para istri sah pasti ingin menguliti dan menelanjangi Rara ditempat umum. Kalau perlu mereka akan menggunduli kepala Rara dan merusak wajah wanita itu.
"Iya istri ga tahu malu. Untung Daddy bela gue daripada wanita itu." Rara jumawa tersenyum licik.
"Tapi gue juga kesal sama anaknya Din. Tita itu mendorong gue hingga membentur dinding." Rara bercerita dengan gamblang.
Mampus lo! Kenapa ga sekalian aja anak Gunawan mencincang lo? Dina mengumpat dalam hati.
"Gue kesal dengarnya Incess. Jahat banget mereka sama lo. Untung Pak Gunawan bela lo daripada istrinya. Incess kami ga boleh diperlakukan begini. Lo orang baik dan ga layak dapat perlakuan kayak gitu." Dina lagi-lagi menjilat membela Rara. Jilat terus Din ampe licin! Kok tipe manusia kayak Dina banyak dimuka bumi?
"Lo tahu ga apa yang gue lakuin sama istrinya Daddy?" Rara berteka teki.
"Apa?" Seketika Dina kepo.
Apa yang dilakukan gundik sialan ini pada istri Gunawan? Jika Dina jadi istri Gunawan ia akan membayar orang untuk membunuh Rara. Gundik alias pelakor kayak Rara ga boleh dibiarkan hidup.
"Gue pukul kepala istrinya pake vas bunga," ucap Rara tertawa bangga tanpa rasa bersalah.
Dina tertegun dan tak habis pikir dengan perbuatan Rara. Seharusnya istri Gunawan yang memukul Rara bukan sebaliknya. Dina sempat melamun namun ia segera sadar.
"Pak Gunawan ga marah sama lo?"
"Enggak. Malah Daddy bawa gue pergi dari rumahnya. Eh lo ngapain nelpon gue Din?" Rara keasikan cerita hingga lupa menanyakan maksud Dina menelponnya.
"Gue hampir lupa Incess. Daddy lo masuk rumah sakit," ucap Dina sok panik.
Rara kaget dan bangkit dari tempat tidurnya. Ia tak percaya ucapan Dina. Tadi Gunawan baik-baik saja mana mungkin dirawat di rumah sakit.
"Lo jangan bohong!" Rara membentak Dina. Rara kurang percaya dengan informasi Dina.
Dina dongkol dibentak Rara. Bukannya berterima kasih malah dapat bentakan dari Rara.
"Mana berani gue bohong sama lo Incess. Cari mati kalo gue bohongin lo." Dina bicara selembut mungkin.
Dina berusaha menyembunyikan kemarahannya. Jika waktu kehancuran Gunawan dan Rara datang Dina bersumpah menjadi orang pertama yang mentertawai mereka.
"Tatjana anak pertama Pak Gunawan datang ke kantor. Dia datang melabrak Bapaknya. Mereka bertengkar hebat dan Tatjana memukul kepala Pak Gunawan pake asbak rokok hingga berdarah." Dina melanjutkan ceritanya.
Darah Rara mendidih dan murka pada Tatjana. Rara mengepalkan tangan emosi. Beraninya Tatjana menyakiti Gunawan. Tanpa peduli sedang dalam masa observasi Rara meninggalkan klinik dan bergegas menuju rumah sakit.