Sudah sebulan Rara dirawat di Seoul, Korea Selatan. Efek pukulan Tatjana membuat Rara harus operasi ulang hidungnya yang sudah tak berbentuk. Tulang hidungnya patah dan mengalami infeksi. Rara tak percaya dengan rumah sakit Indonesia untuk melakukan bedah plastik. Ia merengek minta oplas pada Gunawan. Dasar bucin Gunawan memenuhi permintaan konyol Rara. Gunawan menggunakan uang TA untuk mengoperasi Rara.
Dokter bermata sipit masuk dalam ruangan Rara. Ia mengontrol kondisi Rara. Dokter muda nan tampan itu membuka perban di wajah Rara. Untuk operasi kali ini Rara harus rela bertahan satu bulan di rumah sakit. Selama itu juga ia mengajukan cuti panjang dengan alasan long sick.
Rara begitu mudah mendapatkan cuti karena ada campur tangan Gunawan. Kaki tangan Gunawan sangat banyak dan siap menjilat sampai licin. Cuti Rara hal yang mudah untuk dikabulkan. Coba pramugari lain, sudah pasti tidak dapat izin dan akan berujung pemecatan. Hubungan gelap Rara dan Gunawan sudah menjadi rahasia umum di TA. Rekan kerja berhati-hati dengan Rara, jangan menyinggungnya kalo tidak ingin di PAPUAKAN atau turun jabatan sekelas OB. Gunawan sanggup melakukan semua itu demi cintanya pada Rara.
"Perfect," ucap dokter muda bernama Park Jin He. "Kamu lebih cantik dari yang kemarin," ucap Dokter
Park dalam bahasa Inggris.
Dokter Park memuji kecantikan Rara dan mengagumi hasil karyanya. Sudah banyak wanita diselamatkan pisau bedah dokter Park. Mereka yang insecure menjadi percaya diri setelah dioplas dokter Park. Dulu mereka dibully karena memiliki fisik tak sempurna dan sekarang mereka mendapat sanjungan karena kecantikan mereka.
"Benarkah?" Tanya Rara tersipu malu.
Rara meminta perawat memberikannya cermin. Perawat cepat tanggap dan segera memberikan cermin untuknya. Rara menatap pantulan dirinya dicermin. Ia bersorak gembira karena hasil yang ia dapatkan jauh lebih bagus dari ekspektasinya.
"Dokter kau selalu memuaskanku. Aku suka dokter. Aku sangat suka. Ini lebih cantik dari sebelumnya. Dokter tanganmu benar-benar ajaib. Aku suka sekali. Kau benar-benar pahlawanku." Rara refleks memeluk dokter Park. Awalnya dokter Park kaget mendapatkan pelukan dari Rara namun perlahan-lahan lelaki tampan itu membalas pelukan Rara.
"Kau boleh pulang. Perjuanganmu selama sebulan ini sudah berakhir. Saatnya menghadapi dunia nyata." Dokter Park melepaskan pelukannya.
"Terima kasih dokter. Kau malaikatku. Jika berlibur ke Indonesia hubungi aku. Aku akan jadi tour guide. Gratis." Rara menawarkan diri.
"Tawaran yang sangat menarik. Jika aku ke Bali aku akan menghubungimu," kata dokter Park mengelus rambut Rara.
Perlakuan manis dokter Park memberikan kesan yang mendalam untuk Rara. Pikiran nakal Rara muncul, memiliki hubungan dengan dokter Park dan membuang Gunawan.
Rara tahu bukan hanya dia sugar baby Gunawan masih ada beberapa pramugari lainnya. Namun karena kelicikannya, Rara bisa menendang saingannya dari sisi Gunawan.
Rara tahu dia dan Gunawan tak akan bersama selamanya. Gunawan akan turun tahta dan tidak akan mempunyai jabatan. Selama Gunawan berkuasa ia akan memanfaatkan sang sugar daddy untuk memperkaya diri dan menikmati hidup mewah.
Rara mengemasi barang-barangnya. Sebulan di rumah sakit membuatnya bosan. Ia bertahan demi kecantikan paripurna idamannya. Rara mewarisi gen gendut dari sang ibu. Bagaimana pun perjuangannya diet tidak akan pernah kurus. Oplas di Seoul ia mendapatkan tubuh kurus dan langsing.
Sebelum kembali ke Jakarta Rara ingin liburan sejenak di Seoul menghilangkan stress dan cuci mata. Rara memutuskan pergi ke club dekat distrik gangnam. Kebetulan Rara juga oplas di rumah sakit kawasan distrik gangnam.
Letak Gangnam sendiri ada di dekat sungai Han. Distrik ini dikenal sebagai simbol kekayaan dan pendapatan yang melimpah di Korea, sehingga Gangnam menjadi salah satu distrik yang terkenal dengan kehidupan mewah, glamour dan selera fashion yang sangat tinggi.
Bisa dikatakan, Gangnam adalah pusat orang-orang berduit, kawasan real estate super mewah dan tempat dimana berbagai perusahaan kelas dunia berdiri seperti Samsung dan Hyundai. Setelah menaruh kopernya di hotel Rara melangkahkan kaki ke club Octagon Seoul.
Club Octagon Seoul merupakan club malam paling terkenal dan populer di Seoul. Rara menghampiri meja bartender meminta segelas wine. Ia benar-benar puas menghabiskan malam di distrik gangnam yang begitu elit dan mahal. Darimana Rara mendapatkan uang? Tentu saja dari Gunawan. Setelah melayani lelaki itu, Gunawan selalu memberikan tiga gepok dollar. Terkadang sikap kampungannya muncul, Rara memamerkan uang dollarnya di media sosial. Menunjukan pada dunia inilah dirinya sekarang. Hidup dalam kemewahan dan bergelimang harta.
Rara menghabiskan minumannya. Setelah itu ia menari di lantai dansa. Ia merasa bebas dan lepas. Rara menari dengan sensual sehingga para pria disana ingin mengajaknya berdansa dan membawanya ke ranjang. Menggunakan dress pendek memperlihatkan paha mulus dan betis indahnya.
Dua orang pria adu jotos karena berebut mendekati Rara. Mereka ingin berdansa dengan Rara dan menghabiskan malam bersama. Rara risih melihat dua orang pria bertengkar karena dirinya. Rara memutuskan turun dari lantai dansa dan kembali duduk di meja bartender. Namun salah seorang dari pria yang adu jotos tadi menarik tangannya kasar setelah membuat lawannya tak berdaya.
“ I need you," ucap si pria nakal.
"Lepaskan aku b******k," umpat Rara dalam bahasa Inggris.
"Tidak semudah itu cantik. Kau sendiri aku juga sendiri. Apa salahnya kita menghabiskan malam bersama?"
Rara membuang ludah di depan pria tersebut,"Aku tak sudi bersama hidung belang seperti dirimu. Cari saja mangsa lain."
"Kau jangan sombong. p*****r jangan jual mahal," sindir lelaki itu tak kalah pedas.
Rara menampar lelaki dengan keras. Ia tak terima dibilang p*****r.
"Jaga bicaramu! Aku tidak mengenalmu. Pergi dari hadapanku." Rara meludahi sang lelaki.
Pria Korea itu marah besar tak terima dihina. Apalagi semua mata tertuju padanya. Pandangan tajam pengunjung club membuat harga dirinya jatuh. Pria itu ingin menampar balik Rara namun seseorang menahan tangannya.
"Jauhkan tanganmu. Kau bertindak seperti banci. Jika dia tidak mau jangan dipaksa," ucap malaikat penolong Rara ketus.
"Dokter Park." Rara menutup mulutnya yang menganga karena kaget. Rara tak pernah menduga akan ditolong dokter Park dalam situasi seperti ini.
Dokter Park mengulas senyum. "Pergi kau dari sini. Dia kekasihku," ucap dokter Park dalam bahasa Korea. Lelaki itu segera pergi setelah mendengarkan ucapan dokter Park.
"Terima kasih dokter. Sekali lagi kau menjadi malaikat penolongku."
"Jangan memanggilku dokter." Dokter Park menaruh telunjuknya di bibir Rara.
"Panggil saja Jin He. Panggil dokter ketika di rumah sakit saja."
"Aku sudah terbiasa memanggilmu dokter."
"Kenapa hanya sendiri? Tidak membawa teman?" Jin He mencari keberadaan teman Rara.
"Aku tidak punya teman disini. Aku sendiri. Aku mau rileks sebelum kembali ke Jakarta."
"Maukah kau minum bersamaku?" Jin He mengajak Rara menemaninya minum. Kebetulan ia juga datang sendiri. "Suatu kehormatan diajak minum dokter Park Jin He,"
ucap Rara sambil merunduk layaknya orang Korea pada umumnya.
"Sikapmu terlalu berlebihan Rara," ucap Jin He tertawa lucu melihat sikap konyol Rara.
Jin He merangkul Rara dengan mesra menuju meja bartender. Mereka berlomba meminum wine.
"Jika boleh tahu kenapa hidungmu sangat mengenaskan saat datang padaku. Sudah tak ada bentuknya lagi?" Jin He ingin tahu penyebab hidung Rara rusak.
"Kau mau jawaban jujur atau bohong?" Rara memberi pilihan.
"Tentu saja jujur." Jin He berbisik di telinga Rara.
Musik terlalu keras sehingga mereka bicara saling berbisik.
"Kau pasti akan memakiku jika tahu kejadian sebenarnya."
"Tergantung situasinya."
"Aku dipukul anak dari teman kencanku. Aku menjadi simpanan dirut tempatku bekerja. Aku terpaksa menjadi simpanan lelaki itu supaya aku tidak di grounded alias tidak diberi jadwal terbang. Bagi pramugari sepertiku petaka tidak dapat jadwal terbang. Gaji yang aku terima hanya gaji pokok. Sementara aku tulang punggung keluarga. Aku wanita simpanan. Timbal balik jadi simpanan dia memberikanku kemewahan."
"Wawww luar biasa anak sugar daddymu." Tanpa sengaja Jin He memberi pujian pada orang yang memukul Rara.
"Jika anaknya memukulmu, berarti anak teman kencanmu sudah dewasa? Jadi kau mengencani pria tua?" Ledek Jin He tertawa ngakak.
Rara merungut kesal karena candaan Jin He. Ia terlalu sensitif.
"Nah baru saja aku peringatkan kau sudah meledekku. Aku tidak cerita," gerutu Rara kesal. Ia mengalihkan kekesalannya dengan minum. Ia meminta bartender menuangkan wine.
"Rara just kidding. Kau jelek jika cemberut seperti itu." Jin He meledek sekali lagi. Lelaki tampan bermata sipit itu bicara ceplas ceplos. Gayanya beda sekali ketika di rumah sakit.
"Dokter Park Jin He jangan menggodaku lagi."
Jin He memegang dagu Rara. Ia menatap bola mata Rara. "Jika kau masih cemberut ketika aku bercanda, aku tak segan melumat bibirmu," Jin He memberi ancaman.
"Coba saja kalau berani." Rara balik menantang Jin He. Tanpa aba-aba Jin He melumat bibir Rara hingga wanita itu kaget dan tak sempat mengelak. Bartender hanya membuang muka ketika melihat mereka berciuman. Jin He melumat bibir lembut Rara dan berusaha memasukan lidah ke mulut Rara. Ciuman spontan dan liar Jin He membuat wanita itu kehabisan napas. Puas mencium Rara, Jin He melepaskan
ciumannya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Jangan pernah menantangku. Jika kau menantangku lagi aku akan membawamu ke ranjang."
"Siapa takut," ledek Rara mentertawai Jin He.
Jin He bangkit dari tempat duduknya. Lelaki itu mendekati Rara dan menariknya. Rara disandarkan pada dinding. Jin He mengelus wajah Rara dan elusannya turun ke leher. Rara menutup mata menikmati sentuhan demi sentuhan Jin He. Ketika bersama Gunawan ia tak pernah menikmati sentuhan lelaki itu. Ia mendesah demi memuaskan Gunawan. Sentuhan Jin He membuatnya gila. Timbul ide gila dalam otaknya ingin bercinta dengan Jin He. Ia menginginkan pelukan Jin He dan menghabiskan malam dengan desahan mereka.
"Ternyata anda sangat liar dokter," ucap Rara sensual. "Jangan bermain api dokter jika anda tidak ingin terbakar. Aku tidak mau dicakar oleh istrimu. Aku takut wajahku rusak lagi."
"Aku tidak memiliki istri. Kami sudah lama bercerai.
Aku seorang duda Rara Rinjani." Jin He menjilat telinga Rara.
Bulu roma Rara berdiri karena perbuatan Jin He.
Wanita itu mengelus d**a bidang sang dokter.
"Aku menginginkanmu," kata Jin He arogan dan membawa Rara pergi dari club.
Jin He membawa Rara ke apartemennya yang berada tak jauh dari distrik gangnam. Baru saja pintu apartemen terbuka mereka sudah berciuman dengan panas. Pengaruh minuman membuat mereka kehilangan akal sehat.
Mereka saling mengulum bibir dan membelit lidah. Lidah bertemu lidah. Mereka menikmati cumbuan mereka. Tangan Jin He bergerak menelusuri tubuh Rara. Dengan gemas lelaki itu meremas d**a montok Rara. Perempuan itu mendesah kuat karena sentuhan Jin He. Rara menjambak rambut belakang Jin He. Ciuman mereka semakin panas.
Disela ciuman mereka Rara melepas satu persatu kancing baju Jin He hingga lelaki itu bertelanjang d**a. Rara mengagumi tubuh atletis lelaki itu. Jauh berbeda dengan Gunawan.
Tak mau kalah Jin He juga melepaskan dress Rara. Jin He menurunkan resleting belakang dan melorotkan dress Rara. Wanita itu hanya memakai bra dan celana dalam. Gairah Jin He semakin meningkat ketika melihat d**a Rara. Gemas dengan pemandangan di depannya Jin He menubruk Rara hingga terbaring di ranjang. Ia menindih tubuh Rara. Lelaki itu membuka kaitan bra Rara. Jin He menggigit kedua p****g Rara secara bergantian dan menyusu layaknya anak kecil. Rara mendesah panjang karena menikmati hisapan Jin He di dadanya.
Puas bermain-main dengan d**a Rara. Lelaki tampan itu melepaskan celana panjang dan celana dalamnya. Dalam satu hujaman kasar tubuh mereka menyatu. Jin He meringis antara sakit dan nikmat. Desahan dan racauan mereka memenuhi kamar. Mereka berdua bermandikan keringat. Walau kamar menggunakan AC mereka tetap saja kepanasan.
Mereka terbakar gairah. Percintaan yang sangat panas. Baru kali ini Rara menikmati apa itu bercinta. Rara pertama kali bercinta dengan pacarnya. Saat itu yang ia rasakan kesakitan karena baru pertama kali. Hanya ada rasa sakit dan darah. Tak ada kenikmatan. Saat melayani Gunawan ia juga tidak menikmatinya, hanya melayani nafsu sang daddy. Ia hanya pura-pura o*****e supaya Gunawan senang.
Rara seperti berada di surga. Gerakan Jin He diatas tubuhnya membuatnya merem melek. Tak pernah ia mendapatkan kenikmatan bercinta seperti sekarang. Mereka bercinta gila-gilaan.
" Kau hebat sayang," puji Rara sambil mencium bibir
Jin He.
Mereka bercinta berulang kali hingga kelelahan.
Mereka ambruk dan tertidur pulas.
*****
Tatjana baru saja selesai rapat dengan tim pengembangan dan marketing. Rapat kali ini membahas peluncuran game terbaru mereka. Semuanya sudah dipersiapkan secara matang. Mereka mengatur jadwal yang tepat meluncurkan game terbaru mereka.
"Bagaimana Bu bos apa kamu puas dengan rapat tadi?" goda Dion ketika mereka tinggal berdua.
Tatjana dan Dion sepasang kekasih dan mereka berdua CEO More Games. Tatjana hanya ingin menjadi CEO rahasia. Selama ini publik hanya mengetahui Dion sebagai CEO More Games.
"Kamu selalu memuaskan sayang," balas Tatjana menggoda Dion.
"Sayang jangan bersikap seperti ini. Jika tidak ingin aku makan." Gerakan Dion seperti harimau yang akan menerkam mangsanya. Lelaki itu meraih tangan Tatjana.
"Aku ingin kita segera menikah. Maukah kamu menikah denganku Tatjana Putri Gunawan?"
Tatjana hanya tertawa dan menutup mulutnya. "Lamaran macam apa ini Dion? Aku ingin dilamar dengan sebongkah berlian, diiringi musik jazz dan berdansa."
"Jika itu yang kamu inginkan akan aku lakukan sayang. Apa sich yang enggak buat kamu? Jangankan berlian nyawa pun aku berikan."
Tatjana diam dan memberi jawaban. Ia berpikir sejenak. "Dion bisakah kita membahas pernikahan ketika masalah kedua orang tuaku selesai?"
Dion menghela napas panjang. Ia harus sabar menikahi Tatjana. "Bukankah kamu sudah memberi gundik itu pelajaran?"
"Masih permulaan. Aku akan berhenti ketika mereka berdua berhenti. Aku akan melampiaskan rasa sakit ma....," ucapan Tatjana terpotong karena dering Iphonenya.
Tatjana segera mengangkat panggilan masuk setelah membaca nama penelpon. Detektif Alvin.
"Bu perempuan itu sudah keluar dari rumah sakit. Ia pergi ke club distrik gangnam dan juga one night stand dengan dokter yang mengoperasinya. Foto-fotonya akan saya kirim via WA."
Tatjana tersenyum licik,"Kerja yang bagus. Selalu awasi gundik itu. Laporkan semua kegiatannya padaku. Bonusmu segera aku kirim."
"Terima kasih Bu."Alvin bersorak gembira karena mendapatkan bonus.
Tak berapa lama setelah sambungan telepon putus. Tatjana menerima foto mesra Rara dan Jin He berciuman panas di club. Tak hanya foto Alvin juga mengirimkan video ciuman panas Rara.
"Liatlah sayang betapa murahannya wanita ini." Tatjana memperlihatkan foto ciuman Rara pada Dion.