Menemui Gundik

2349 Kata
Tatjana menuju rumah sakit menemui Irma dan Tita setelah menghajar Gunawan. Sepanjang perjalanan air mata Tatjana tak henti mengalir dari kedua matanya. Ia tak habis pikir kenapa rumah tangga kedua orang tuanya berantakan seperti ini. Sebagai anak, Tatjana berharap pernikahan orang tuanya awet hingga maut memisahkan. Hanya ada papi, mami, ia dan Tita.   Tatjana mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di rumah sakit. Sebagai CEO More Games Tatjana sebenarnya memiliki sopir pribadi namun karena ada urusan keluarga ia menyetir sendiri.   Keluarganya tak tahu jika Tatjana seorang CEO. Semenjak kecil Tatjana sangat tertarik dengan hal yang berbau komputer sehingga ia memiliki ilmu IT secara otodidak. Dari kecil hingga dewasa ia selalu diatur oleh Gunawan. Dimana sekolah dan harus jadi apa. Tatjana dan Tita tumbuh dibawah tekanan Gunawan. Sang papi sangat otoriter dan tak suka dibantah. Menjadi pramugari bukanlah keinginannya. Tatjana terpaksa menjadi seorang pramugari karena keinginan Gunawan dan permintaan Irma.   Tatjana memarkirkan mobilnya. Gadis cantik nan imut itu segera menuju ruang perawatan maminya.   Tatjana membuka pintu. Terlihat Irma dan Tita sedang mengobrol dengan deraian air mata. Irma sudah tak tahan dan tak kuat menjadi istri Gunawan. Suaminya sudah tak bisa dipertahankan. Kesabaran Irma sudah diambang batas. Ia sudah tak sanggup menjalani biduk rumah tangga dengan Gunawan. Irma melihat kedatangan Tatjana. "Kak." Irma memanggil Tatjana lirih. Mata Irma berkaca-kaca menyambut Tatjana.   Tatjana berlari mendekati Irma dan memeluknya. Tangis Tatjana pecah melihat kondisi lemah dan wajah pucat mami. Tak hanya itu mata Irma sembab dan bengkak karena menangis. Istri mana yang tidak sedih dan kecewa jika sang suami memukulnya karena membela selingkuhannya.   "Mi. Kenapa bisa jadi seperti ini?" Tatjana bertanya seraya mengecup kening Irma.   "Mami juga ga tahu kak. Wanita itu datang ke rumah mencari papi dan dia mengancam mami. Dia akan menyebarkan foto dan video syurnya bareng Papi." Irma bicara terbata bata.   "Kak jangan tinggalin mami sama Tita. Saat ini mami butuh kalian berdua. Hanya kalian tempat mami bersandar. Kalianlah penguat mami."   Tatjana menyentuh kedua pipi Irma. "Aku janji ga bakalan tinggalin kalian lagi. Maafkan keegoisan aku pergi dari rumah. Mulai hari ini kita akan tinggal bersama. Aku akan ada untuk mami dan Tita."   "Jadi lo mutusin balik ke rumah kak?" Tita menatap Tatjana lekat. Tatjana menggeleng.   "Kalo ga balik ke rumah kita tinggal dimana kak?"   "Kita tinggal di apartemen gue."   Irma kaget Tatjana memiliki apartemen. Darimana Tatjana punya uang membeli apartemen? Setahu Irma setelah resign dari TA Tatjana tidak memiliki pekerjaan dan tak memiliki banyak uang di rekening untuk membeli sebuah apartemen.   "Kamu sewa apartemen kak?" Irma bertanya dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Tatjana.   "Punya aku sendiri Mi."   "Sebagai orang tua. Bolehkah mami bertanya darimana kamu punya uang untuk membeli apartemen? Mami ga mau kamu salah jalan kak."   Tatjana tersenyum menatap sang mami."Alhamdulilah aku ga salah jalan Mi. Sudah saatnya kalian tahu apa yang aku kerjakan diluar sana setelah pergi dari rumah."   "Lo enggak jadi sugar baby kan kak?" Tanya Tita memotong pembicaraan Tatjana.   Sugar baby adalah istilah untuk perempuan muda yang menjadi simpanan dari lelaki yang sudah beristri. Dimana laki-laki tersebut memberikan fasilitas dan materi yang melimpah untuk si wanita.   "Kalo gue jadi sugar baby ga jauh beda gue ma gundik papi. Gue wanita terhormat. Mami dan Tita tahu kalo aku jago IT. Aku dan Dion bikin perusahaan aplikasi games. More Games adalah perusahaan kami berdua. Kami berdua CEO More Games."   "Jadi lo salah satu CEO misterius dari games ternama itu?" tanya Tita dengan mata membola. Ia seakan tak percaya kakaknya bisa sehebat itu.   Bukan hanya Tita yang kaget dan tak percaya. Irma juga merasakan hal yang sama. Perasaannya campur aduk antara bangga, kaget, dan takjub. Putri sulungnya bisa sukses tanpa bantuannya.  Mengingat kata 'gundik' wajah Irma mendadak mendung. Ingatan dilabrak Rara dan dipukul Gunawan berputar di memorinya. Entah apa yang diberikan Rara pada Gunawan hingga sang suami gelap mata dan tega memukulnya. Bahkan ketika Rara memukulnya Gunawan hanya diam dan meninggalkannya. Istri mana yang tak terluka dan sakit hati diperlakukan seperti itu. Irma kembali menangis melepaskan sesak di dadanya.   "Mi jangan pernah tangisi lelaki tua itu. Mulai sekarang lupakan dia dan anggap dia tak pernah ada," ucap Tatjana menenangkan Irma.   "Kak. Mami mau cerai sama papi. Mami udah ga kuat kak. Mami lelah dan capek dengan semua ini." Irma menyerah dengan pernikahannya.   Selama ini Irma sudah berusaha mempertahankan pernikahannya walau sering dikhianati. Irma juga manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Kejadian tadi menyadarkan Irma bahwa pernikahannya sudah tak sehat dan tak bisa dipertahankan lagi.   "Mami akan cerai sama papi tapi bukan sekarang," kata Tatjana menyulut emosi Tita.   "Lo gimana sich kak? Kemaren-kemaren lo maksa mami buat cerai sama papi. Maminya udah mau lo bilang bukan sekarang. Plin plan banget jadi orang." Tita memprotes Tatjana.   "Mami akan cerai ketika karier papi sudah hancur. Disaat papi terpuruk mami minta cerai. Biar lelaki tua itu sadar saat dia bukan siapa-siapa lagi tak ada keluarga disampingnya," ucap Tatjana berapi-api.   "Maksud kamu apa kak? Jangan bilang kamu akan menghancurkan papi? Sejahat apa pun papi dia tetap ayah kamu. Darah lebih kental daripada air. Biar Allah yang membalas semua perbuatan papi. Mami ikhlas kak. Mungkin ini takdir mami."   "Tunggu pembalasan Tuhan lama banget mi. Biarlah aku berikthiar membalas semua perbuatan papi sama mami. Jika terus dibiarkan papi semakin menjadi jadi. Sudah terlalu banyak orang yang disakiti dan dizalimi papi. Gundik sok kuasa itu akan aku beri pelajaran."   "Aku setuju dengan pendapat kakak. Aku udah muak liat papi dan aku sakit hati banget sama gundik itu. Masa dia lebih berkuasa daripada Mami. Aku seribu persen setuju kakak memberi pelajaran buat papi dan gundik itu." Tita menyetujui ide gila Tatjana.   "Tadi aku mampir ke kantor papi sebelum kesini. Aku sudah peringatkan papi sayangnya papi menabuhkan genderang perang denganku. Kami bertengkar hebat. Maafkan aku telah menyakiti suami mami."   "Apa yang lo lakukan kak?" Tita kepo.   "Gue tadi ditampar papi dan gue mukul kepala papi pake asbak rokok. Papi babak belur kayak mami dan mungkin dirawat di rumah sakit."   Irma dan Tita shock. Mulut mereka menganga. Seorang Tatjana Putri Gunawan bisa barbar? Dimana kelembutan dan keramahannya selama ini? Satu hal yang disadari Irma jika anak sulungnya telah berubah dan bukan gadis lemah seperti dulu.   Dering Iphone Tatjana memekakkan telinga. Tatjana segera mengangkat panggilan si penelpon.   Si penelpon melaporkan bahwa Rara berada di rumah sakit menemani Gunawan. Tatjana tertawa jahat setelah menerima laporan. Senyum terukir dari bibirnya.   "Kenapa lo senyum-senyum kak?" Tita menatap Tatjana curiga.   "Papi dirawat di rumah sakit dan gundik sialan itu ada disana."   "Lantas kenapa kamu senang gitu kak?" Irma menatap Tatjana ngeri. Ia melihat sisi lain dari anaknya.   "Mau kasih hidangan pembuka untuk gundik itu sebelum kasih hidangan utama."   "Maksudnya?"   "Mami aku ijin sebentar menemui mereka. Berikan restu mami biar semua pelajaran ini bisa mereka terima dengan baik."   "Maksud lo apa kak?" Tita tak mengerti arah pembicaraan Tatjana.   "Pergilah kak. Wakilkan mami melepaskan sakit hati pada mereka berdua."   Tatjana pergi menuju rumah sakit tempat Gunawan dirawat. Irma sudah memberinya restu. Ketika sudah sampai di depan kamar perawatan Tatjana membuka pintu kamar namun terkunci dari dalam.   Gunawan dirawat di ruang VVIP. Kamarnya memiliki kunci pintu digital. Sebagai seorang ahli IT bukan suatu hal yang sulit untuk membobol pintu digital. Tatjana mengambil smartphone. Jari tangannya bermain mengotak atik smartphone. Tatjana membobol CCTV rumah sakit terlebih dahulu sebelum membobol pintu kamar perawatan Gunawan. Ia tak mau ketahuan jika membobol pintu kamar Gunawan. Setelah berhasil mematikan CCTV sekitar ruangan perawatan Tatjana segera membobol kunci pintu digital. Tak butuh waktu lama pintu sudah tak terkunci. Tanpa mengeluarkan suara Tatjana memasuki ruangan Gunawan.   Tatjana murka mendengar percakapan Gunawan dan Rara. Tak hanya sukses sebagai pelakor Rara juga sukses sebagai tukang hasut.   "Saya akan memberi mereka pelajaran," ucap Gunawan lantang.   "Kalo perlu jangan kasih nafkah buat Irma. Biar dia kapok dan ga berani bantah daddy lagi. Mana dia bisa hidup tanpa uang daddy."   "Kamu benar sayang. Aku akan melakukan seperti yang kamu katakan." Gunawan memeluk Rara erat.   "Dasar  gundik  ga  tahu  malu,"  maki  Tatjana  murka.   Mulutnya sudah gatal ingin mengatai dan menampar Rara.   Gunawan   dan   Rara    melepaskan    pelukan    mereka.   Gunawan mengucek matanya memastikan tak salah liat.   "Tatjana," panggil Gunawan lirih.   Tatjana memandang tajam pada Rara. Matanya bak mata pisau yang siap mengiris wajah oplas Rara. Ini sosok sang gundik? Tatjana memandangi Rara dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.   Tatjana berdecih meremehkan Rara. Ternyata selera papinya sangat rendah. Rara tak berani menatap Tatjana. Sorot tajam dari Tatjana membuat nyalinya ciut. Rara melihat Tatjana berbeda dengan Irma. Tatjana sosok yang kuat dan tidak lemah seperti ibunya. Jika Gunawan saja KO apalagi dirinya.   "Gimana kamu bisa masuk ruangan ini? Pintu sudah aku kunci." Tanya Rara dengan ekspresi kaget. Wajahnya memutih.   "Cara gue masuk sini ga usah lo tanya." Tatjana bertepuk tangan. "Lo ga sekedar w************n ya. Udah murahan mulut lo berbisa. Racunnya lebih mematikan dari ular kobra. Bisa-bisanya lo hasut papi gue buat menyakiti anak dan istrinya. Dasar p*****r tak punya hati."   "Tatjana jaga ucapan kamu." Gunawan meradang karena Tatjana menghina Rara.   "Aku ngomong fakta pi. Kenapa harus jaga ucapan? Harusnya papi jaga kemaluan biar ga serong sana serong sini," ucap Tatjana tajam dan frontal.   Gunawan tertohok mendengar ucapan Tatjana. Rara mematung dan diam ditempat. Entah aura apa yang dipancarkan Tatjana hingga ia ketakutan. Tatjana mengelilingi Rara. Matanya tak lepas dari tubuh Rara.   "Pi. Ternyata selera papi rendahan banget. Kalo mau selingkuh cari lebih tinggi levelnya dari mami. Keliatan banget murahan dan onderdilnya kw. Oplas aja kayak gini apalagi aslinya. Pasti jelek. "Tatjana mencibir fisik Rara. Walau body shaming merupakan kejahatan tapi untuk seorang Rara kata-kata itu pantas diucapkan.   Tatjana mencubit hidung Rara hingga wanita itu berteriak histeris. Sakit yang tadi belum sembuh dan Tatjana malah menambah rasa sakitnya. Gunawan bangkit menolong Rara, namun tertahan karena tangannya dipasang infus.  "Please papi. Jangan sok berlagak pahlawan. Jangan berani menolong gundik ini. Sugar daddy mau melindungi sugar baby. Papi tenang aja disana. Jadi penonton yang baik," ucap Tatjana lembut namun terdengar mengerikan di telinga Gunawan.   Tatjana menjambak rambut Rara. Jambakan Tatjana sangat kasar hingga Rara berteriak kesakitan. Wanita itu melawan namun kalah kuat. Semakin Rara melawan jambakan di rambutnya makin kasar.   "Buka telinga lo lebar-lebar p*****r kecil. Sakit yang lo rasakan belum seberapa dengan rasa sakit yang dirasakan mami gue. Jika lo masih sayang sama diri lo. Jauhi papi gue dan enyah dari kehidupannya. Lo masih muda dan masa depan lo masih panjang. Umur lo dibawah gue. Yang lo selingkuhin itu Bapak gue. Bapak gue sepantaran sama Bapak lo. Gue peringatkan untuk pertama dan terakhir kalinya. Jangan menjadi duri dalam daging. Jangan bermain api jika tak ingin terbakar. Jangan pernah merusak kebahagiaan wanita lain. Ga kasian sama ibu dan adik lo dikampung? Jika aib lo gue umbar gue jamin lo ga bakal mau hidup lagi."   Rara meringis menahan rasa sakit. Ia memberontak dan balik menjambak rambut Tatjana.   "Gue gak selemah yang lo kira," ucap Rara angkuh. Ia balik mendorong Tatjana hingga jatuh membentur dinding.   "Ternyata lo punya nyali juga p*****r," cibir Tatjana seraya tertawa.   "Gue bukan p*****r. Jaga ucapan lo." Rara tak terima penghinaan Tatjana.   "Kalo ga p*****r trus apa? Abis ena-ena sama Bapak gue trus lo dibayar dan dibiayai oplas. Kalo bukan p*****r gue nyebut lo apa? Istri muda juga mungkin karena lo ga dinikahin sama Bapak gue."   "Tatjana hentikan!" Hardik Gunawan tegas.   "Daddy. Biar aku selesaikan masalah ini. Dad istirahat aja." Rara menenangkan Gunawan.   "Kasih tahu tipsnya dong kenapa Bapak gue tunduk banget sama lo? Lo pakai jaran goyang apa pelet tempe?"   "Hentikan omong kosong lo! Sudah cukup lo menghina gue. Gue wanita terhormat." Rara menatap Tatjana bak singa lapar.   "Lo sendiri yang bikin diri lo terhina. Gimana lo mau jadi wanita terhormat jika harga diri lo aja udah tergadaikan. Abis di grepe-grepe papi gue lo disiram duit. Trauma hidup miskin ya?" Cemooh Tatjana.   Tatjana tahu jika ucapannya sudah keterlaluan. Namun rasa sakit lebih mendominasi dan membuatnya lepas kendali. Tatjana sudah tahu identitas dan latar belakang Rara dari detektif bayarannya. Dalam hitungan jam ia sudah mengetahui dimana Rara lahir, sekolah, tempat tinggal dan pekerjaan orang tua Rara.   Rara berasal dari keluarga kurang mampu. Ayahnya hanya seorang buruh dan sudah meninggal. Ibunya hanya ibu rumah tangga. Mereka tinggal di sebuah rumah kecil kecil nan sempit. Semenjak Rara kerja di TA dan jadi gundik, Rara bisa membuat rumah mewah untuk sang ibu. Ia mendapatkan uangnya dari Gunawan.   "Kalo mama lo tahu kerjaan lo jadi gundik lintas BUMN gimana ya? Mungkin mama lo serangan jantung."  Rara menampar Tatjana karena mengancamnya dengan membawa sang ibu.   "Jangan pernah libatkan ibu gue dalam masalah ini. Setetes aja air mata ibu gue keluar karena lo. Gue ga segan bunuh lo." Rara balik mengancam Tatjana.   Tatjana berdecih menghina Rara. Sekali gundik tetap saja gundik. Harga diri tergadai oleh uang. Demi hidup mewah dan glamour rela jadi simpanan om-om.   Tatjana mengambil air minum di meja. Ia menyiram tubuh dan rambut Rara. Baju Rara basah.   "Lo marah ketika gue ungkit tentang ibu lo. Itu yang gue rasakan gundik ketika lo nyakitin mami gue. Kalo ga mau dicubit jangan cubit duluan. Lo wanita tapi ga punya hati. Harta sudah membutakan lo. Gue tahu lo jadi gundik karena dapat kemewahan dari papi. Lo trauma hidup miskin. Papa lo cuma buruh, tinggal di rumah sempit dan kumuh. Lo ga tahu diri dan gengsian. Ga mau kalah dari orang lain."   "Cukup! Hentikan ucapan lo." Rara menyerang Tatjana dengan brutal. Gunawan menghela napas melihat pertengkaran mereka. Ia tak bisa berbuat apa-apa.   Merasa lawannya tangguh Tatjana tersenyum licik. Rara mencakar wajah dan menjambak rambut Tatjana. Sudah puas bermain-main dengan Rara. Tatjana pun melawan. Ia menonjok hidung Rara dengan keras hingga terdengar bunyi krak. Darah segar meluncur dari hidung Rara.   "Awwww............sa.......kit........." Rara berteriak histeris.   Tonjokan Tatjana sangat mematikan dan Rara merasa akan mati. Mungkin sudah takdirnya mati ditangan Tatjana.   "Dad......sakit   dad........Dia   jahat........Dia   mau  bunuh aku." Rara mengadu pada Gunawan. Ia merintih kesakitan seraya merangkak mendekati ranjang Gunawan meminta perlindungan.   "Tatjana apa yang kamu lakukan?" Gunawan stress melihat keadaan Rara. Tatjana mengangkat bahunya seolah tak terjadi apa-apa.   Darah membasahi lantai. Rintihan Rara membuat hati Gunawan serasa diremas. Ia tak menyangka Tatjana setega ini. Bukannya prihatin Tatjana malah menjambak rambut Rara dengan kasar.   Rara memekik pilu dan menyayat hati. Tatjana hobi olahraga muang thai. Tak heran pukulannya sangat mematikan. Jika Rara tak mulai mukul duluan mungkin Tatjana tak akan memukul Rara hingga berakhir mengenaskan.   "Rara," pekik Gunawan histeris. Gunawan seperti orang gila menyaksikan Rara tergolak lemah dan darah tak berhenti keluar dari hidungnya.   "Kamu keterlaluan kak."   "Kalian yang keterlaluan. Mikir dulu sebelum ngomong."   Rara tersungkur dilantai. Ia berteriak kesakitan. Tepat saat itu perawat dan dokter datang ke ruangan Gunawan untuk melakukan pemeriksaan. Dokter dan perawat ketakutan melihat pertengkaran Rara dan Tatjana. Imbas pertengkaran Rara dan Tatjana kamar seperti kapal pecah.   "Dok. Tolong bantu bereskan 'sampah' ini." Tatjana menunjuk Rara dan meninggalkan kamar perawatan Gunawan.   Dokter dan perawat melongo menatap kepergian Tatjana.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN