Sekarang, Leyra berada di dalam mobil Andrea. Andrea mengambil alih kemudi. Mobil pun melaju, selama di perjalanan tak seorang pun dari mereka yang mengeluarkan suara.
Keduanya sama-sama canggung. Leyra menatap jalanan yang ramai, kepingan-kepingan ingatannya muncul. Ya, jalanan itu tampak familiar diingatannya.
Setelah ini, akan ada tikungan dan terdapat super market serta salon dan cafe.
Tebakan Leyra benar, mereka melewati super market, salon dan cafe.
Aku pernah masuk ke dalam salon itu untuk menindik telingaku. Aku menindik telingaku?
Leyra mengarahkan spion ke hadapannya, dan benar saja wanita itu memiliki tiga lubang bekas tindik di telinganya.
Untuk apa aku menindik telingaku?
Leyra tak habis pikir apa alasannya menindik telinganya. Salahnya wanita itu tidak mengingatnya sama sekali.
"Kau terlihat keren dengan tindikan itu," ujar Andrea sambil tersenyum.
"Aku tidak suka ini," jawab Leyra.
"Aku tahu itu, Leyra jujur kukatakan padamu, aku terkejut begitu mendengarny dari mama. Katanya kau bukan seperti dirimu, bahkan kau memakai lipstik berwarna gelap saat acara makan malam keluarga," jelas Andrea membuat Leyra tersentak.
Kenapa aju melakukan itu?
"Sudah sampai!" Andrea menghentikan mobilnya tepat di depan rumah yang dimaksud.
Leyra segera turun, bangunan rumah terlihat sangat mewah bahkan dua kali lipat lebih mewah dibandingkan rumah mertua serta keluarga Laoval.
Leyra terpaku, samar-samar ia ingat halaman rumah tersebut. Dia seolah melihat dirinya berada di sana yang berlari masuk ke dalam rumah.
Seharusnya dari awal aku berada di sini. Kenapa, Rayn melakukan itu padaku?
Setelah berbincang pada penjaga rumah, akhirnya mereka diperbolehkan untuk masuk. Ya, Andrea berbohong mengatakan bahwa mereka sudah meminta izin dengan Rayn. Si penjaga percaya, setelah melihat ada Leyra sang nyonya rumah.
Leyra memasuki rumah tersebut, lagi-lagi ingatannya muncul. Di hadapannya, ruang tamu ia seolah melihat dirinya yang menyendiri tengah menangis di sana. Namun, wanita itu tidak ingat apa penyebab dari tangisannya tersebut.
"Leyra, apa kau ingat sesuatu?" tanya Andrea, menatap Leyra yang mengerutkan dahinya.
"Samar, aku hanya mengingat kegiatanku." Leyra berjalan masuk melewati Andrea.
Tepat di ujung tangga, saat akan naik ia tersentak. Seperti ada bayangan dirinya yang tengah mengejar Rayn.
"Akh!" teriak Leyra, Andrea segera membantunya, saat wanita itu tersungkur tepat di anak tangga.
"Apa sebaiknya kita berhenti di sini saja?" tanya Andrea menatap khawatir, namun Leyra menolak. Tekadnya bulat untuk memaksakan ingatannya pada rumah tersebut.
Wanita itu menaiki tangga, diikuti oleh Andrea berjaga-jaga di belakang. Saat mereka berada di atas, tiba-tiba Leyra seolah melihat dirinya dan Rayn yang masih memakai gaun pengantin.
"Ini kamar saya, dan kamarmu ada di ujung sana. Lakukan apapun yang kamu mau, aku tidak akan mengganggumu!"
Ternyata aku telah salah mengira. Kukira kita berbeda kamar, karena kamu tidak ingin aku merasa dipaksa untuk mengingatmu. Faktanya, itu terjadi di awal kita menikah.
Sebulir air mata Leyra mengalir ia tidak menyangka rumah tangga mereka tak seperti yang terlihat di apartemen.
Leyra melangkah masuk ke dalam kamarnya, ingatannya terasa jelas. Yang dimana ia hanya menangis dan menangis.
"Leyra," panggil Andrea menatap lirih.
"Katakan padaku, apa yang harus kulakukan? Ingatanku memperlihatkan diriku yang malang terus menangis di sini,"
tanya Leyra sembari terisak.
Andrea mengusap punggung Leyra, berusaha menenangkan adiknya yang terlihat menyedihkan.
2 jam berlalu, Leyra masih enggan meninggalkan kamar lamanya. Ia tidak tahu harus bagaimana.
"Menurutku, kau berpura-pura saja tidak tahu," saran Andrea.
Leyra menatap heran seolah bertanya untuk apa dia melakukan itu.
Andrea mengerti maksud tatapan Leyra. "Apa kau tidak penasaran kenapa Rayn memperlakukanmu berbeda dengan sebelum kau mengalami amnesia?"
Leyra terdiam, ia tampak menimang-nimang saran dari Andrea. Ada benarnya saran itu, lagipula ingatannya belum sempurna 100 persen.
"Kau, masih rajin menulis buku harian ya," ujar Andrea sembari memperlihatkan sebuah diary yang berukuran sedang.
Leyra menghampiri Andrea, lalu merebut buku yang ternyata digembok. Leyra membuka laci mengikuti instingnya, benar saja terdapat kunci kecil di sana.
"Buka dong," ujar Andrea menasang wajah penasaran.
Leyra menyimpan buku tersebut ke dalam tas. "Aku ingin membacanya sendiri," jawabnya.
"Tapi, aku kan penasaran," ujar Andrea memelas.
Leyra menggeleng, tetap menolak untuk membaca buku harian tersebut.
Andrea mengalah, "baiklah tapi, ceritakan padaku kalau terjadi sesuatu."
"Aku akan menceritakannya secara detail," jawab Leyra meyakinkan.
Andrea tersenyum, "baiklah, apa sebaiknya kita pulang," ajaknya yang langsung diangguki Leyra.
Mereka pun beranjak keluar namun langkah Leyra terhenti saat matanya melihat kamar Rayn. Wanita itu berjalan mendekati kamar tersebut, saat ia memegang gagang pintu ternyata kamarnya terkunci.
Lalu ia menghampiri Andrea dan mereka berjalan meruni tangga.
***
Rayn tak kuasa menahan diri ketika melihat balasan pesan dari istri tercinta. Ia ingin membalasnya, namun takut istrinya itu ilfil padanya.
"Tuan," panggil Theo, sembari berjalan masuk. Pria itu membawa tumpukan kertas yang membuat Rayn heran.
Mengerti arti tatapan Rayn, Theo pun berkata, "ini adalah hasil penyelidikan yang Tuan suruh tadi malam," jawabnya.
Rayn mulai memperhatikan poto-poto serta pencocokan jadwal yang diduga Rayn adalah pelakunya. Cukup lama mereka berada di ruangan itu, dan Rayn merasa kali ini ia tidak salah.
"Apa Anda yakin Tuan?" tanya Theo.
"Iya, aku yakin," jawabnya ketus.
"Tapi, Tuan dia adalah---"
"Korbannya istriku Theo, siapapun yang terlibat akan berurusan denganku. Aku akan menghancurkan mereka," lanjut Rayn, pria itu menatap Theo dengan tajam.
Theo mengangguk mengerti, ia pun beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Rayn yang menyenderkan dirinya ke kursi.
***
Malam tiba, Rayn dan Theo memasuki restoran ternama di kota tersebut. Ia melihat ke seluruh restoran, mencari sosok yang sudah melakukan janji temu dengannya.
"Rayn," panggil seorang wanita yang sedang melambaikan tang.
Rayn tersenyum, ia dan Theo menghampiri wanita itu. Mereka pun berpelukan.
"Apa kau sudah lama menunggu?" tanya Rayn.
"Ayolah, bukan Rayn namanya kalau tidak sibuk," jawab wanita itu.
"Aku merasa bersalah padamu Artina model kelas atas," ujar Rayn.
Wanita itu terkekeh, ia melipat kedua tangannya. "Bukankah kau terlalu kejam pada Leyra? Seharusnya kau kurangi dulu jadwal pekerjaanmu, bawa dia berlibur," ujarnya.
Rayn ikut terkekeh, "kau tahu kan aku tidak ada waktu untuk itu. Dan, duniaku bukan hanya tentang Leyra."
"Kau jahat, Rayn. Aku prihatin pada Leyra."
Mereka pun membahas masa lalu yang terkadang terdengar absurd dan membosankan. Tetapi, persahabatan mereka cukup terbilang solid. Dua pribadi yang berbeda, namun bertahan lama.
Setelah menghabiskan makanan mereka masing-masing. Mereka pun keluar bersama-sama dari restoran.
Rayn membukakan pintu mobil penumpang untuk Artina tertawa lalu masuk. "Ingat, bawa istrimu berlibur," bisiknya membuat Rayn tertawa.
***
Setelah memakai, pakaian tidurnya Leyra membaringkan tubuhnya sambil membaca buku hariannya.
Sesekali wanita itu tertawa ketika ia membaca pengalaman SMA nya yang menyenangkan. Namun, tawa itu menghilang ketika ia membaca curahannya di awal pernikahan.
Dear Diary
Hari ini adalah pemberkatan pernikahanku dengan Rayn Sagastra. Lelaki pertama yang memasuki relung hatiku. Hatiku berdebar ketika memasuki altar, langkahku hampir terjungkal, betapa gugupnya diriku. Sementara tak jauh di hadapanku, calon suamiku berdiri dengan tegap. Apa dia juga gugup? Sepertinya tidak.
Langkahku yang pelan semakin dekat dengannya. Jantungku semakin bergetar ketika mata kami saling berpandangan. Sungguh, dia pria yang begitu tampan.
Setelah mengucapkan janji, kami dipersilakan untuk berciuman. Sepertinya aku benar-benar akan meledak. Rayn mendekatkan wajahnya. Dan ciuman itu pun terjadi, ciuman pertama yang dilakukan dengan cinta pertamaku.
Ini benar-benar kenangan yang indah. Aku terharu, padahal kisahku sendiri.
Leyra bergumam lalu membalikkan buku ke halaman selanjutnya.
Aku tahu ini pernikahan bisnis, tapi mengapa aku kecewa begitu Rayn memperlihatkan kamar kami yang terpisah? Aku benci diriku yang rakus berharap dia mencintaiku, seperti aku mencintainya.
Awalnya semua berjalan lancar, meskipun Rayn tidak banyak bicara namun dia rutin menemaniku sarapan maupun makan malam. Hingga akhirnya, ia disibukkan dengan pekerjaan kantor yang membuatnya jarang pulang.
Bahkan pertemuan kami bisa hanya 3 kali dalam 1 bulan. Namun, dia tetap sama tak banyak bicara bahkan tidak menanyakan kabarku.
Diam-diam aku melampiaskan kekesalanku dengan menangis dan menangis. Aku benci diriku yang berharap lebih darinya. Hingga suatu hari, teman terdekatnya datang dialah Artina. Perempuan cantik wajar saja dia termasuk model yang tengah naik daun.
Dengan setia, dia datang menghiburku. Aku menyukai sosoknya yang periang. Berbanding terbalik dengan Rayn. Tapi, aku tetap menyukai Rayn kok. Cintaku padanya mengakar dari pertama kali aku melihatnya.
Senior kampus yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan atletis. Aku sering mencuri-curi pandang ketika dia lewat dari perpustakaan. Dia cukup ramah, tidak heran orang-orang di kampus menyukainya.
Leyra berhenti membaca buku diary tersebut, ia teringat dimana ia pertama kali melihat Rayn. Dari kejauhan tampak Rayn yang tertawa menarik perhatiannya. Pria itu terlihat memiliki jiwa bebas berbeda dengan Leyra yang mengunci dirinya dengan kesunyian.
Jangan lupa tinggalkan komentarnya dan lovenya ya☺️☺️☺️