Rumah Rahasia Rayn

1424 Kata
Di sebuah cafe yang mewah, yang biasanya didatangi kelas atas. Di sore yang syahdu dengan iringan alunan biola yang terdengar indah membuat orang-orang seolah ikut hanyut. Berbeda dengan kebanyakan orang, Rayn tampak datar dan bosan. Di depannya, seorang pria paruh baya menatap menyeringai padanya. Tatapan yang sudah biasa bagi Rayn tapi karena tuntutan profesinya yang sebagai direktur, pria itu mau tidak mau harus mau bertemu dengan pria yang mentebalkan baginya. "Kau tampak sehat," ujar pria itu, yang bernama Tuan Laosen. Seorang presdir di sebuah perusahaan bernama KAIA. Ya, pria yang sangat Rayn yakini dalang dibalik kecelakaan Leyra. Satu-satunya orang yang dianggap Rayn sebagai saingannya di dunia bisnis. Dan begitu sebaliknya. "Kau dekat dengan putriku, tapi menolak untuk menikah dengannya. Sungguh pendirian yang tetap ya," ujar Laosen, pria itu lalu meminum tandas gelas yang berisi anggur merah. Rayn tersenyum sinis, di sinilah letak kekalahan pria itu. Ya, walaupun di dunia bisnis, Laosen masih dijuluki macan karena menduduki peringkat satu, Rayn sengaja menolak usulan Laosen untuk menikahi putrinya. Dengan alasan telah memiliki seorang wanita yang dicintainya dan lagipula hubungan dirinya dengan putri Laosen tidak lebih dari seorang teman. Begitu juga dengan Artina, putri Laosen mendukung Rayn karena status mereka memang hanyalah seorang teman tidak boleh lebih. Ya, mereka tumbuh cukup dekat. Namun, mereka sudah sangat jarang untuk bertemu. Rayn sudah menikah sementara Artina telah menjadi model papan atas di negara lain. "Baiklah, apalagi yang mau kukatakan kau sangat mengagungkan cinta. Padahal grup KAIA dan Sagastra bisa saja menjadi perusahaan terbesar di seluruh dunia. Bukankah para penanam saham yang rakus itu akan senang. Namun, mereka tidak berdaya ketika direktur yang mereka pilih malah bermain cinta hingga tidak ada kemajuan sama sekali." Laosen terus mengoceh, itu berbeda dengan dirinya yang biasanya tidak banyak bicara. Tetapi, sebenarnya momen ini yang paling dinantikan oleh Rayn. Tujuannya sudah jelas ingin menjebak Laosen. Berharap pria itu segera memberi pengakuan tentang hal yang dicurigai oleh Rayn yakni tersangka penyebab Leyra kecelakaan. Berulang kali, Rayn menatap jam tangannya. Tak terasa hampir 5 jam berada di sana, Laosen yang sudah sangat mabuk itu tetap mengoceh. Tetapi, yang dibahas hanya tentang perusahaan dan itu membuat Rayn bosan dan ingin melarikan diri dari sana. "Bisa-bisanya seleramu seperti itu," ucap Laosen, membuat Rayn yang tadinya sudah malas tersentak. Apa maksud dari perkataan pria tua itu? "Aku membesarkan Artina dengan sangat baik. Bahkan semua yang dipakainya memiliki harga serba mahal, bisa-bisanya kau tergila-gila pada wanita rendahan seperti itu." Sial! Aku ingin menghajarnya! Rayn mengepalkan tangannya, namun Theo menepuk pundaknya lalu berbisik, "ingat tujuan utama Anda Tuan." Rayn mengerutkan dahinya, ia benci situasi ini. Darahnya terasa mendidih, tetapi pria yang di hadapannya itu mabuk dan biasanya orang mabuk memang akan keluar isi hatinya. Jadi, ia memutuskan untuk bersabar sedikit lagi. "Artina menangis disaat itu, cih tangisan apa itu? Bukankah itu berlebihan kalau disebut dengan tangisan untuk sahabat yang menikah. Dia bahkan menolak makan, kalau saja aku tidak membawa namamu mungkin sekarang dia sudah mati." Laosen yang berada di puncak itu terus mengoceh padahal napasnya sudah berburu sesak. Artina menangis? "Kenapa kau memakai kacamata?" tanya Rayn. "Kau lupa, kalau aku model papan atas. Aku tidak mau merebut perhatian para tamu. Pokoknya selamat!" ucap Artina antusias. Bayangan kilas masa lalu saat detik-detik Rayn dan Leyra akan melakukan pemberkatan. Apa itu alasannya? Tapi, untuk apa dia menangis seperti itu? "Saat itu apa yang dikatakan Artina pada Anda?" tanya Rayn menahan emosi. Berharap kecurigaannya tidak benar. "Ah, apa itu kau Rayn?" tanya Laosen yang tadinya sempat tertidur. "Rayn, aku benci kau bisa-bisanya bocah ingusan sepertimu bermimpi mengalahkanku. Hanya aku macan dunia bisnis!" teriak pria itu. Rayn menahan amarahnya dan dengan sabar ia berkata, "katakan kelanjutan Artina yang menangis tadi." Namun, harapannya pupus karena Laosen mengoceh semakin tidak jelas. "Kalian, antar tuan Laosen pulang," ujar Rayn pada bodyguard Laosen yang sedari tadi menjaga tuannya itu. Para bodyguard itu pun membopong Laosen yang sudah sangat mabuk tersebut. Tinggallah Rayn dan Theo yang duduk membahas tujuan mereka tadi. Setelah hampir 1 jam berada di sana dengan Theo, Rayn pun memutuskan untuk pulang. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, sudah lama pria itu tidak merasakan pulang begitu larut. Rayn mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia membayangkan Leyra yang mengkin tengah menunggunya di ruang tamu. Pesan yang ia kirim tadi sore tak kunjung mendapat balasan. Rayn membuka pintu, namun tak ada sosok Leyra di sana. Pria itu meletakkan tas kerjanya lalu membuka jas kemudian beranjak ke kamar Leyra. Untung saja, tidak dikunci di atas tempat tidur tampak Leyra yang sudah pulas. Rayn berjalan pelan menghampiri sang istri. Ia mengusap kepala istrinya itu, lalu mengecup dahinya. Matanya menatap leher jenjang Leyra dan terciptalah degupan di jantungnya. Bukankah aku terlalu m***m memanfaatkan orang tertidur pulas untuk hasrat biologisku. Rayn menarik selimut Leyra hingga menutup leher wanita itu. Namun, Leyra yang tidak terlalu suka dengan selimut itu langsung menendangnya membuat selimutnya terjatuh. Namun itu tidak masalah bagi Rayn tetapi penampilan Leyra sangat mengganggunya. Gaun tidur tipis yang membalut tubuhnya membuat dadanya terekspos bebas. Dan itu membuat Rayn semakin tersiksa. Pria itu segera beranjak dari sana, lalu menutup pintu kamar istrinya tersebut. "Sepertinya lemburku bertambah lagi," gumamnya sambil membuka kancing celananya yang terasa sesak. *** Leyra membuka matanya, lalu meregangkan kedua tangannya. Ia memijat kepalanya yang masih berdenyut, kemarin adalah hal yang melelahkan sekaligus menyita jiwa raganya. "Sepertinya, setelah ingatanmu hilang Rayn berubah." Perkataan tuan Laoval kemarin membuatnya bertanya-tanya. Semakin aku mencari tahu, semakin aku ragu. Namun, aku harus mengingatnya. Ada yang tidak beres dengan rumah tangga ini. Wanita itu beranjak ke kamar mandi menbersihkan dirinya. Dikarenakan hari ini hari liburnya ke kampus, ia sengaja bangun siang. Leyra memakai jas mandi yang tidak langsung diganti dengan pakaian biasa. Rambutnya pun dibiarkan basah, wanita itu keluar dari kamas sambil mengis-ngibaskan rambut. "Eh." Leyra terkejut ketika di depan pintu, ia berpapasan dengan Rayn yang menenteng laptopnya. Rayn menatap Leyra dari ujung kepala hingga ujung kaki. "S-saya pakai baju dulu," ujar Leyra kembali masuk ke dalam kamar. Rayn mematung, pikirannya langsung terbayang pada penampilan Leyra tadi. Apa kali ini aku harus melakukannya lagi. Pria itu memasuki kamarnya dengan terburu-buru. Setelah berganti pakaian, Leyra kembali ke luar. "Sepertinya dia sudah berangkat ke kantor," gumamnya setelah memastikan tak ada sosok Rayn di sana. Wanita itu beranjak ke dapur, ia menyantap habis sarapan yang disajikan oleh Rayn. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, segera Leyra membukanya. Hari ini, ada aku ada pertemuan. Kuharap kamu tidak bosan menungguku, Rayn. Leyra tersenyum, dia lalu membalasnya dengan singkat. Ia lalu menghubungi kontak Andrea. "Halo, aku ada waktu siang nanti. Baiklah, hubungi aku begitu Kakak sudah sampai di sana." Kemudian memutuskan panggilan tersebut. Tiba-tiba, Leyra teringat akan kejadian di rumah tuan Laoval kemarin. Flash Back... Leyra dan Andrea duduk bersama di balkon kamar Andrea. Sesekali Leyra curi-curi pandang pada kakaknya itu. Dia tampak jauh berbeda, begitulah yang dipikirkan Leyra. "Apa studymu lancar?" tanya Leyra. Andrea menoleh lalu menjawab, "begitulah, bagaimana denganmu?" tanyanya balik. "Aku sebisa mungkin tetap berusaha," jawab Leyra tanpa mengalihkan pandangannya. Andrea tersenyum tipis, namun terlihat sedikit kaku. Apa dia melakukan filler atau semacamnya? "Maafkan aku Leyra," ucap Andrea dengan tatapan lirih. Leyra terheran, maaf untuk apa? "Padahal saat itu, kaulah yang dipilih Rayn namun aku malah menyalahkanmu," lanjut Andrea. Apa itu artinya Andrea menyukai Rayn? Leyra sengaja tidak menjawab, ia ingin mendengar curahan Andrea mengenai potongan masa lalu yang bahkan ia tidak ingat sama sekali. "Padahal aku sudah banyak membuatmu kesusahan. Dan dengan kebodohanku tanpa sadar aku memakimu." "Bukankah tidak adil seorang anak angkat bersanding dengan seorang Rayn?" Apa yang barusan itu yang dimaksud Andrea? "Sudahlah Kak, itu sudah menjadi masa lalu," jawab Leyra. Andrea mengangguk, "sejujurnya dua bulan berada di Paris diam-diam aku pulang. Aku mendatangi rumahmu, maaf sebenarnya tujuanku saat itu hanya ingin minta maaf dan pamit dengan benar layaknya seorang kakak. Namun, aku tidak punya keberanian," jelas Andrea lagi. Andrea menitikkan air matanya, wajahnya memang terlihat merasa bersalah. Wajahnya memerah. "Rumah, maksudnya apartemen?" tanya Leyra heran. Andrea mendadak gugup, dan itu membuat Leyra menaruh curiga. "Apakah sebenarnya aku dan Rayn memiliki rumah, setelah kami menikah?" tanya Leyra membuat Andrea semakin kikuk. "Maksudku apartemen, dan---" Leyra bangkit, "beginikah caramu meminta maaf padaku Kak! Aku kecewa padamu," ujar Leyra lalu beranjak pergi. Andrea mengejar Leyra, ia lalu berterus terang tentang kebenaran rumah tersebut. "Intinya, Rayn tidak ingin mengungkit tentang rumah itu?" tanya Leyra. Andrea mengangguk, "aku tidak tahu apa alasannya tetapi itulah yang aku dengar saat Rayn berkunjung kemari," jawab Andrea meyakinkan. Bahkan tuan Laoval menurut dan ikut menyembunyikannya. Sebenarnya, ada apa dengan rumah itu? Dan disaat itulah Leyra meminta bantuan Andrea untuk menunjukkan letak rumah tersebut. Yang berarti hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN