Di kantor berjalan seperti biasa, ada ketegangan antar karyawan menghadapi para bos dan ada juga yang berpikir keras untuk berusaha menjadi lebih baik.
Hari ini, semua tim benar-benar sibuk. Mereka tidak ingin sang bos mengkritik pedas hasil presentasi seperti kemarin.
Di dalam ruangannya sendiri, sang bos Rayn terlihat tengah serius membahas urusan lain dengan sang asisten Theo. Bukan tentang perusahaan melainkan dalang dibalik kecelakaan istrinya, Leyra.
7 bulan investigasi, tidak menghasilkan apa-apa. Pihak kepolisian buntu, karena kesimpulan dari mereka adalah, Leyra terbukti mabuk yang kemungkinan mengalami stresss.
Dan, apa lagi yang mau dicari jika sang korban tak mengingat apapun. Tetapi, Rayn tetap menuruti instingnya yang menyatakan bahwa kejadian tersebut memang disengaja.
Hampir 2 jam mereka berada di ruangan itu, namun seperti yang sudah-sudah buntu. Pihak yang dicurigai, tidak terbukti. Dan itu membuat Rayn menyewa detektif untuk menyelidiki pihak yang Rayn curigai.
"Saya permisi Tuan," ucap Theo, lalu ke luar dari ruangan.
Rayn memijat kepalanya yang berdenyut, rentetan masalah tak satu pun diselesaikan dengan baik. Sebenarnya perusahaan yang digadang-gadang akan menduduki nomor satu malah pupus karena Rayn kehilangan fokus dalam menjalani perannya.
Waktunya hanya disibukkan dengan Leyra yang tengah koma di rumah sakit. Setelah wanita itu tersadar, para tetua penanam saham memberi pria itu waktu dalam setahun untuk membawa Sagastra menjadi peringkat satu.
Namun, alih-alih mengurusi perusahaan. Waktu Rayn terbagi untuk mengurusi istri yang hilang ingatan.
Ting! Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Dengan sigap pria itu membukanya.
"Sedang apa? Ingat untuk mengisi perut. Saya sedang makan dengan kedua teman saya. Semangat untuk Anda, saya Leyra."
Sontak Rayn terkekeh, "haruskah aku menggodanya lagi? Oh, aku benar-benar merindukannya."
Rayn bangkit dari kursi kekuasaannya, berjalan menuju jendela kaca yang menampilkan pemandangan hiruk pikuk kota yang dimana bangunan gedung-gedung yang megah.
"Aku membencimu!"
"Akh!" Rayn tersentak ketika bayangan suara itu muncul dan berteriak padanya.
*****
Hari ini, hari waktunya Leyra melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Wanita itu begitu antusias ketika berjalan memasuki lorong rumah sakit.
Wanita itu berhenti di depan sebuah ruangan lalu mengetuknya. Setelah dipersilakan, wanita itu pun masuk ke dalam.
"Ini hampir 1 bulan, bukankah Dokter bilang kemungkinan besar saya akan mendapatkan kembali ingatan saya tidak lama setelah saya pulang?" tanya Leyra lirih. Matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Kami sebagai dokter hanya bisa mendiagnosa, tapi sama seperti Nona, saya juga bingung. Biasanya, pasien yang mengalaminya akan ingat kembali bahkan kurang dari 1 minggu," jawab sang dokter bingung.
"Jadi apa yang harus saya lakukan Dok? Saya harus tahu siapa yang mencelakai saya waktu itu. Saya tidak bisa diam saja, membiarkan suami saya mencari tahu kebenarannya sendiri," ujar Leyra.
Dokter mengangguk, mengerti akan keluh kesah Leyra. Ia sangat tahu bagaimana depresinya Rayn saat menjaga wanita di hadapannya itu. Rumah sakit sudah bagaikan rumah bagi Rayn.
Ya, pria itu berusaha menyelesaikan waktu kerjanya dalam 3 jam lalu ke rumah sakit untuk menjaga sang istri. Berharap wanitanya itu membuka mata dan mengeluarkan suara.
"Hmmm, apa Nona sama sekali tidak ingat apapun kenangan di rumah Nona? Satu-satunya hal yang bisa membuat ingatan pasien amnesia kembali adalah rumah," jelas sang dokter.
"Rumah? Apakah maksud dokter rumah kedua orang tua saya? Saya belum mengunjungi kediaman orang tua saya karena saya masih ingat dengan jelas memori selama saya tinggal di sana," jawab Leyra.
Sang dokter menatap heran, yang dikatakan Leyra benar. Tapi, dia mencium ada yang tidak beres di sini.
Mungkinkah...
"Maaf sebelumnya, saya tidak bermaksud lancang. Di mana tempat tinggal Anda sekarang?" tanya si Dokter.
Leyra menjawab jujur alamat apartemen yang ditinggalinya dengan Rayn. Sang dokter memelotot kaget, kini pria paruh baya itu tahu dimana letak kesalahannya.
Tetapi, ia tak mengatakan apapun pada Leyra. "Saya akan menganalisanya, Nona kembalilah dulu," ucap sang dokter.
Leyra mengangguk, lalu beranjak dari sana. Saat berada depan pintu, Leyra berdiri sejenak. "Beliau terkejut begitu aku mengatakan alamat apartemen Rayn. Sungguh mengesalkan, bila aku tidak tahu maksudnya." Bergumam, lalu pergi.
Leyra memandangi jalanan dari jendela mobil, banyak orang-orang tengah lalu lalang, sibuk dengan urusan masing-masing.
Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke sana tetapi bagaimanapun mereka sangat berperan penting dalam hidupku. Seperti kata tuan Laoval, dia memberi namanya dan aku harus membayar itu.
Dulu, kupikir nama itu hanya sekadar nama saja. Namun, melihat Rayn yang kini menjadi suamiku, membuatku tersadar ada nama ada harga yang harus dibayar mahal. Barter yang sempurna, begitulah kira-kira.
Leyra memasuki rumah megah, yang dulu membuatnya takjub. Namun, sekarang rumah itu, justru tak ingin ia kunjungi.
Wanita itu menenteng tasnya dengan sangat hati-hati. "Dimana, Nyonya Laoval?" tanya Leyra ketika melihat salah satu pembantu lewat.
Si ART sontak menutup mulutnya, terkejut melihat kedatangan Leyra. "Lho, Nona Leyra!" ujarnya setengah berteriak.
Leyra tersenyum, namun matanya menyapu ruangan yang luas, mencari sosok yang menjadi tujuan utamanya bertandang.
"Oooh, Tuan dan Nyonya ada di kamar. Sepertinya mereka baru saja kembali dari pertemuan antar keluarga," jelas si ART.
Leyra mengangguk mengerti, ia pun beranjak menaiki tangga berniat menemui kedua orang tersebut.
Saat, sudah sampai di depan kamar Leyra melayangkan tangannya hendak mengetuk. Namun, matanya salah fokus pada kamar di paling ujung yakni kamar Andrea.
Andrea? Bukannya dia ada di Paris?
Leyra berjalan mendekati kamar yang tidak tertutup rapat tersebut. Wanita itu mengendap-endap, "ah bisa-bisanya aku begini. Seperti pencuri saja," gumamnya lalu berjalan seperti biasa.
Pelan, Leyra membuka pintu. Benar dugaannya, sosok kakak angkatnya ada di sana tengah memainkan laptopnya.
Apa study nya di Paris sudah selesai?
"Leyra, itu kamu Nak!" teriak seorang wanita.
Leyra yang tadinya mengintip itu tersentak kaget hingga tak sengaja masuk ke dalam kamar Andrea.
Kedua kakak adik angkat itu saling beradu pandang. Dengan segera, Leyra memutus kontak.
"Leyra, bagaimana kabarmu?" tanya Andrea menatap lirih.
Leyra heran, Andrea tampak berbeda dari dua tahun yang lalu. Pembawaannya terlihat semakin dewasa, apa karena efek jaih dari orang tua?
Terdengar langkah kaki yang semakin dekat. "Kalian sedang apa?" Tampak nyonya Laoval di depan pintu.
Leyra menoleh, "hai Ma," sapanya dengan senyuman kaku.
Aku tidak menyangka aku bisa setegang ini.
Nyonya Laoval memeluk Leyra lalu mengecup dahinya, "bagaimana keadaanmu Nak, apakah sudah lebih baik?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Leyra mengangguk mengiyakan.
"Oh terima kasih Tuhan, tadinya mama mau menjenguk tapi takut kamu tidak waktu. Apa ingatanmu sudah pulih?"
Leyra menggeleng, "ingatan saya masih terjebak di dua tahun yang lalu.
"Berarti kamu tidak ingat apapun tentang Rayn?" tanya Andrea.
Lagi-lagi Leyra menggeleng. "Aku bahkan tidak ingat kegiatan apa saja yang aku lakukan. Padahal waktuku lebih banyak di apartemen daripada kampus."
Andrea terkejut, Leyra merasa curiga. Gelagat sang kakak terlihat jelas tengah menyimpan sesuatu.
Kalau dulu, Andrea adalah sosok yang ceplas-ceplos namun dia terlihat menghindar.