Pria Egois

1010 Kata
Malam itu, Rayn merasa kegelisahan yang luar biasa. Pikirannya berkecamuk, ia tidak bisa menutup matanya sama sekali. Pria itu pun melangkah menuju pintu hendak keluar kamar. Saat pintu terbuka, "ah, kamu... Sejak kapan berdiri di sini?" tanyanya, berusaha setenang mungkin. Leyra memasang tatapan lirih, "maaf," ucapnya dengan suara memelas. Rayn mengerutkan dahi, pria itu tampak heran. Mungkinkah, dia akan mengakui hubunganya dengan Niel? "Maaf, seharusnya saya tidak marah seperti itu kepada Anda tadi malam. Saya sadar, sudah kelewatan. Tolong maafkan saya," ujar Leyra memasang wajah penuh penyesalan. Melihat istrinya yang memelas, awalnya Rayn tak memberi respon. Namun, pecah sudah tawa pria itu. Dia merasa mimik Leyra sangat lucu. "Apa aku terlihat seperti itu? Apa menurutmu, aku marah hanya karena masalah sepele? Aku tak sejahat itu, Leyra," jawab Rayn sembari menatap wajah Leyra dengan jarak yang sangat dekat, hidung mereka hampir bersentuhan. Leyra mendadak gugup, sigap wanita itu mengalihkan pandangannya ke samping. Rayn tersenyum menyeringai, melihat betapa lucunya sang istri. Pria itu, kembali menegakkan tubuhnya. "Bagaimana kegiatan di kampus? Apakah lancar?" tanyanya, lalu duduk. Leyra menghembuskan napas lega, ia pun mengangguk. "Sejujurnya, ada hal yang mengganggu pikiranku. Pria yang meneleponmu tadi pagi, apakah dia temanmu?" "Yang menelepon saya tadi? Maksudnya, Niel?" "Ya, dia," jawab Rayn dengan tatapan malas. "Dia temanku, kami dari alumni SMA yang sama dan bertemu lagi di universitas yang sama. Awalnya kami tidak sedekat sekarang," jelas Leyra. Rayn terkejut, "tidak sedekat sekarang?" Leyra tersenyum, "maksud saya, sebelumnya dulu kami bahkan tidak pernah saling menyapa sekarang kami malah berteman dekat. Dia sering curhat pada saya." Memasang tatapan meyakinkan. Darah Rayn tiba-tiba terasa naik ke ubun-ubun, berusaha setenang mungkin. Namun, sekarang ia kesal pada istrinya yang polos itu. Pria itu kembali berdiri, ia kehabisan kata. Cukup sudah baginya, untuk mendengar kalimat yang baru diungkapkan sang istri. Ingin rasanya pria itu meledak sekarang. "Tunggu, mungkinkah Anda cemburu?" Rayn yang tadinya hendak pergi, mendadak kaku seketika. Bibirnya kelu, lagi-lagi ia kehabisan kata. Cemburu? Seorang Rayn Sagastra, cemburu? "Oh, apakah kedatangan Anda ke kampus ada hubungannya?" tanya Leyra lagi. Dia tahu aku ke kampusnya hari ini. Dia bahkan sadar kalau urusanku kesana hanya karena penasaran. Tiba-tiba, lamunan Rayn buyar ketika Leyra menyentuh tangannya. "Tidak ada yang perlu dicurigai apalagi dicemburui. Sebenarnya, kami berteman tiga orang. Ya, Sally teman saya selain Niel. Dan yang disukai Niel itu Sally bukan saya. Kamj murni sebatas itu tidak lebih," jelas Leyra dengan tatapan serius. "Saya tidak mungkin sebodoh itu menukar suami saya yang tampan ini dengan orang lain," lanjutnya, tanpa sadar menyentuh pipi Rayn. Rayn menyembunyikan wajahnya ke pundak Leyra, "apa yang harus aku lakukan, istriku cantik begini. Wajar aku cemburu," jawab Rayn dengan suara memelas. Dia seperti anak-anak yang mencoba merayu ibunya agar dibelikan permen. Begitulah malam itu berlalu, kesalahpahaman teratasi sudah. Rayn kini menyadari dirinya memiliki sisi yang tak ia sadari, cemburu. Seperti biasa, Rayn mengantar Leyra ke kampus sebelum dirinya ke kantor. Hari ini, keduanya banyak mengobrol dalam mobil. Terutama Leyra, ia terus mengoceh tanpa henti menceritakan tentang kedua temannya yakni Niel dan Sally. Rayn begitu antusias mendengar cerita sang istri yang menurutnya luar biasa semangatnya. Mobil terus melaju, hingga tak terasa sudah memasuki area kampus. "Saya pamit ya, hati-hati di jalan," ucap Leyra hendak ke luar dari mobil. Namun, dengan sigap Rayn menahan tangannya. Leyra menoleh, "eh, Anda terlalu dekat!" Memundurkan diri hingga terbentur dengan pintu mobil. Cup! Satu kecupan mendarat di dahi Leyra. "Semangat ya, Sayang," bisik Rayn membuat wajah serta telinga wanita itu memerah. Rayn mendesah, "apa sebaiknya kita pulang saja?" Memasang wajah frustasi. Leyra melirik, ia bahkan tak bisa bernapas sekarang. Tubuhnya benar-benar terkunci. Ia tak bisa mendorong tubuh suaminya yang memiliki tenaga lebih besar darinya. Entah ia memang tidak memiliki tenaga atau karena dia suka posisi itu. Perlahan wanita itu, menatap wajah Rayn yang frustasi itu dengan lamat. Apa yang membuat suaminya itu frustasi? Leyra tak mendapat jawabannya. Tetapi, itu tak mengganggu pikirannya. Baru kali ini ia menatap Rayn dengan benar. Biasanya ia hanya menatap sekilas saja. Ia baru sadar bola mata sang suami berwarna hazel bukan biru. Ada tahi lalat di ujung telinganya. Serta bibir atasnya memiliki volume serta lekukan yang indah (Kalau mau bayangin, lihat saja bibir Jin BTS. Begitulah kira-kira). Dulu rambutnya memiliki volume yang menutupi dahinya khas cowok-cowok keren. Sekarang terlihat lebih rapi dengan menunjukkan dahi paripurna, seperti pria dewasa. Aku ingat bagaimana dulu dia mengusap rambutnya yang basah karena keringat ke belakang. Itu sempat mengguncang jiwaku hingga aku memutuskan untuk pergi dari lapangan futsal meninggalkan Sally yang masih semangat berteriak memanggil namanya. Aku takut, rasa kagum ku saat itu berubah semakin dalam. Rasanya pasti sangat menyiksa, apalagi sainganku satu kampus. Tidak disangka, laki-laki itu sekarang berada di hadapanku. Mengapit tubuhku dengan wajah memerah serta napasnya yang terdengar sesak. Tangannya menahan kepalaku agar tak menyentuh pintu mobil. Sebenarnya, ada apa dengan pria ini? Kenapa mengajakku pulang? Apa yang membuatnya begitu frustasi? Mungkinkah.... "Kalau kita pulang sekarang, apa yang akan kita lakukan di rumah?" tanya Leyra dengan berbisik. Rayn tidak bisa menjawab, segera ia duduk ke kursi kemudi kembali. Pria itu kaku seketika, tiba-tiba ponselnya berdering. Segera pria itu menjawab panggilan tersebut. "Kalau begitu, saya pamit dulu," ujar Leyra sembari beranjak dari mobil. Rayn menatap Leyra yang berlari menjauh dari mobilnya. Ia mengusap wajahnya, lalu membenturkan kepalanya ke kemudi mobil. Cepat atau lambat semua akan terbongkar. Leyra akan kembali mengingat semuanya. Tetapi, sampai kapan aku harus menahannya? Dia akan membenciku begitu ingatannya kembali. Skenario yang aku bangun akan segera hancur. Rumah tangga yang sempurna segera tamat. Rayn, kau pria jahat yang memaksa seseorang untuk kepentingan pribadimu. Senyuman yang tak kulihat sebelumnya, suara yang bahkan tak pernah kudengar membuatku semakin rakus. Bahkan dengan kejamnya aku berharap ingatanmu tidak pernah pulih seutuhnya. Padahal, kau berusaha sekeras mungkin agar ingatanmu segera pulih, dengan rajin mengkonsumsi obat dari dokter serta menanyaiku banyak hal di masa lalu yang bahkan hanya karanganku saja. Aku pria yang egois, aku bahkan tidak peduli betapa tersiksanya istriku yang polos seperti orang tersesat dan hanya mengandalkanku sebagai tumpuan hidupnya. Masa mudanya bahkan sekelam ini hanya karena keegoisanku. Rayn membanting stir mobil, lalu beranjak pergi dari sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN