Punya Pacar

593 Kata
“Anak-anak Triton masih ada yang gangguin kalian?” tanya Reyhan tiba-tiba. Suasana markas jadi hening. Seluruh anggota kompak mendengarkan pertanyaan sang ketua dengan saksama. Raffa menggeleng pelan, lalu berkata, “Akhir-akhir ini udah enggak. Tapi, kita harus tetap waspada.” “Kemarin gue ketemu Bian. Kelihatan banget kalau dia, tuh, dendam sama kita,” sambung Raka, cowok yang berparas tampan dan kerap gonta-ganti pasangan itu. “Bian? Yang sebelumnya kerja sama bareng si Gio?” tanya Beno. Raka mengangguk dan membenarkan pertanyaan Beno tentang salah satu anggota geng Triton yang merupakan orang paling berpengaruh dalam pengkhianatan yang dilakukan Gio tempo hari. Reyhan menyulut rokoknya, lalu mengisap secara perlahan. Ia kembali menatap teman-temannya yang kini tengah memasang wajah waspada. “Mereka nggak akan ngusik kita, kecuali mereka mau bernasib sama kayak Dion sama si Vigo,” kata Reyhan. “Mereka nggak akan berani ganggu lo, Rey. Tapi, nggak menutup kemungkinan mereka bakalan ganggu salah satu dari kita,” ungkap Raffa. “Bener, Bos!” seru Juned seraya berdiri tegap. Elvan yang sejak tadi duduk di samping Juned pun langsung menendang pelan kaki Juned agar kembali duduk. “Ish, apaan, sih lo?” gerutu Juned. Reyhan mengalihkan atensinya pada Elvan dan Juned yang asyik berdebat. “Woi! Bisa diem, nggak?” tegur Raffa. Lalu, Elvan dan Juned pun kompak mengunci mulutnya setelah tahu bahwa sejak tadi sang ketua sudah menatap mereka dengan garang. Reyhan berdiri sembari mematikan puntung rokoknya. “Gue nggak bisa jamin keselamatan kalian. Jadi, gue harap kalian bisa lebih hati-hati dan waspada,” ucap Reyhan. “Iya, Bos,” jawab Arda, cowok tampan berdarah Jawa. Kemudian, Reyhan memakai jaket kulitnya dan bersiap meninggalkan markas serta teman-temannya. *** “Lo, tuh, sebenarnya ada hubungan apa, sih, sama Reyhan?” tanya Lia pada Caca seraya memasukkan ciki ke mulutnya. Caca yang semula berbaring di atas kasur pun langsung bangun dan turun untuk duduk di atas karpet bersama Lia. Cewek itu mencomot ciki yang ada di depan Lia. “Gue nggak ada hubungan apa-apa sama dia,” jawab Caca dengan nada santai. Lia mendengkus pelan, kemudian kembali berucap, “Kalau nggak ada hubungan apa-apa, terus kenapa dari awal masuk, tuh, cowok udah nempelin lo?” “Gue benar-benar nggak ada hubungan apa-apa sama dia, Lia. Dia aja yang kegenitan nggak jelas, deket-deket gue,” jelas Caca tegas. Cewek berambut sebahu itu mendadak diam setelah membahas Reyhan. Sepertinya, Reyhan memang punya andil yang besar dalam merusak suasana hati Caca. Lia meraih es jeruk yang Caca suguhkan dan meminumnya sedikit. Ia kembali bertanya, “Terus lo nyaman di deket dia?” Caca menggelengkan kepalanya. “Gue bener-bener ngerasa tertekan deket sama dia,” jawab Caca. “Emang udah kelihatan, sih, Ca. Reyhan itu tipe cowok yang seenaknya sendiri. Wajar kalau lo nggak nyaman di deket dia,” balas Lia seraya membayangkan perangai Reyhan. Tiba-tiba Caca memegang tangan kanan Lia. Mata Caca menatap Lia penuh harap. “Lia, bantuin gue supaya Reyhan mau jauhin gue,” ucap Caca. “Hah? Bantuin apa? Gue juga nggak tahu gimana caranya, Ca,” jawab Lia bingung. Caca mendesah frustrasi. “Gimanapun caranya, gue benar-benar nggak bisa terus-terusan dihantui dan diganggu sama, tuh, cowok,” ungkap Caca. Lia diam. Cewek itu terlihat berpikir keras dan ikut merasakan kegelisahan sahabatnya. Tiba-tiba, Lia menjentikkan jarinya dan tersenyum leabar. “Gue ada ide, Ca,” kata Lia, matanya tampak berbinar. “Ide apa?” “Kalau lo mau Reyhan berhenti gangguin lo, lo harus ....” Lia menahan perkataannya. “Gue harus apa?” tanya Caca. “Lo harus punya pacar,” jawab Lia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN