Caca duduk diam dengan tubuh yang tampak kaku dan canggung. Matanya tengah meneliti kondisi markas Archer yang baru ia datangi.
“Lo udah makan siang?” tanya Reyhan.
“Belum,” jawab Caca.
Tiba-tiba, Reyhan menarik tangan Caca dan mengajaknya masuk salah satu ruangan yang ada di sana. Ternyata, ruangan itu adalah dapur minimalis.
“Kenapa? Kaget ada dapur di sini?” tanya Reyhan.
Cowok itu melepaskan tangan Caca, lalu menghampiri kulkas dan membukanya.
“Duduk aja, Ca,” kata Reyhan pada Caca yang masih setia berdiri mematung di tempatnya.
Cewek itu duduk di sebuah kursi bar. Matanya memperhatikan gerak-gerik Reyhan yang mengeluarkan beberapa bungkus mi instan dan telur serta sayuran. Dilihat dari bahan-bahan yang ada, sepertinya cowok itu akan memasak mi instan.
Reyhan mengambil panci sedang, lalu mengisinya dengan air dan meletakkan di atas kompor dengan api yang menyala sedang.
“Lo mau bikin apa, Rey?” tanya Caca.
“Mi rebus,” jawab Reyhan singkat. Tiba-tiba, Caca menghampiri Reyhan yang tengah membuka kemasan mi instan.
“Minya jangan dimasukin dulu,” tegur Caca seraya menghentikan gerakan tangan Reyhan. Reyhan mengangkat wajahnya. Iris hitamnya menampilkan tatapan polosnya.
“Terus gimana?” tanya Reyhan diiringi mimik wajah polos.
Caca menggeleng pelan, lalu mengambil alih dapur minimalis itu. “Kelihatan banget kalau nggak pernah masak,” ucap Caca.
“Emang gue nggak pernah masak,” jawab Reyhan.
Caca meraih sayuran yang ada di atas meja, lalu mencucinya di wastafel. “Kalau nggak bisa masak ngapain ada dapur segala di sini?” tanya Caca seraya sibuk membilas sayuran.
“Gue emang nggak bisa masak, tapi anak-anak yang lain banyak yang jago masak,” jawab Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari Caca.
Caca selesai mencuci sayurannya. Ia kembali ke hadapan Reyhan dan mulai memotong sayuran di atas talenan yang sudah tersedia.
“Jadi, lo kalah sama temen-temen lo, dong,” ungkap Caca seraya sibuk memasukkan sayuran ke air yang telah mendidih.
“Maksudnya?” tanya Reyhan, alisnya bertaut sempurna.
“Ya, kalah. Masa temen-temen lo bisa masak, tapi lo nggak bisa?” ucap Caca.
Kata-kata Caca memancing rasa kesal dalam diri Reyhan. Reyhan lantas berpindah ke belakang dan memeluk Caca hingga cewek itu tak berkutik. Reyhan menyandarkan dagunya di bahu Caca.
“Gue emang nggak bisa masak, Ca. Tapi, gue bisa bikin lo diem dan nggak protes walaupun gue nggak bisa masak buat lo,” bisik Reyhan.
“Rey, jangan macam-macam, ya!” seru Caca berusaha terdengar berani
“Gue nggak macam-macam, Ca,” jawab Reyhan, dagunya masih bersandar di bahu Caca.
Cowok itu mendekatkan bibirnya ke telinga Caca, membuat Caca bisa merasakan napas Reyhan yang menyapu daun telinganya.
“Kalau mau m***m jangan di sini!”
Sebuah suara berhasil membuat Reyhan lengah. Caca pun segera mematikan kompor dan menjauh dari Reyhan.
Raffa, sang pemilik suara, kini berdecak pelan seraya memasuki dapur.
“Tadi ke mana? Kok, baru dateng?” tanya Reyhan yang kini sudah duduk di kursi bar bersama Caca.
Raffa kembali menyalakan kompor, lalu memasukkan mi instan ke panci.
“Nganterin Dini ke rumah sakit.” Dini adalah pacar Raffa. Reyhan hanya manggut-manggut, seakan-akan paham dengan jawaban Raffa.
Raffa mengalihkan pandangannya pada Caca yang sejak tadi diam saja. “Gue Raffa. Lo siapa?” tanya Raffa.
Cowok itu mengulurkan tangannya pada Caca. Namun, sebelum Caca menyambutnya, Reyhan sudah lebih dahulu menepis tangan Raffa.
“Nggak usah modus lo!” kata Reyhan.
“Anjing!” maki Raffa.
Reyhan mendelikkan matanya dan Raffa langsung berpura-pura sibuk dengan minya untuk menutupi rasa takut pada Reyhan. Ya, sampai kapan pun takdir Raffa adalah selalu takut terhadap Reyhan.
“Udah mateng belum?” tanya Reyhan.
“Apaan, sih? Yang masak gue, kenapa lo yang bawel?” balas Raffa dengan nada kesal.
“Tapi, tadi, kan, gue yang mau masak,” ucap Caca tiba-tiba. Raffa dan Reyhan kompak menatap Caca.
“Apa?” tanya Caca diiringi mimik wajah polosnya.
Pandangan Reyhan beralih pada Raffa. Raffa pun akhirnya menyerah. Dengan gerakan dramatis, cowok berwajah tampan dan polos itu mundur setelah mematikan kompor.
“Demi Bu Bos, gue ngalah,” ungkap Raffa seraya menatap Reyhan dengan memelas.
“Sana lo!” usir Reyhan.
“Makasih, ya, Raffa!” seru Caca seraya tersenyum geli.
Kemudian, Raffa pun keluar dari dapur dan meninggalkan Caca bersama Reyhan serta mi instan yang telah ia masak dengan sepenuh hati.
***
“Bunda? Ngapain di luar malam-malam?”
Cewek itu langsung menghampiri sang bunda setelah turun dari motor Reyhan. Reyhan pun ikut turun serta menghampiri ibu dari cewek yang akhir-akhir ini gencar ia dekati.
“Malam, Tante!” sapa Reyhan dengan sopan.
Mia meneliti penampilan Reyhan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Ia lalu berkata, “Malam. Kamu temannya Caca?”
Reyhan mengangguk sopan. “Iya, Tante,” jawab Reyhan.
“Panggil aja bunda,” kata Mia seraya tersenyum lembut.
Caca hendak melayangkan protes. Namun, akhirnya urung setelah melihat wanita itu semakin melebarkan senyumnya saat bertemu Reyhan.
“Namanya siapa?” tanya Mia.
“Reyhan, Bunda,” jawab Reyhan.
Mia kembali tersenyum.
“Lain kali kalau bawa Caca pulangnya jangan malam-malam, ya. Caca anak Bunda satu-satunya. Kamu paham, kan?” ucap Bunda. Reyhan mengangguk, kemudian menatap Mia dan Caca secara bergantian.
“Bunda, udah. Masuk, yuk!” ajak Caca.
“Sebentar, dong, Ca. Kamu, tuh, kebiasaan, deh. Nggak sopan sama temen sendiri,” ucap Mia setengah mengomel.
Caca mengerucutkan bibir saat sang bunda menolak ajakannya dan malah kembali mengobrol dengan Reyhan.
“Reyhan udah makan malam?” tanya Mia tiba-tiba.
“Udah, kok, Bun,” sahut Caca.
“Belum, Bunda,” timpal Reyhan. Detik selanjutnya, cowok itu dapat melihat dengan jelas delikan tajam dari mata Caca yang tentu saja tertuju padanya.
“Ya, udah. Kalau gitu Reyhan makan malam sama Bunda dan Caca aja. Mau, kan?” tanya Mia.
Reyhan mengangguk dan berucap, “Mau, Bunda.”
Mia menggamit lengan Reyhan dan mengajaknya masuk rumah, sementara Caca hanya mengekor. Hebat sekali, sekarang Caca merasa seperti anak tiri.
Tiba-tiba saja, Reyhan menoleh dan menyunggingkan seringai di bibirnya. Mulut cowok itu berucap tanpa suara.
“Bunda baik banget. Nggak kayak anaknya. Galak.”
Tinju Caca melayang di udara begitu memahami kata-kata Reyhan. s**l.