“Ca, bareng gue aja, yuk!” ajak Fandi.
Mereka baru saja keluar dari aula Universitas Indonesia setelah selama setengah hari mengikuti seminar keorganisasian yang diadakan oleh UI. Wajah Caca terlihat lelah dan kusut, sama halnya dengan Fandi.
Caca memeriksa jam tangannya, lalu menjawab pertanyaan Fandi. “Gue nunggu sopir aja, deh, Fan. Lagian tadi pagi gue juga udah minta sopir buat jemput.”
Caca berjalan beriringan dengan Fandi. Tak lama mereka sampai di halaman gedung. Di depan mereka sudah ada Edgar dan Tohar yang akan memasuki mobil sekolah.
“Kita duluan, ya!” seru Edgar seraya memiting kepala Tohar dan menyeretnya menuju mobil sekolah.
“Oke, hati-hati! Jangan sampai saling bunuh!” balas Fandi seraya terkekeh-kekeh.
Caca bergidik pelan, lalu mengibaskan kedua tangannya untuk mengusir Edgar dan Tohar.
Kini, hanya tinggal Caca dan Fandi yang berdiri di depan gedung universitas.
“Ca, bareng gue aja, ya?” Fandi kembali menawarkan tumpangan.
“Bentar lagi, deh, Fan. Kalau sopir gue belum dateng juga baru gue bareng lo,” jawab Caca.
Sepuluh menit berlalu, bukan Pak Hikmal yang datang, melainkan gerombolan anak laki-laki yang mengendarai motor sport dan berhenti di depan gerbang universitas. Salah satu dari mereka membuka helmnya dan turun dari motor. Ia menghampiri Caca yang diam bagai patung.
“Yuk!” ajak Reyhan seraya menggandeng tangan Caca dan membawanya menuju motor sport yang ada di luar gerbang.
“Halo, Bu Bos! Kenalin, aye Junaedi, panggil aja Juned,” ucap salah satu anggota geng Archer yang diketahui berdarah Betawi.
Caca hanya tersenyum kikuk.
“Gue udah suruh Pak Hikmal buat jemput nyokap lo,” kata Reyhan. Cowok itu memasangkan helm di kepala Caca.
“O-oh, gitu,” gumam Caca.
“Bu Bos, jangan gugup gitu atuh. Pak Bos nggak gigit, kok,” canda Beno.
Caca hanya mendesis sebal pada cowok yang selalu jadi sasarannya setiap hari Senin itu.
“Naik, Ca!” titah Reyhan. Caca pun menaiki motor Reyhan. Setelah itu, Reyhan melajukan motornya diikuti oleh para anggota geng Archer yang setia berada di belakang Reyhan.
“Caca,” ucap Reyhan setengah berteriak.
“Kenapa?” tanya Caca.
“Selamat datang di dunia gue, Ca!” seru Reyhan.
Entah mengapa kata-kata Reyhan membuat debaran jantung Caca jadi meningkat, membuat pipinya bersemu, dan bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Apa sekarang Caca sudah mulai tertarik pada cowok badung itu?
“Pegangan, Ca! Gue bakal ngebut,” ucap Reyhan.
“Hah? Ngebut? Jangan sembarangan, deh!” seru Caca tak setuju.
Namun, Reyhan tak menggubrisnya. Cowok itu melajukan motornya dengan cepat, membuat Caca terpaksa memeluk pinggang Reyhan agar tak jatuh.
Siang itu, Reyhan mengajak Caca keliling Jakarta bersama anak-anak Archer. Reyhan mengenalkan pada Caca betapa menarik dunia yang ia miliki. Dunianya yang kini semakin berwarna dengan hadirnya sosok Caca.