Permohonan Bunda

1550 Kata

Pintu berwarna cokelat gelap itu diketuk dari luar. Tak berselang lama pintu pun terbuka. “Eh, Reyhan! Sini masuk!” seru Mia. Cowok itu diam saat melihat penampakan dari ruang kerja kepunyaan Mia. Psikiater. Itulah yang menjadi penyebab dari diamnya Reyhan. “Reyhan?” tegur Mia. Reyhan masih tetap diam. Ia berdiri mematung di ambang pintu. Netranya menatap lamat pada papan yang memuat nama Mia lengkap dengan gelarnya. “Rey?” tegur Mia sekali lagi. Reyhan tersenyum tipis, setelah itu ia duduk di depan meja kerja Mia. “Kamu pasti kaget, ya?” tanya Mia. “Bunda mau ngapain ketemu Reyhan?” tanya Reyhan tanpa basa-basi. Dari sorot matanya cowok itu tampak tak terlalu suka begitu tahu profesi Mia. Tentu saja karena ia punya kenangan yang buruk dengan profesi tersebut. “Bunda cuma mau ng

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN