Di depan sana para dokter sudah menghentikan aktivitasnya. Layar monitor jantung sudah menampilkan garis lurus yang teramat jelas, sejelas ekspresi para dokter yang sarat akan kesedihan dan penyesalan. Air mata sudah mengalir membasahi pipi Reyhan. Lidahnya sudah kelu tak bisa berkata apa-apa lagi. Bahkan, kini tubuhnya sudah akan ambruk jika saja Niko tak berbaik hati mau membantunya tetap berdiri. “Apa yang terjadi?” Telinga Reyhan menangkap suara Mia. Sayangnya, Reyhan tak punya tenaga untuk sekadar menjawab pertanyaan wanita yang selama ini sangat baik padanya itu. Tak berselang lama Eva, Fandi, Lia, dan Candra juga datang. Lia menutup mulutnya saat melihat garis lurus yang terpampang di layar monitor, sementara Eva langsung memeluk Mia. Kedua wanita itu menumpahkan tangisnya. “Lep

