Reyhan jatuh, sejatuh-jatuhnya. Ia tak lagi punya kepercayaan diri. Ia kembali menjadi dirinya yang dahulu. Yang selalu merasa bahwa apa yang sudah terjadi adalah murni kesalahannya. Semua yang terjadi adalah salahnya. Dia adalah pembawa s**l. Namun, meski begitu, menyerah bukanlah pilihannya. Sekalipun semua salahnya, sekalipun dia pembawa s**l, dan sekalipun Mia tak lagi mau memercayainya. Reyhan memberanikan diri menatap mata Mia, lalu berkata, “Reyhan nggak akan pernah nyerah atas Caca, Bun.” “Reyhan ... Caca sudah banyak menderita karena kamu,” ungkap Mia. Kini, Mia tak ingin lagi bersikap segan. Mia tak ingin mencoba memahami Reyhan. Ia hanya ingin melindungi Caca, satu-satunya harta paling berharga dalam hidupnya. “Tolong jauhi Caca,” ucap Mia putus asa. “Reyhan akan jauhin C

