“Daniel, angkat teleponnya, dong,” gumam Caca. Caca berdiri di depan gedung kampus Daniel. Ia sudah berada di sana sejak satu jam yang lalu dan mencoba menghubungi Daniel. Namun, hingga kini cowok itu tak juga mengangkat teleponnya. Akhirnya, Caca memasuki gedung dan mencari Daniel di sepanjang koridor. Ia juga memeriksa ruang kelas yang ada di sana, tetapi tak ada tanda-tanda akan keberadaan Daniel. Sampai kemudian sebuah suara membuat perasaan Caca menjadi lega. Caca menghampiri sosok yang sejak tadi ia cari itu. “Daniel, lo ke mana aja, sih? Gue nelepon lo dari tadi.” “Gue lagi ngerjain tugas di perpus, Ca. HP gue mode silent, jadi nggak kedengeran kalau lo nelepon,” jelas Daniel. Iris cokelat cewek itu tengah meneliti penampilan Daniel, terutama wajah yang penuh dengan lebam dan

