Caca menghela napas pelan. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin toilet. Kantung mata terlihat jelas menghias bawah matanya. Bibirnya yang biasanya berwarna pink pun kini tampak pucat. Pandangan matanya juga tampak layu tak bersemangat. Caca menyalakan keran wastafel, lalu membasuh wajahnya untuk mengusir kantuk dan pusing yang sejak pagi tadi sudah menyerangnya. Setelah selesai membasuh wajah, ia pun keluar dari toilet dan berniat kembali ke kelas karena sebentar lagi bel pulang akan berbunyi. “Kak Caca?” Caca berbalik saat mendengar namanya dipanggil oleh seseorang. “Niko? Ada apa?” tanya Caca saat tahu orang yang memanggilnya adalah Niko. Niko menghampiri Caca yang berjarak sekitar 5 meter dari tempatnya berdiri. “Bisa bicara sebentar nggak, Kak?” “Bisa. Mau bicara apa?” tanya

