Hidup baru yang bahagia? Haha! Kyteler mengeluarkan tawa membahana, sesaat usai mendapati sosok Leonardo dari sebuah cermin berukuran besar. Lalu, “Hei, kau remaja laki-laki,” Kyteler menyapa teruntuk pertama kali. Abrar menoleh pada sosok Kyteler. Menatap paras cantik yang terlihat sungguh berbeda dari kaum hawa biasa. “Apa kau tahu, pemuda itu membawamu ke mari tak untuk memberi kehidupan baru padamu?” Kyteler berujar. Abrar mengernyitkan dahi, “Apa maksudmu, wahai Bibi?” HAH? Bibi? Sialan! Remaja laki-laki ini memanggilku dengan sebutan Bibi? Memang, setua apakah diriku? Kyteler bergumam. Beralih menatap paras melalui cermin. Menyaksikan rupa yang mulai mengeluarkan garis keriput di wajah. Bagaimana tidak, sudah tiga hari lamanya, ia tak menyerap paras, usia dan kemampuan para

