MUDA-MUDA GIGOLO 4 (Lost In The Youth)

1820 Kata
Dulu, sekitar delapan belas tahun lalu, seorang perempuan muda berusia 19 tahun bernama Emilia Virgianti jatuh cinta pada seorang lelaki, Alex Grissham, turis berkewarganegaraan Inggris yang sedang berlibur ke Indonesia. Mereka bertemu di pantai Kuta pada bulan Juli tahun 2003. Pertemuan singkat tapi mampu melahirkan bibit-bibit cinta pada keduanya. Emi, begitu perempuan itu dipanggil, saat itu masih berstatus sebagai mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Pergi berlibur bersama teman-temannya ke Bali untuk beberapa hari, secara tidak sengaja justru dipertemukan dengan sosok Alex. Laki-laki bule yang usianya terpaut sepuluh tahun lebih tua. Namun cinta memang buta, begitu pula dengan Emi. Impian semasa remajanya dulu untuk berjodoh dengan ras Eropa, membuatnya benar-benar mampu dimabuk kepayang. Perempuan tersebut terlena, memasrahkan diri begitu saja ke dalam pelukan laki-laki asing, dan mereka pun terlibat dalam buaian perbuatan terlarang. Sebuah hubungan singkat serta berharap suatu saat bakal kembali bertemu, akan tetapi takdir berkata lain. Usai masa liburan habis, keduanya pun berpisah. Dari pertemuan singkat mereka tersebut, Emi pun berbadan dua. Sebagai orang tua yang sudah banyak memakan asam-garam kehidupan, kehamilan perempuan itu tidak bisa lagi selamanya disembunyikan. Murka, tentu saja itu reaksi pertama yang diperlihatkan pihak bapak. Lantas meminta agar Emi menggugurkan kandungannya, dengan alasan; pendidikan yang belum selesai, dan sosok Alex sebagai pihak penanggungjawab malah menghilang bagai ditelan bumi. Emi menolak karena masih merasa mencintai laki-laki tersebut serta berharap banyak padanya. Perempuan itu pun diusir dari rumah. Dibiarkan hidup terlunta-lunta dengan kondisi perut kian membesar. Walaupun sebagai pendosa, tangan Tuhan ternyata tidak pernah berhenti mengulurkan pertolongan-Nya. Emi bertemu dengan laki-laki lain. Seorang sopir truk bernama Darwin yang hendak pulang ke Jakarta usai mengantarkan barang ke tanah Pasundan. Emi ikut bersamanya dan tinggal bersama sosok berusia 40'an tahun tersebut. Darwin memperlakukan Emi seperti anak kandungnya sendiri. Dengan telaten dia merawat dan mengurusi perempuan tersebut hingga melahirkan seorang bayi mungil. Laki-laki tampan, berkulit putih seperti orang Eropa, dan segudang kelebihan lainnya dibandingkan warga lokal. Melihat kebaikan dan ketulusan Darwin terhadapnya, lambat laun cinta Emi pun bersemi. Sekaligus mampu menghapuskan bayangan Alex yang telah berubah menjadi sosok paling dibenci. Mereka berdua pun menikah dan setahun kemudian melahirkan anak kedua. Bayi perempuan cantik sebagaimana ibunya, tapi berbeda warna kulit dengan sang kakak lelaki. Darwin dan Emi memberinya nama Safitri. Perbedaan fisik di antara kedua kakak-beradik tersebut sering dijadikan bahan ejekan teman-teman seusia mereka. Sang Kakak disebut sebagai anak haram karena ketidakjelasan sosok bapaknya. Entah karena itu pulakah, sikap Emi terhadap anak sulungnya tersebut sedikit berbeda? Jauh sebagaimana perlakuan yang diterima Safitri dengan penuh kasih sayang. Darwin tidak begitu. Baginya, anak sambung atau anak kandung adalah sama-sama anak mereka. Kedua kakak-beradik itu harus diperhatikan secara adil. "Siapa tahu kalo udah gede nanti, anak itu jadi orang terkenal, Mah," ujar Darwin suatu ketika pada Emi. "Dia itu unik. Dengan modal fisik dia seperti itu, mungkin suatu saat bakal jadi artis. Hahaha." Laki-laki itu berkelakar. Emi menanggapinya sinis. Baginya, melihat anak tersebut berarti sedang berhadapan dengan Alex. Laki-laki k*****t yang telah membuatnya hancur dan tersisih dari keluarga. ------------------------------------------ "Anak lelaki itu aku, Tante. Geovanni Grissham," kataku seraya menutup cerita masa lalu yang kelam tersebut. "Seorang anak yang gak pernah melihat bapak kandungnya sendiri. Berharap mendapat sentuhan kasih sayang dari Ibu, malah aku diperlakukan berbeda dengan adikku sendiri." "Ya, Tuhan," desah Tante Alma seraya menarikku ke dalam pelukannya. Aku terbenam nyaman di antara dua gundukan payudaranya yang besar dan empuk. "Kasihan banget kamu, Geo sayang. Tapi aku rasa, Mamahmu itu pasti punya alasan lain memperlakukanmu seperti itu, 'kan?" "Gak tahu, Tante," jawabku sedih. Lantas semakin membenamkan wajah ini dalam-dalam ke d**a Tante Alma. Menangis dan menumpahkan seisi rasa d**a ini di sana. "Bahkan aku hampir putus waktu lulus SMP dulu, gak ada lagi yang bisa membiayaiku untuk melanjutkan sekolah." "Kenapa, Sayang?" tanya Tante Alma lembut. Belaian jemarinya atas kepala ini begitu menenangkan. Nyaman sekali. Aku semakin merapatkan peluk ini melingkari area d**a hingga punggungnya. Hangat dengan kondisi masih sama-sama tanpa busana. "Papah Darwin keburu meninggal," jawabku lirih. "Ya, Tuhan." "Sepeninggal Papah Darwin, gak ada lagi yang bisa membelaku kalau Mamah sedang marah," tuturku kembali. "Kondisi rumah kayak berubah jadi neraka. Aku gak betah berlama-lama di sana. Sampe akhirnya, suatu hari aku bertemu dengan seseorang …." "Siapa?" "Seseorang." "Seseorang?" Aku mengangguk. "Ya, seseorang itulah orang pertama yang merangkulku dari keterpurukanku saat itu," jawabku seraya mengenang kembali pertemuan dulu dengan sesosok tersebut. Seorang perempuan …. ------------------------------------------ "Kamu mau pulang ke mana, Dek?" tanya sosok perempuan itu begitu aku kembali duduk di bawah sebuah pohon di pinggir jalan raya, usai membantu dia menggantikan ban kendaraannya yang kempis.. Aku menggeleng lesu. Bingung harus menjawab apa. Karena pulang ke rumah berarti akan mendapatkan cipratan kemarahan Mamah lagi. "Rumahmu di mana?" tanyanya kembali. "Biar saya anterin sekarang, Dek." "Gak usah, Bu. Terima kasih," jawabku seraya menggeleng pelan. "Lho, kenapa?" Dia terdengar heran. "Kamu duduk-duduk di sini sendirian, emang lagi apaan? Tempat ini sepi lho, Dek." "Gak apa-apa, Bu," jawabku datar dan tertunduk sedih. "Kalo Ibu mau lanjutin perjalanan, silakan. Saya cuma pengen sendirian di sini." Terdengar derap langkah perempuan itu mendekat. Lalu berjongkok di hadapanku dan bertanya lembut, "Kamu lagi ada masalah, ya, Dek? Tentang keluargamu, mungkin? Atau …." Aku tidak ingin menjawab. "Sudah mulai malam, Bu," kataku seraya bangkit dari duduk. Berdiri diikuti oleh perempuan tadi. "Gak aman lama-lama berada di sini. Sebaiknya Ibu segera pergi saja." "Lho, kalau tahu gak aman, kenapa kamu sendiri malah di sini sendirian, Dek? Gak takut kalau—" "Biarin aja, Bu. Ada yang mau bunuh saya juga itu lebih baik," kataku lantas bersiap-siap pergi meninggalkan sosok itu di sana. "Maksud Adek apa? Kok, bicaranya begitu?" Aku tidak peduli. Sama sekali tidak ingin menjawab. Hanya ingin pergi menjauh dari kemelut yang sedang kuhadapi saat ini. Termasuk dari sosok itu. "Eh, tunggu dulu, Dek!" seru perempuan tadi. Aku menghentikan langkah. Dia menyodorkan beberapa lembar uang ke hadapanku seraya berujar, "Ini buat makan atau apalah, Dek. Hitung-hitung sebagai rasa terima kasih saya sama Adek, karena tadi udah mau bantuin saya gantiin ban mobil. Terima, ya?" Sejenak aku memandangi lembaran uang tersebut, kemudian kembali menggeleng lesu. "Gak usahlah, Bu." "Eh, gak boleh begitu, Dek. Ini saya ikhlas, lho, ngasih buat Adek," seru perempuan itu memaksa. "Saya juga ikhlas bantuin Ibu." "Ya, kalo begitu, diterima ya?" "Makasih, Bu," balasku lanjut melangkah tanpa mau menerima pemberian uang itu tadi. Tidak kudengar lagi langkah perempuan itu mengejar. Syukurlah, berarti dia memang benar-benar sudah pergi. Namun beberapa saat kemudian sebuah mobil datang mendekat. Mundur perlahan-lahan di pinggir jalan, tepat di sampingku. Perempuan itu lagi. "Dek, masuklah," serunya di belakang kemudi. "Ikut saya, ya?" Aku menggeleng. Lantas kembali lanjut berjalan. Dia keluar dari dalam kendaraan, mengejar, dan terakhir mencekal pegelangan tangan ini. Katanya kemudian, "Ikutlah sama saya, Dek. Yuk. Mau, ya?" "Ke mana?" tanyaku bingung. "Ke rumah saya. Mau, ya?" "Mau ngapain, Bu?" Kini berubah heran. Perempuan tersebut tersenyum sambil menggeleng-geleng. Mungkin kesal dengan sikapku yang keras kepala. "Nanti kita bicarain di rumah saya," katanya dengan napas tersengal. Kecapekan? Tidak. Bisa jadi sedang berusaha untuk tetap bersabar. "Pokoknya sekarang Adek ikut saja. Mau, ya? Sudah makan belum, hhmmm?" Aku menggeleng. Jujur. Perutku memang terasa perih. Sejak siang tadi belum sebutir nasi pun masuk. "Ya, sudah. Nanti kita sama-sama makan di rumah saya. Bagaimana, Dek?" Kali ini aku menyerah. Membiarkan perempuan itu menarikku ke dalam kendaraannya. Kemudian lekas meninggalkan tempat tersebut. Tidak banyak perbincangan yang kami lakukan selama di perjalanan. Sungguh, aku sedang tidak ada gairah berbicara. Untungnya perempuan di samping tersebut memahami situasi. Hingga kemudian laju kendaraan berhenti di depan sebuah rumah berpagar kokoh dan tinggi. Setelah membunyikan klakson tiga kali, muncul seseorang dari dalam membukakan gerbang. Perlahan kami masuk dan memarkir mobil di sebuah halaman luas. "Masuk, yuk," ajak perempuan itu. Aku menurut. Keluar dari dalam kendaraan dan mengikuti langkahnya memasuki rumah. "Tunggu sebentar di sini, ya? Saya mau minta Mbok Nah menyiapkan makan malam. Kamu mau minum apa, Dek?" "Gak usah, Bu," jawabku singkat. "Serius, nih?" "Iya, Bu." "Ya, sudah. Sebentar saya tinggal dulu, ya?" Aku mengangguk pelan. Ditinggal beberapa saat, kemudian muncul sosok lain membawakan segelas air putih dan lipatan pakaian. Seorang perempuan tua. Kupikir mungkin pembantu rumah ini. "Kata Nyonya, kalo Adek mau ganti pakaian, sudah disiapkan ini," kata perempuan tua itu seraya menaruh bawaannya di atas meja. "Terus kalo mau mandi, mari saya tunjukkin kamar mandinya, Dek." "Gak usah, Mbok," jawabku kembali. "Lagian saya gak lama, kok. Sebentar lagi juga mau pulang." "Jangan, Dek!" serunya mencegah. "Kata Nyonya, Adek harus tunggu Nyonya sampe beres mandi. Makan malamnya lagi saya siapkan, tuh. Adek tunggu dulu, ya?" Perempuan tua itu bergegas kembali ke tempat semula. Sementara aku duduk sendiri di ruangan itu, memutari pandang ke tiap penjuru dinding di sana. Mata ini lekat memperhatikan beberapa buah foto tergantung rapi. Perempuan pemilik kendaraan tadi dan seorang laki-laki gagah berseragam putih seperti …. "Maaf ya, Dek, nungguin lama," kata satu suara mengejutkanku. Aku menoleh. Perempuan yang satu itu. "Mau mandi dulu atau langsung makan?" tanyanya kemudian seraya memperhatikan onggokan pakaian di atas meja. "Itu kalo mau ganti, pake saja yang itu. Kayaknya muat, kok, buat kamu." "Makasih, Bu. Saya …." "O, iya. Kita belum kenalan, ya? Maaf, saya sampe lupa." Perempuan itu tersenyum-senyum sendiri. "Saya Sandra. Kalo kamu?" "Geo, Bu." "Geo?" Dia mengangkat alis. "Geografi, Geologi, atau—" "Geovani," jawabku datar. "Oh, nama yang bagus, Dek Geo," pujinya diiringi senyumnya seperti tadi. Manis dan sangat cantik sekali. "Kamu boleh panggil aku Sandra, kok. Jangan pake 'Ibu', ya? Hehe." "Mbak Sandra?" "Hhmmm, boleh juga. Itu lebih bagus," katanya ramah. "Masih sekolah, Dek? Kelas berapa?" Aku mulai menyukai percakapan ini. Suara Mbak Sandra yang lembut mampu membuat suasana hati ini sedikit lebih tenang. "Baru lulus SMP, Mbak," jawabku pendek. "O, ya? Saya pikir kamu anak SMA," katanya seraya tertawa renyah. "Badan kamu itu lho, Dek. Hehehe. Gak kayak anak seusia kamu sekarang." Aku hanya tersenyum. "Kamu ada keturunan orang bule?" "Iya, Mbak, dari Papah saya." Mbak Sandra kembali menaikkan alisnya tinggi-tinggi, lantas berucap, "O, ya? Pantes aja ada wajah-wajah Eropa-nya 'gitu, lho." "Hehe … Mbak bisa aja," timpalku semakin menyenangi suasana seperti ini. Beda dengan di rumah. Terkesan kaku dan jarang sekali mengobrol layaknya sebuah keluarga. Apalagi semenjak Papah Darwin meninggal lalu. Nyaris aku dan Mamah laksana dua orang asing yang berada dalam satu ruangan. "Buat malam ini, Dek Geo nginep saja di sini," ujar Mbak Sandra usai kami banyak berbincang-bincang. "Besok pagi sambil berangkat kerja, saya anter Dek Geo ke rumah. 'Gimana?" Boleh juga, sih. Lagipula kalau pulang sekarang lumayan jauh dari daerah tempat tinggal Mbak Sandra. Belum lagi sesampai di sana nanti, akan kembali menghadapi masalah yang sama. Mamahku. Makanya aku memutuskan untuk memenuhi tawaran perempuan itu. Sekalian ikut mandi sebelum makan malam. Ini untuk pertama kalinya aku tidak pulang ke rumah. Yakin sekali, Mamah tidak akan begitu peduli. Bila perlu, mungkin aku benar-benar pergi menjauh darinya. BERSAMBUNG Gilbert Sczhawadownzky, 3 September 2021
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN