MUDA-MUDA GIGOLO 3 (Lost In The Youth)

1654 Kata
Usai menikmati makan malam, aku dan Ibu Alma berbincang-bincang di ruang santai lantai dua. "Kamu ngerokok?" tanya perempuan itu begitu aku turut menyulut sebatang rokok mengikutinya. Jawabku, "Iya, Bu. Gak apa, 'kan?" Ibu Alma terkekeh. "Santai saja," ujarnya seraya menikmati kepulan nikotin melalui mulutnya. "Toh, saya juga ngerokok, kok." Lantas menoleh padaku, lanjut berimbuh, "Eh, malam ini kamu gak pulang, 'kan?" Aku menggeleng, lalu disambut senyum semringah Ibu Alma. "Keluargamu gak bakal nyari?" Kembali aku menggeleng pelan. Lanjut Ibu Alma bertanya-tanya, "Kenapa, sih? Ada apa denganmu, Mas? Kayaknya—" Tiba-tiba terdengar dering telepon dari celanaku. "Siapa?" Aku memberi Ibu Alma isyarat agar tidak bersuara. Kemudian menerima panggilan tersebut. Dari nomor seseorang bernama kontak Vena. "Ini lagi di rumah temen, Tante?" jawabku beberapa saat setelah berbasa-basi. "Kayaknya gak bisa, deh, Tante. Gak tahu kapan, nih. Soalnya lagi sibuk belajar, mau ulangan sekolah. Maafin Geo ya, Tante. Hehehe." Ibu Alma tersenyum kecut mendengar percakapan kami. "Tante?" tanya perempuan di sampingku tersebut kecut. "Langgananmu, Mas?" Aku mendengkus. "Bukan," jawabku gusar. "Dia adik ibu saya. Tante Vena namanya." "Tante macam apa yang nelpon keponakannya malam-malam begini?" Aku membaui aroma kecemburuan dalam suara Ibu Alma. Segera kumatikan rokok, lantas menggeser duduk lebih merapat pada perempuan itu. "Ssttt … jangan marah 'gitu dong, Bu," kataku merayu. "Bukannya malam ini saya nginep di sini? Hhmmm?" "Mas Geo …." Belum usai dia berucap, aku segera membekap mulutnya dengan lumatan bibir ini. "Maasss," desahnya begitu jemari ini menyelinap ke dalam bilik d**a besar itu. Sedari tadi aku penasaran dengan dua gumpalan tersebut. Kali ini semuanya akan segera kutuntaskan. Meraup bebas dan nyaris tak mampu tergenggam dalam satu kepalan. Ibu Alma terdorong pasrah membaringkan diri di atas sofa. Membiarkanku mengacak-acak penutup d**a, lantas menarik wajah ini hingga terbenam sesak di antara dua gundukan tersebut. Usai melepaskan semua yang dikenakannya, kini gantian bagian utama tubuh perempuan itu menjadi sasaran kecup bibirku. Sungguh indah ciptaan Tuhan yang satu ini dengan lekuk menggairahkan serta kulit bersih hingga ujung kaki. Beberapa kali desah lirih Ibu Alma menggema memenuhi ruang santai. Matanya terpejam diiringi gelengan berkali-kali kala ujung lidah ini menari-nari pada tonjolan kecil aurat intinya. Harum dan gurih terasa membasahi hingga melumer di sekitar garis bibirku. "Mas Geo," ucap Ibu Alma seraya bangkit dan menarik kepalaku hingga posisi kami sejajar bertumpang tindih. Lanjut saling mematuk nikmat mulai sekitar belakang daun telinga, mulut, dan leher. Perlahan-lahan aku bangkit dari atas tubuhnya, mempereteli baju yang kukenakan dibantu oleh Ibu Alma dengan ganas. Hanya sebentar saja, lantas diikuti serangan serupa seperti tadi, tepat pada titik tengah, beberapa sentimeter di bawah pusar ini. "Astaga, Mas Geo!" pekik perempuan tersebut takjub sembari memandangi organ khasku yang berada dalam genggamannya. "Punyamu ini, lho," ucap Ibu Alma kembali. "Aku sangat menyukainya, Masss." "Nikmati saja, Bu," balasku di antara desis kenikmatan atas eksplorasi mulut perempuan tersebut pada bagian yang satu itu. Dia tersenyum senang dan berkali-kali memuji habis. Di ruang itu, tepat ketika waktu hampir menunjukkan awal malam datang, kami memadu cinta dengan penuh pesona. Pekik lirih dan desah kelelahan bersahutan silih berganti. Hingga akhirnya semua tuntas terpuaskan disertai lelehan peluh membanjiri sekujur badan. "Terima kasih, Mas Geo," ucap Ibu Alma dengan napas masih tersengal-sengal. Dia memelukku erat dalam kondisi tubuh masih sama-sama polos. "Kamu sungguh hebat banget, Sayang." "Sayang?" Aku terperanjat mendengarnya. Perempuan itu menengadah. "Iya, Mas," balas Ibu Alma. "Aku jatuh cinta sama kamu, Mas." "Semudah itu?" tanyaku. "Kita baru saja kenal, Bu. Lagian baru kali ini pula kita bersama seperti ini." Perempuan itu mengubah posisinya. Naik dan menindihi tubuhku. Untung saja, dadanya yang besar itu empuk. Jadi aku tidak begitu merasa sesak ketika dia mulai berbaring manja di atas sana. "Kamu itu masih muda, sedangkan aku sudah mulai memasuki usia menengah. Apakah wajar kalo aku mencintaimu, Mas?" tanyanya seraya mengusap-usap wajahku. "Mungkin aku lebih cocok jadi orang tua angkatmu, ya? Mungkin juga kakakmu?" Aku tersenyum menenangkannya. "Enggak perlu ngerasa rendah diri, Bu, walaupun usia kita terpaut jauh," ujarku lembut. "Karena cinta itu hadir tanpa diundang. Itu hak hati kita masing-masing. Kalau dengan cinta hidup ini bakal lebih indah, kenapa harus mati-matian menolak sesuatu yang mampu membuat kita jauh lebih nyaman, Bu?" "Ah, Mas Geo," ucap Ibu Alma manja. "Mulai detik ini, bisa gak kalo kamu gak usah panggil aku dengan sebutan Ibu?" "Maunya Mamah?" Aku tergelak-gelak. "Ya, jangan juga, dong!" protesnya sembari mencubit hidungku. "Panggil saja saya Mbak atau nama juga boleh." Aku menggeleng. "Enggak," ujarku segan. "Sangat gak sopan kalo saya manggil nama langsung." Aku berpikir sejenak, lantas lanjut berkata, "Gimana kalo Tante saja. Kayak saya manggil Tante Vena, misalkan." "Boleh juga, Mas." "Ibu … eh, Tante juga jangan panggil saya Mas, dong. Sebut nama saja, ya. Itu jauh lebih friendly dan paling saya sukai." "Aku setuju!" "Aku?" "Ya, aku. Kamu?" "Bukan itu maksudnya," kataku usil. "Sejak tadi kita ber-'saya-saya', kok, sekarang berubah jadi 'aku', sih?" "Iihhh, Mas … eh, Geo!" rengek Tante Alma kian bersikap manja. "Kamu itu ngegemesin, deh. Beneran sumpah, aku bener-bener mulai jatuh cinta sama kamu, Geo sayang." Aku tersenyum semringah. Jerat-jerat rayuku sejak tadi, kini mulai membuahkan hasil. Perlahan-lahan perempuan itu bakal tergila-gila padaku. Hhmmm. Duit … duit … duit …. Selamat datang duniaku! Semalaman itu kami menghabiskan waktu dengan obrolan. Saling membuka kisah lalu masing-masing. Diawali oleh Tante Alma sendiri. Hidup menjanda di usia produktif dengan segudang kemewahan hasil dari pernikahannya dengan almarhum Randy. Berpuluh tahun bersama membangun rumah tangga, tapi tanpa kehadiran seorang anak pun. "Mas Randy mandul," kata Tante Alma di tengah cerita. "Aku sempat berkeinginan untuk meminta berpisah dari dia, tapi setelah kupikir-pikir … itu sama saja dengan bunuh diri." "Bunuh diri? Maksud Tante?" Tante Alma menyalakan dua batang rokok, kemudian memberikannya satu padaku. "Maksudnya, sayang saja kalo harus berpisah dengan laki-laki setajir Mas Randy itu. Gimana nasibku nanti? Bakal seumur hidup aku jadi pegawai bawahan?" tutur Tante Alma dengan tatapan kosong ke depan. "Mas Randy itu salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan tempatnya bekerja dulu. Dia cukup disegani. Sementara aku, justru menjadi staf biasa di perusahaan lain. Cuma seorang petugas administrasi rendahan." "Terus kenapa Tante gak ikut kerja di perusahaannya Om Randy? 'Kan, otomatis nanti bakal jadi tangan kanannya si almarhum juga, dong." "Nah, itu dia yang gak aku pengenin, Sayang," jawab Tante Alma. "Aku gak mau jadi Bos hanya karena aku istrinya Bos." "Lho, kenapa?" Aku makin penasaran. Tante Alma menarik napas dalam-dalam. Tampak sekali ada gurat kegundahan dari wajahnya. Mengingat masa lalu yang memberatkan, tapi kini sudah bisa bernapas lega. Mungkin seperti itu dan aku belum tahu kejelasannya seperti apa. Setelah mengisap rokoknya, Tante Alma melanjutkan bercerita, "Karena di sana sudah duduk seseorang yang sangat spesial bagi Mas Randy." "Siapa? Mamanya? Papanya?" "Bukan," jawab Tante Alma masam. "Lalu?" "Istrinya." Aku terkejut. "Maksud Tante Alma, Om Randy poligami? Istrinya, 'kan, Tante Alma sendiri. 'Gimana, sih?" Aku makin bingung. " … atau Tante ini … maaf, ya, Tan … Tante istri mudanya Om Randy?" Tante Alma menggeleng. Jawabnya, "Aku istri pertamanya dan para b******n itu telah melakukan hubungan gila. Menjijikan." Otak SMA-ku belum sepenuhnya bisa mencerna maksud Tante Alma. Ini perkara apa, sih, sebenarnya? Bingung. Apakah mungkin Om Randy itu berselingkuh? Menduakan Tante Alma? "Awalnya aku pikir Mas Randy menikahiku karena dia mencintaiku," kata perempuan itu perlahan mulai mengungkap jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku tadi. "Nyatanya bukan, Geo." "Terus?" Dia menyulut kembali batang rokok baru setelah yang tadi habis terbakar. Hhmmm, kuat juga dia merokok. Namun aku tidak begitu peduli. Kisah hidupnya itulah yang jauh lebih menarik. Lanjut Tante Alma bertutur, "Dia menikahiku karena ingin menutupi keburukan yang selama ini dia sembunyiin. Randy itu … seorang biseksual, Geo. Dia juga penyuka sesama jenis." "Ya, Tuhan!" Aku terperanjat. "Dia memang menggauliku sebagaimana kewajiban seorang suami pada istrinya. Tapi di luar sana, dia juga bercinta hebat dengan laki-laki lain sesama teman kantornya. j*****m sekali, 'kan?" Aku manggut-manggut. Sukit dibayangkan bagaimana jika aku berada pada posisi Tante Alma. Pasti sangat menyakitkan. "Dia memang menggauliku. Meniduriku. Tapi gak pernah sekalipun memberi aku kepuasan batin, Geo," ujar Tante Alma seraya menatapku dalam-dalam. "Berpuluh tahun aku bersamanya, mendampingi Randy, tapi … apa yang kudapat? Sakit! Kecewa! Anehnya, gak pernah terpikir sedikit pun buatku untuk mencari kesenangan dengan laki-laki lain di luaran sana. Aku gak mau dan bukan perempuan rendahan. Aku gak bisa. Aku ingin hidup bersama Randy, karena aku mencintai dia. Makanya aku terus berharap suatu saat nanti, Randy akan sembuh dan mencintaiku seutuhnya. Sampai kemudian …." Aku menyodorkan segelas air putih padanya. Dia meneguk habis tidak tersisa. Kemudian terisak pilu sembari memelukku erat. "Dia meninggal dunia." "Ya, Tuhan!" seruku haru. Tragis sekali kisah hidup perempuan ini. "Randy meninggal dalam sebuah kecelakaan saat berada di luar kota," tutur Tante Alma kembali. "Mayatnya hangus gak tersisa di dalam kendaraannya yang terbakar dan aku sama sekali gak pernah bertemu dia buat yang terakhir kali. Cuma menerima sisa abunya, lalu kusimpan hingga kini di kamar tidur kami." Seketika aku bergidik. Entah kamar mana yang Tante Alma maksud. Semoga bukan ruangan pribadi yang sempat kumasuki tadi. " … sementara, pasangan homo Mas Randy malah pergi menjauh. Dia menghilang begitu tersiar kabar Mas Randy mati kecelakaan. Gak tahu ke mana hingga kini. Sejak itulah aku resign dari pekerjaan lama, lalu pindah menggantikan posisi Mas Randy di perusahaan baru. Di sisi lain aku sangat bahagia, tapi sekaligus merasa kesepian." Aku mulai paham kini. " … dan karena itu pula, Tante minta Mbak Sandra buat ngenalin aku sama Tante?" Aku menduga-duga. Tante Alma mendaratkan kecupnya di bibir ini, lantas berbisik, "Tapi bukan kamu satu-satunya laki-laki yang Sandra tawarkan padaku, Geo." "Terus Tante menerima semua tawaran itu?" Tante Alma menggeleng, lalu menjawab, "Sudah kubilang tadi, aku bukan tipe perempuan rendahan yang bisa menerima lelaki asing secara sembarangan, Geo." "Terus alasan Tante mau sama aku, apaan?" Pertanyaan terakhir barusan tampak mengejutkannya. Perempuan cantik itu terlihat seperti ragu untuk menjawab. Kentara sekali dari rokok yang tengah dia jepit di antara jemarinya, bergetar hebat laksana diterjang gempa dahsyat. Aku makin penasaran. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN