Pagi harinya Sejak lima menit yang lalu Hafiz lebih dulu bangun daripada istrinya, Syifa. Ia menatap istrinya yang masih terlelap dengan begitu nyenyak. Bahkan ia mendengar suara dengkuran halus darinya. “Ternyata Syifa jauh lebih cantik darinya.” ujar Hafiz dalam hati Yang Hafiz maksud adalah perempuan yang ingin ia nikahi kemarin. Namun karena perempuan itu kabur Syifa’lah yang menjadi penggantinya. Justru dengan Syifa yang menggantikannya ia merasa sangat bersyukur. Karena Syifa jauh lebih cantik dan tentunya baik hati. Ia bisa melihat hal itu dari cara bicaranya. Hafiz mengelus pipi Syifa dengan lembut. “Syifa!” panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur. “—“ Syifa tidak bergerak sedikitpun. Ia masih nyenyak dalam tidurnya. “Syifa, bangun!” “Emhh..” Syifa melen

