Aku tidur seperti mati di atas kasur tuan muda, tidak tahu sudah jam berapa. Tidak ada jam dinding maupun ponsel sebagai pertanda, bahkan tirai penutup jendela di kamar sangat rapat. Tidak dapat mengetahui di luar terang apakah gelap. Tercium lagi aroma woody yang lebih kuat, aku merasakan tuan muda masuk ke kamar. Aku pikir aku telah melakukan penjajahan, tuan muda terusir dari kamarnya sendiri karena aku menguasai kasurnya. Tanpa berbicara, aku melihat tuan muda mau mengganti pakaiannya, di villa, tuan muda memiliki ruangan berbeda untuk menyimpan pakaian sedang di sini hanya ada lemari besar yang minimalis modern. Aku masih memejamkan mata dengan posisi meringkuk, diam-diam mengintip. Me nyaksikan lagi punggung tuan muda yang polos dalam keremangan, seperti yang pernah aku lihat dulu

