Tuan muda tidak keluar dari kamarnya sejak kami sampai tadi siang. Entah apa yang dia lakukan di dalam kamar, sangat betah sekali. Aku membawa Kela duduk di ruang tamu, sedangkan Reva membaca berita di ponselnya. Pelayan wanita sedang menyiapkan makanan di dapur dan pelayan pria membersihkan taman di sekitar bungalow.
"Kak, aku sedang meneliti keluarga Hadikusumo, luar biasa ternyata mereka orang yang sangat berkuasa."
"Meneliti?" Aku tertawa mendengar istilah Reva, "Dek, kamu selagi di sini pergilah melanjutkan sekolahmu. Saat ini mungkin kamu tidak merasakannya, tapi nanti bagaimana?"
Reva meletakkan ponselnya, "Belajar sangat membosankan."
Sejak dulu aku tidak bisa memaksa Reva, dia baik dan penurut tapi untuk hal-hal tertentu, cuma ayah yang bisa mengaturnya.
Pelayan wanita pergi mengantar cemilan sore ke kamar tuan muda, dia kembali menemui kami.
"Nona Selma, nanti jam tujuh bersiaplah untuk menemani tuan muda makan malam dengan keluarga besar."
Sekalipun kaget aku mencoba menenangkan diriku, pelan-pelan aku memberikan Kela ke Reva.
"Apa yang tuan Zola katakan?"
"Menyampaikan pesan kalau Nona Selma akan pergi dengan Tuan untuk makan malam nanti malam."
Benar-benar, aku bukannya disuruh datang ke sini untuk mengurusinya? Dalam kepalaku berpikir, Tuan Zola mau mencari calon istrikah? Aku masuk kandang harimau. Saat memandang Reva, dia juga tak tahu harus berkata apa.
Aku tidak membawa banyak gaun, karena tuan muda juga tidak memberikan informasi mengenai keluarganya, tidak tahu bagaimana tipikalnya. Pernah bertemu dengan kakak keduanya yang bernama Melly juga bersikap aneh dan berubah-ubah. Aku keluar kamar dan mengetuk pintu tuan muda. Di villa, tidak bisa mengetuk pintu kamarnya karena harus naik ke lantai dua. Tapi di sini, kamar kami bersebelahan.
Tuan muda membuka pintu.
"Aku tidak mau pergi." Aku berkata padanya. Tuan muda menahan sebelah tangannya di kusen pintu, tubuhnya yang tinggi memakai topeng dan pakaian serba hitam membuatku mundur selangkah.
"Kenapa?"
"Tidak tau untuk apa. Lagipula aku tidak memiliki pakaian yang cocok."
"Jadi pakaian yang sedang dipakai saat ini?"
Daster rumahan yang aku pakai berlengan pendek dengan motif batik di bagian lengan dan bawahnya.
"Ini pakaian rumahan."
"Pakai itu saja." Tuan muda menutup pintunya di hadapanku. Arogan, sangat arogan. Mengatakan agar aku memakai daster saja? Itu hanyalah pemaksaan kekuasaannya. Aku kembali ke kamar dengan sedikit kesal, memutuskan untuk mengenakan terusan polos bewarna biru tua modelnya biasa saja, tapi itu adalah dress satu-satunya yang mungkin layak untuk makan malam keluarga. Selain tidak bisa membaca hatinya ditambah dengan tidak bisa membaca raut wajahnya.
Ketika keluar kamar aku melihat tuan muda memakai kemeja hitam lengan panjang dan sarung tangan bewarna putih, dia mengenakan celana bewarna hitam juga dan sepatu hitam. Melihat penampilannya yang rapi dan formal, aku mulai mempertanyakan penampilanku, sampai Reva datang.
"Aku ngeri mau mengatakan ini kak, tapi kalian terlihat serasi." Reva bahkan tidak tersenyum saat mengatakan itu.
Tuan muda, biar bagaimana pun tetap berpakaian rapi saat mau makan malam bersama keluarga. Dia tentu masih menghargai. Aku melirik ke arahnya. Kalau dipikirkan lagi, setahun terakhir hidupku tiba-tiba berubah 180 derajat.
"Ayo." Tuan muda berkata dan pergi mendahului, aku menyusul dari belakang. Anggap saja saat ini aku menjadi asisten atau sekretarisnya. Menemani seorang bos untuk pergi meeting.
Kami berjalan melewati lorong yang menghubungkan bungalow tempat tuan muda membawa kami dengan rumah utama. Keseluruhan rumah sangat mewah dan indah seperti istana. Bercat warna putih dengan banyak barang antik di dalamnya, aku pikir kawasan rumah Keluarga Hadikusumo bisa menampung penduduk satu desa, alih-alih hanya ditinggali oleh beberapa orang.
"Tuan muda."
"Zola." Dia memprotes.
"Z-Zola, aku sedikit gugup." Aku menghentikan langkahku.
Tuan muda seperti mendengus, kemudian berkata, "Tidak seperti biasa."
Dia menarik tanganku. Aku jadi kaget, tuan muda memang aneh terkadang diam dan menyeramkan, kadang kurang masuk akal, sekarang dia tak sabaran.
Pelayan menyambut kami, wajah mereka terlihat takut.
"Putraku." Di meja makan, sudah tersedia berbagai jenis makanan. Sosok paruh baya bertubuh besar dengan kumis tipis itu segera berkata. Di sebelahnya aku melihat wanita dewasa yang anggun namun bertampang sedikit lalim, juga Melly dan dua perempuan lain, bergaun ungu dan hijau. Aku menebak itu adalah kakak-kakak tuan muda. Saat melihat kedatangan kami wanita anggun memalingkan muka seperti melihat pemandangan yang menganggu. Tanpa memberi salam dan hanya diam, tuan muda menyuruhku duduk.
"Bertahun-tahun tidak kembali, sekalinya kembali membawa wanita."
Nada suara wanita anggun terdengar sedikit menyatakan ketidaksukaan.
"Bukan aku yang ingin kembali." Suara tuan muda kembali dalam dan mengerikan.
"Sudahlah mama, masih ada wanita yang mau dengannya masih beruntung." Suara perempuan berbaju hijau terdengar menjijikkan.
"Elysa, kamu mau menikah dengan putra keluarga baik dan sederajat dengan kita. Memang tidak layak dibandingkan dengan anak istri kedua," balasnya.
Aku yang merupakan orang asing sudah mau mengamuk, juga sakit hati mendengar ucapan mereka. Melihat ayah tuan muda juga hanya diam.
"Zola, siapa wanita di sebelahmu?" Ayah tuan Zola bertanya.
"Tentu saja kekasihnya, mereka telah tinggal bersama saat di villa. Bahkan ada seorang anak bayi." Melly tertawa tersendat. Sikap Melly sudah dapat diduga.
Ayah tuan Zola menggebrak meja, bunyi piring berdenting tak karuan. Dalam hati bersyukur tidak ada hidangan sup di depannya, kalau tidak pasti sudah tumpah.
"Orang mengatakan kepala keluarga Hadikusumo seorang yang bijak dan tegas, mendengar mulut berbisa saja sudah murka. Jadi meragukan kabar itu." Tuan Muda berkata dengan dalam dan tenang. Wajah Melly menjadi merah padam.
Ayah Tuan Zola mengeram, "Anak perempuan kurang ajar! Berani berbohong!"
Aku seperti melihat sebuah drama keluarga, tidak mengerti bagaimana keluarga kaya yang terlalu berkuasa hidup. Mudah sekali berubah kepribadian. Melly mengkerut dan membisu tampak sekali ketakutan.
"Papa, kenapa kamu marah pada Melly? Tidak tau wajah bagaimana di balik topeng, masih percaya padanya." Dengan kemarahan ibu tiri tuan muda berkata.
"Mau makan atau tidak?" Tuan muda Zola bertanya.
Dalam hati aku berpikir apakah niatan tuan muda ke sini hanya untuk membuat murka. Jelas sekali tuan muda tidak makan di depan orang-orang.
"Diam!" Ayah tuan muda membentak istrinya, seketika ibu tiri tuan muda berhenti bicara.
Pelayan menghidangkan makanan yang beraneka ragam, mulai dari daging hingga ikan. Aku melihat ke arah tuan muda.
"Makanan ini nanti antarkan ke bungalow Zola." Perintah Ayah Tuan muda, pelayan yang menerima pesan itu mengangguk. Tuan muda Zola setidaknya memiliki ayah yang menyayangi dia.
"Makanlah." Tuan muda berkata padaku, tuan muda mulai ahli membuat perasaanku susah. Bagaimana bisa makan setelah kata-kata tadi? Lagipula tuan muda juga tidak makan.
"Nama kamu siapa?" Ayah tuan muda bertanya.
"Selma." Aku menjawab.
"Orang tuamu?"
Aku terdiam, "Sudah tidak ada."
Ayah tuan muda bergumam, "Mau menjadi bagian keluarga Hadikusumo, sangat penting memiliki posisi yang diperhitungkan."
Aku diam memikirkan ucapan ayah tuan muda, seandainya beberapa tahun yang lalu ini adalah orang tua Emmeric yang mengatakan, aku pasti sudah sakit hati dan sedih. Hanya saat ini aku tidak merasa tersindir.
"Manjadi bagian keluarga Hadikusumo, entah berkah atau kutukan." Tuan muda membalas dengan kalimat yang sangat tajam. Aku sudah berhenti makan, tidak berselera. Ayah tuan muda langsung terdiam, perempuan berbaju hijau yang kalau tidak salah bernama Elysa mengatakan
"Sejak lama menyindir keluarga sendiri, kalau memang tidak suka di keluarga ini kenapa tidak pergi jauh dan hidup tanpa nama keluarga."
Tuan muda tertawa, menyeramkan. Aku sangat merinding, tawa tuan muda pertama kali aku dengar.
"Bagaimana menurut papa, kata-kata itu?" Tuan muda. Ayah tuan muda diam membisu sebentar, seketika tertawa memecah keheningan.
"Sudah-sudah, jarang berkumpul jangan meributkan sesuatu yang buruk. Elysa jangan berkata begitu lagi pada adikmu."
"Papa selalu membela dia, lihat bagaimana perilakunya semakin sombong. Sekarang berani membawa seorang yatim piatu makan bersama keluarga."
Aku baru saja mau membuka mulutku, tuan muda sudah berkata, "Apa kamu sudah selesai?"
"Sudah."
"Aku sudah memberi salam, sekarang permisi." Tuan muda tanpa mendengar jawaban langsung berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Aku meraih tangannya yang bersarung, meninggalkan ruangan itu begitu cepat.
Di teras bungalow aku bertanya padanya, "Zola, kamu membawaku untuk membuat pertunjukan seperti tadi ya?"
Tuan muda terdiam, "Apa kamu menyadari? Maafkan aku."
Aku tidak bisa marah padanya, karena merasakan kesakitan pada nada suaranya.
"Lain kali jangan begitu." Hanya itu yang bisa aku katakan.