Mobil Range Rover putih membawa kami meninggalkan villa peristirahatan putra bungsu Hadikusumo. Tuan muda Zola duduk di bangku depan dan ada seorang supir yang suka bicara, mengoceh sepanjang perjalanan walaupun tuan muda sama sekali tidak merespon kata-katanya. Sepertinya dia adalah supir yang telah lama melayani tuan muda.
Aku melihat ke dalan gendonganku, berharap Kela tidak rewel di perjalanan ini, tidak tau apa yang dipikirkan tuan muda sejak dia memutuskan membawa kami ikut dengannya. Tapi pelayan suami istri juga ikut, dengan supir lain membawa mobil kami mengikuti. Tuan muda telah memerintahkan orang lain untuk mengurus villa.
Saat jam makan siang kami berhenti di restoran, semua mata melihat ke arah tuan muda. Mungkin mereka berpikir kalau dia adalah seorang penyamun dan kami serta Kela yang masih sangat bayi adalah sanderanya. Rombongan kami berjumlah tujuh orang, pelayan pria mengatur agar kami mendapat tempat yang lebih privacy karena tidak ada ruangan tertutup di restoran ini. Reva terlihat mulai mabuk, dia memesan secangkir teh panas. Kalau menjadi penumpang Reva sering mabuk darat.
Aku memperhatikan tuan muda, dia tidak makan. Bagaimana sulitnya makan dengan menggunakan topeng itu. Jadi apakah nanti dia akan kelaparan di perjalanan? Aku akhirnya berinisiatif meminta lauk yang kering-kering untuk dibungkus, juga dengan nasi yang dipisahkan.
"Kak, untuk apa membungkus makanan?"
"Tuan muda belum makan." Aku menjawab, Reva melirik ke arah tuan muda dan menunduk lagi melanjutkan makannya. Reva sungguh tidak berkutik di hadapan pria itu. Aku merasa tuan muda punya aura untuk menundukkan orang lain. Tuan muda ternyata bisa minum dengan menggunakan sedotan, aku merasa wajahnya lucu saat dia minum sekalipun aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku menyusui Kela dengan pakaian busui friendly sehingga dadaku tidak terlihat.
"Baju yang aneh." Tuan muda berkata. Apa di rumah, tuan muda tidak pernah melihat aku menyusui? Atau dia melihat tapi belum ada kesempatan untuk mengomentari. Mengatakan baju aneh, apa dia tidak sadar dalam kehidupanku ini, dialah yang paling aneh.
Pelayan pria membayar tagihan makan dan kami kembali ke mobil, aku memberikan makanan yang dibungkus dan minuman botol ke tuan muda.
"Pergilah makan di dalam mobil, kami mau mencari angin sebentar. Reva mabuk."
Dia terdiam agak lama, mungkin ragu-ragu. Kemudian dia menerima dan mengucapkan terima kasih. Kami memberitahukan supir agar tidak dulu masuk ke dalam mobil, kaca mobil bewarna gelap di dalam ada orang juga tidak akan ada yang tahu.
"Nona Selma, sungguh perhatian sekali." Pelayan wanita mengatakan padaku. Bahkan dia tidak berpikir untuk melakukan hal itu. Kami pergi duduk di kursi, sedang Reva menguruti lehernya dengan minyak angin.
"Bu, apa ibu pernah tinggal di rumah keluarga besar?"
"Ya. Aku mengikuti tuan besar sejak lama, beliau memintaku untuk mengurusi ibu tuan Zola. Tuan besar paling menyukai istri keduanya--"
"Memang istrinya ada berapa?" Reva memotong, aku menegur anak itu. Tidak baik memotong ucapan orang tua.
"Cuma dua."
Reva bergidik, dia paling membenci konsep kerajaan. Dimana seorang pria memiliki ratu dan banyak selir. Tapi benar sih, wanita mana yang mau? Semua wanita ingin menjadi satu-satunya.
"Lanjut-lanjut." Reva cengengesan, dia paling tertarik kalau mendengar cerita tentang tuan muda.
"--karena suatu malam ibu tuan Zola di aniaya oleh Nyonya Besar, sampai kepala Tuan Zola yang waktu itu berumur delapan tahun terbentur dan terluka, akhirnya ibu tuan Zola mengamuk dan mereka pergi tinggal di rumah yang berbeda."
Pelayan wanita melanjutkan, "Tuan Zola sangat disayangi oleh Tuan Besar, apalagi dia anak lelaki satu-satunya."
"Padahal anak perempuan dan anak lelaki sama saja." Aku melihat wajah mungil Kela yang tertidur.
"Begitulah, tuan Zola sejak kecil sudah sangat cerdas, orang mengatakan dia malaikat berhati iblis."
"Hii seram sekali." Reva bergidik.
"Tuan Zola memiliki wajah dan senyum bagai malaikat, tapi dia sangat nakal. Sampai ibunya saja sering dibuat jantungan." Pelayan wanita tertawa.
"Setiap pulang ke rumah keluarga besar dia akan melakukan hal licik agar tuan besar marah pada nyonya besar dan anak-anaknya."
"Ya ampun. Tuan muda ternyata memiliki kepribadian yang jelek."
"Dia sekalipun cerdas, merupakan anak kecil saat itu. Pernah tuan muda mengatakan membenci ibunya karena menjadi istri kedua. Dia pergi dari rumah sambil menangis."
"Menyedihkan sekali." Reva berkomentar dengan sangat berapi-api, aku tertawa melihatnya. Dia lupa sedang mabuk perjalanan.
"Waktu ada acara pesta di usia tuan muda yang ke sepuluh, tuan muda mempermalukan nyonya besar di hadapan undangan. Beberapa minggu kemudian rumahnya terbakar. Disitulah tuan muda kehilangan ibunya dan mengalami luka bakar yang parah. Tuan besar sangat murka, tapi tidak bisa menghukum nyonya besar karena tak ada bukti kalau beliau yang melakukannya. Hanya pembicaraan di antara pelayan saja."
"Tuan muda sejak saat itu berubah, tidak bicara dan memakai topeng ke mana-mana, di umur yang ke lima belas pergi mengasingkan diri. Dia sudah banyak berganti pelayan. Sampai lima tahun lalu tuan besar meminta kami untuk menemaninya."
Kehidupan tuan muda juga tragis? Apa karena itu dia terlihat peduli pada kami? Mungkin dia merasakan sedikit koneksi.
"Tapi, kalau misalkan ibu tiri tuan muda berniat membunuhnya. Bukankah lebih mudah kalau tuan muda terpencil di villa?"
"Memang. Sebenarnya ini rahasia, kadang di villa terasa ada orang lain selain kami," sahut pelayan wanita.
"M-maksud ibu seperti penunggu?" Mata Reva terbelalak. Aku tertawa.
"Kakak, sempat-sempatnya tertawa."
"Bukan. Seperti bayangan tuan Zola. Aku rasa dia memiliki bodyguard yang tak terlihat."
"Tuan muda Zola sangat canggih. Aku jadi merinding mendengarnya." Reva menggelengkan kepala.
"Tuan muda menyedihkan." Keluhku.
"Kak, mana ada orang yang hidupnya lebih menyedihkan dari kakak dan aku." Bantah Reva.
"Kenapa bilang begitu?" Pelayan wanita terlihat kaget.
"Kakakku ini dikejar-kejar sama mantan pacarnya. Mau dijadikan istri kedua. Hiiii tak terbayangkan kalau nasib Kela seperti nasib tuan muda."
"Reva." Aku menegurnya.
"Apa dia ayahnya Kela?"
Reva mengangguk. "Dia memperkosa kakakku."
Aku menghela nafas, Reva kalau sudah bicara tidak dapat berhenti. Pelayan wanita menggelengkan kepalanya. "Di dunia ini banyak manusia berhati iblis."
Pelayan wanita selama satu bulan kami berada di villa sudah seperti seorang keluarga, seperti ibu. Aku rasa awalnya tuan muda mengganti-ganti pelayan karena tidak percaya dan sudah hampir lima tahun pelayan wanita dan suaminya bekerja di villa, mungkin tuan muda dapat merasakan ketulusannya.
Pelayan pria memanggil kami, tuan muda telah selesai menikmati hidangan dalam kesendirian. Kami melanjutkan perjalanan. Mobil yang kami kendarai masuk ke pekarangan rumah berpagar tinggi, aku heran melihatnya. Bagaimana ada rumah yang begitu luas di kota ini? Oh ya aku belum pernah pergi ke rumah keluarga Emmeric, selama ini orang Emmeric tinggal di apartemen. Dan saat pesta ulang tahunnya waktu pertama kali kami berkencan, juga tidak di rumahnya. Aku rasa Emmeric tidak mau aku merasa terintimidasi oleh statusnya.
Mobil kami melewati bangunan besar di depan. Menuju ke belakang, di belakang ada bungalow yang juga sebesar rumah. Kami berhenti di sana. Tuan muda turun, dikatakan bungalow juga seperti rumah tamu. Ada empat kamar di sana. Ini tempat tuan muda dulu menghabiskan waktu setelah kebakaran rumah, dia tinggal di sini selama lima tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk membuang diri ke tengah gunung. Lagi-lagi pelayan wanita menjelaskan.
Kamar kami bertiga bersebelahan dengan kamar tuan muda.
"Apa kalian masih memiliki uang?" Tuan muda bertanya kepadaku. Aku mengangguk saja, masih sangat banyak sisa memeras Emmeric dulu. Walaupun itu nantinya adalah hak anakku, aku berencana membuka butik perancang setelah Kela sedikit lebih besar, walaupun rasanya pastilah tidak mudah.
"Nanti aku akan memberi uang setiap bulan, urus saja rumah ini-"
Aku diam saja,
"-dan aku juga." Tuan muda segera masuk ke dalam kamarnya. Aku merasa aneh mendengar ucapannya. Maksudnya mengurus rumah dan dia? Aku tidak salah dengar bukan? Tuan muda kadang tidak terlihat seperti manusia kejam yang bisa menenggelamkan manusia ke kolam. Aku pikir setelah memantau situasi nanti, aku dan Reva juga Kela lebih baik kembali ke rumah kami dengan ayah dulu. Sekalipun dengan resiko, Emmeric akan mengetahui keberadaan kami.
Tuan muda berjanji untuk tetap merahasiakan keberadaan Kela, sesuai permintaanku. Aku berharap kali ini kehidupan kami bisa kembali tenang. Kami seperti keluar dari persembunyian di dalam goa dan melihat matahari lagi.