Aku turun ke bawah, menuju kamarku untuk mengganti piyama bewarna oranye seperti langit saat sore hari. Bagaimana bisa tidur dengan seorang asing di dalam kamar yang sama menggunakan piyama berbentuk terusan, di malam hari bisa saja tanpa sengaja memperlihatkan sampai ke dalam.
Reva menganga mendengar ucapanku yang mengatakan akan tidur di kamar tuan muda.
"Kakak, sudah aku duga. Kakak seperti bunga yang mencolok, membuat semua kumbang-kumbang berebut." Dia memandangku dengan tatapan sedikit pucat. Reva selalu mengatakan sesuatu semacam itu sejak dulu.
"Nanti apa dia akan mengajak kakak melakukan hal aneh?" Dia melanjutkan. "Kakak jangan sampai terjebak, seandainya dia kabur, kita tidak bisa mencarinya. Bahkan mukanya saja tidak tahu."
"Jangan berkata yang bukan-bukan."
Walaupun berkata begitu, tidak bisa menyalahkan Reva sepenuhnya, siapa yang tidak berpikir demikian. Berjalan di atas es yang menutupi danau sepertinya masih lebih baik dari kondisi ini.
"Seorang pria mengajak tidur di kamarnya, pasti ada sesuatu. Kak, saat tuan muda tertidur, kakak segera membuka topengnya. Kalau wajahnya masih mirip manusia, tidak apa. Kakak menikahi putra bungsu keluarga Hadikusumo sangat baik. Setidaknya bisa memberi Kela masa depan yang cemerlang." Reva mengatakan itu dengan serius, padahal dia sedikit bergidik.
"Kakak pergi ke atas. Kamu-" Agak bingung mengatakan pada Reva. Kami sudah bersembunyi di bawah celah bebatuan, sekarang mau keluar melihat matahari. Apa tidak langsung diserang oleh predator?
"Besok tuan muda menyuruh kita berkemas, mau pergi ke rumah keluarganya."
"Jadi kita akan kembali kak. Pantas saja tadi tuan muda menyuruh kita membereskan barang-barang di rumah." Dari nada suaranya, aku memahami ketakutan Reva. Kami sebelum kabur, banyak ditimpa kemalangan. Siapa berani menjamin kalau kemalangan itu tidak sedang menunggu kami di sana.
"Sementara kita ikuti keinginanya dulu, walau tampak mengasingkan diri, yang namanya pewaris keluarga berkuasa pasti memiliki kaki tangan di mana-mana."
"Tuan muda sangat menakutkan." Reva mengeluh lagi, kadang mengatakan tuan muda menakutkan, kadang tidak menakutkan. Setelah dipikir Reva masihlah anak remaja. Jadi wajar pemikirannya berubah dengan cepat. Sungguh berharap dia melanjutkan pendidikannya dengan baik nanti.
Aku segera memasuki kamar tuan muda lagi, aku merasakan aroma parfumnya semakin kentara. Aku mengetahui parfum dengan wangi woody yang maskulin, karena sebagai desainer yang kerap mempersiapkan fashion show, model-model pria memiliki wanginya masing-masing. Bisa membedakan wangi lembut, segar, maskulin dan yang lain.
Di dalam kamar, diam-diam aku merinding. Hal semacam ini jelas wajar, aku sudah cukup lama tidak berdekatan dengan pria. Terutama pria dengan wajah yang tidak aku ketahui bentuknya.
"Tuan muda. Itu-" Tuan muda masih duduk di kursi, sama seperti posisi tadi. "Apa tuan tidur di kasur juga?"
Dia menggeleng. Semakin aneh, jadi dia akan bersikap seperti seorang pengintai? Aku merasa tuan muda di dalam tahun-tahun kehidupannya merasa bosan, ingin mengawasi seorang anak bayi dan ibunya tidur berdua. Mengingat kalau manusia seharusnya begitu.
Aku naik ke tempat tidur dan membelakangi tuan muda untuk menyusui Kela, seluruh bulu di tubuhku berdiri. Aku mengikat rambutku, sekalipun udara sangat sejuk. Tadi telah mengganti piyama lengan pendek dengan celana panjang. Setelah Kela kenyang, aku membalikkan tubuh. Tuan muda mengawasi kami seperti seekor elang. Menahan rasa takut, dengan berani aku berhadapan dengannya.
"Tuan muda bisa tidur di sebelah sana, tapi jangan berbuat yang tidak-tidak."
Aku merasa tuan muda tertawa dari balik topengnya, tapi tubuhnya tidak bergerak sama sekali. Mungkinkah itu hanya halusinasiku saja?
"Tuan tidak kesepian tinggal di sini sendirian?" Aku mengajaknya mengobrol, sekarang aku telah masuk lingkaran kekuasaannya, setidaknya mencoba untuk akrab.
"Zola." Dia berkata.
"Eh?"
"Panggil aku Zola."
"T-tapi..."
"Jangan keras kepala."
Aku bersungut-sungut, "Baiklah. Zola, apa kamu tidak kesepian?"
Dia diam saja.
"Percuma saling memanggil nama kalau masih tidak mau menjawab." Aku semakin berani berbicara.
Karena kamar ini begitu hening, suara helaan napas tuan muda, maksudku Zola, jadi terdengar. Sedang suara napasku sendiri, tidak berani aku hembuskan keras-keras.
"Sepi juga tidak buruk." Suara tuan muda Zola semakin lama semakin dalam dan berat.
"Benar juga, aku selalu berpikir suka tinggal di keramaian. Tapi sekarang aku merasa, lebih baik menyepi."
"Kamu takut padaku?" Pertanyaan tuan muda membuatku menatap pada topengnya, lucu juga. Aku berani melihatnya terang-terangan karena tidak tau bagaimana ekspresi wajahnya.
"Sedikit."
"Sulit dipercaya."
"Tu- Zola, kenapa kamu membiarkan aku dan keluargaku tetap di sini."
"Aku butuh hiburan."
"Kamu terlalu jahat, apa kamu pernah membunuh orang?"
"Tidak usah bertanya sesuatu yang membuat dirimu bahaya."
"Besok. Seandainya kami mengikutimu pergi ke rumah keluargamu."
"Ya."
"Apa mereka tidak curiga kamu membawa anak? Zola bisakah sementara menyembunyikan keberadaan Kela."
"Sementara itu berapa lama?"
"Belum tau. Kamu mungkin tidak paham, aku susah payah membawa dia kabur. Aku tak mau dia diambil dariku." Air mataku menetes, aku membalik tubuh menatap langit-langit kamar, lampu kristal yang indah tergantung di sana.
"Aku lelah."
"Tidurlah." Lampu kamar itu mati padahal aku tidak melihat pergerakan tuan muda sama sekali.
Di tengah malam aku terbangun karena Kela menangis, aku menghidupkan lampu di sisi tempat tidur.
"Aaa..!" Aku menjerit melihat bayangan hitam di sebelahku. Jantungku nyaris terlepas, aku lupa kalau saat ini tidur di kamar tuan muda. Tuan muda tertidur di kursi. Apa dia tidur?
"Kamar ini kedap suara, kalau adikmu mendengar jeritan itu. Apa yang dia pikirkan?"
Ternyata dia tidak tidur.
"Tu- Zola, kamu tidak tidur?"
"Mendengar teriakan yang begitu melengking, bahkan seorang yang tuli pun akan terbangun."
Huh! Sekarang dia mulai mengejekku.
"Apa kamu bahagia?"
Eh? Aku menoleh ke arah Tuan muda.
"Kamu bahagia memiliki seorang bayi tanpa ayahnya?"
Dengan penuh ketegasan aku menjawab iya. Di depan orang asing tidak mungkin mengatakan isi hati ya ng sebenarnya, hanya perlu meyakinkan diri sendiri.
***
Di pagi hari saat terbangun, tuan muda menghilang. Aku pergi ke kamar mandi. Begitu membuka pintu terpekik kaget, melihat pungung seorang pria. Dengan cepat menutupnya lagi.
Dadaku berdetak sangat cepat, bahkan keringat dingin mengucur deras. Punggung tuan muda, terluka memanjang dari bawah leher hingga pinggang. Itu bukan luka bakar, punggungnya tidak ada luka bakar. Aku seketika merinding. Tuan muda keluar dengan mengenakan topeng dan jubahnya.
Aku menerobos masuk ke dalam kamar mandi, di pagi hari begitu kebelet, persoalan misterius pun harus diabaikan dulu. Setelah menyelesaikan panggilan alam. Aku melihat tuan muda menggendong Kela di dekat jendela, jendela yang terbuka lebar memperlihatkan lembah pegunungan yang indah. Aku berdecak kagum, pemandangan begini cuma bisa terlihat dari sini.
"Yang tadi--" Tuan muda membuka pembicaraan.
"Zola, aku tidak melihat apapun." Aku menjawab cepat.
"Kamu berbohong."
Astaga orang ini tidak mengertikah? "Maksudnya aku akan merahasiakannya."
"Siapa yang memintamu merahasiakannya?"
Tuan muda ini memang tidak perlu dikasihani, bersembunyi di tengah gunung masih menyimpan kearoganan dan kesombongan. Aku mau mengambil Kela, tapi tuan muda segera menjauhkannya. Melihat pundaknya sedikit bergetar, aku rasa dia tertawa.
Seorang bayi adalah sosok suci, siapa yang tidak luluh akan wujudnya? Siapa sangka aku bahkan berbagi anakku dengan orang asing nan misterius yang belum biasa dijelaskan bagaimana kepribadian sesungguhnya?
***