Hanya satu hari tuan muda memberiku dan Reva izin kembali ke rumah, sedangkan Kela ditahan di sana. Sudah menyetok ASI di lemari pendingin, tapi tetap saja tidak bisa bernapas karena teringat pada Kela. Aku dan Reva membereskan barang-barang penting, yang lain ditinggalkan. Berpamitan pada bulek dan makam polisi muda juga Pak Kepala Desa. Mereka telah mengetahui kalau aku menjadi pengurus villa putra bungsu keluarga Hadikusumo yang termahsyur. Mendengar kata pengurus villa membuatku sedikit tertawa. Aku seorang desainer setelah melahirkan anak beralih profesi menjadi pengurus rumah.
"Kak, menurut kakak. Keluarga Tuan Zoya dan Emmeric siapa yang lebih hebat?"
"Tidak tau." Aku memang tidak tau, kami tidak mengikuti perkembangan kaum berkuasa, sejak dulu hidup dengan tenang. Aku juga berpacaran dengan Emmeric tidak pernah menanyakan mengenai mengenai kekuasaan dan kemasyuran keluarganya. Seandainya Emmeric bukan orang kaya, sebagai senior di kampus dulu, aku rasa aku akan tetap jatuh cinta padanya.
Sejak dulu banyak kupu-kupu selalu berusaha menarik perhatiannya, tapi dia seperti kumbang beracun. Saat berpacaran denganku mengusir semua kawanan itu. Hatiku sesak. Bagaimanapun juga sekarang aku dan dia terikat selamanya karena Kela, sekalipun aku memutus hubungan dengannya, ikatan darahnya dengan anak kandung tidak akan terputus. Aku harus bersiap seandainya itu terjadi suatu saat di masa depan.
"Kak, menurut kakak Tuan Zola menyukai kakak?"
Aku tidak pernah memikirkan itu, mana bisa mengetahui isi hati orang yang wajahnya saja tidak bisa kelihatan.
"Tuan Zola katanya kejam dan seram, tapi dia mengizinkan kita tetap tinggal di sana. Sudah hampir sebulan, tidak pernah diperlakukan buruk."
"Reva, seandainya gerakan kamu secepat mulutmu bicara. Kita sudah selesai sejak tadi." Aku memarahinya, bagiku tidak peduli berapa banyak pria yang tertarik padaku, aku hanya perlu Reva dan Kela dalam hidupku saat ini. Itu sudah cukup.
Aku menitipkan kunci rumah pada bulek dan memasukkan barang-barang ke koper, entah kapan kami akan kembali. Tujuh bulan kami hidup dalam ketenangan di sini, apa mungkin bisa mendapatkan ketenangan lagi? Aku merasa tidak yakin sekalipun masa depan tak ada yang tau. Mobil kami telah diperbaiki oleh pesuruh Tuan Muda. Tidak tau kapan dia memanggilnya, dia bekerja diam-diam dan senyap sampai tak ada yang tau.
Di dalam mobil aku tertidur, ketika bangun sudah sampai di villa peristirahatan putra Hadikusumo. Pelayan wanita menyambut kami dengan gembira, dia berkata sejak kami pergi tuan muda sangat gelisah. Dia mondar mandir naik turun bahkan menggendong Kela dan membawa Kela ke kamarnya. Saat aku dan Reva melihatnya, dia menghilang.
"Mana Kela, Bu?" Aku bertanya pada pelayan wanita. Pertama kali masuk ke kamar yang kucari tentu saja Kela, bukan yang lain.
"Nona, bukankan sudah saya bilang kalau Tuan Zola membawa Kela ke kamarnya."
Bagaimana ini, aku mau segera menggendongnya. Tuan muda tidak terlihat dan lantai dua adalah wilayah terlarang, tidak mungkin naik ke atas untuk melihat Kela.
"Bu, nanti saat mengantar cemilan sore. Katakan pada Tuan Muda kalau Kela perlu minum s**u. Kasihan dari tadi pagi minum s**u yang tidak segar."
Pelayan wanita mengangguk. Aku dan Reva membersihkan diri, kemudian membereskan barang-barang kami.
"Tuan Zola itu kak, aku rasa hanya tubuhnya yang terbakar. Usia segitu dia pasti ingin memiliki istri. Jangan-jangan dia bermaksud menjadikan kakak istrinya. Aduh bagaimana ini, setidaknya kakak harus melihat mukanya bukan kalau kalian menikah?"
"Reva, jangan melantur kamu."
Aku terus memikirkan Kela, ingin rasanya pergi ke lantai atas dan menerobos masuk ke kamar tuan muda.
Pelayan wanita datang lagi, "Nona Selma, tu-tuan memintamu ke kamarnya." Wajah pelayan wanita sangat shock saat menyampaikan hal itu, seakan mengabarkan seekor telur ular menetaskan anak burung.
Aku berusaha bersikap tenang mendengar perkataan pelayan wanita, mudah-mudahan dia hanya memintaku mengurus Kela. Menaiki tangga villa terasa sangat deg-degan. Aku berpegangan dengan hati-hati agar tidak jatuh berguling ke bawah.
Belum mengetuk pintu kamar, terdengar suara dalam memerintahkan untuk masuk. Aku mengelap tanganku yang seperti berkeringat pada piyamaku. Memasuki kamar tuan muda membuatku terpukau, kamar tuan muda bernuansa hitam dan coklat. Mewah dan elegan, tidak begitu misterius seperti dia.
Tuan muda berdiri di dekat jendela, dengan topeng dan jubah membungkus tubuhnya. Kela tertidur nyenyak di atas tempat tidur, berseprai coklat.
"Tuan muda. Ada apa mencari saya?"
Dengan langkah berat, tuan muda duduk di kursi dekat jendela.
"Besok aku akan ke pusat kota."
Oh. Aku teringat ucapan kakak keduanya saat itu, sebentar lagi pastilah ulang tahunnya.
"Begitu."
Pusat kota empat jam dari tempat ini, tempat yang sudah delapan bulan aku tinggalkan.
"Kamu dan semuanya berkemaslah, kita akan pindah ke sana," ucapan tuan muda membuatku merinding.
Aku menahan napasku, melihat ke arahnya. "Tuan muda, saya belum ingin kembali ke sana." Terlalu cepat, Emmeric, sekalipun kukatakan kalau aku keguguran. Kalau dia melihat Kela, pasti tidak akan percaya.
"Menghadapi lebih baik."
"Tuan muda berkata demikian, padahal tuan muda bersembunyi bertahun-tahun karena takut pada ibu tiri." Setelah mengucapkan kalimat yang paling panjang sejak bertemu dengan pria itu, aku segera menyesal seketika menepuk mulutku. Lancang sekali. Aku melirik ke arahnya lagi, aku lupa tak bisa membaca ekspresinya. Melihat dia tetap duduk dengan tenang aku sedikit merasa lega.
Tuan muda diam saja, "Berbicara sedikit lebih baik, daripada membeberkan banyak ketidaktahuan."
Aku merasa tersindir dengan ucapannya, tapi itu memang benar.
"Maaf."
"Emmeric Thomas, sebentar lagi dia akan mengetahui keberadaan kamu."
Aku terkesiap, berdebaran jantungku aku rasakan. Aku memang pernah mendengar penguasa-penguasa terkaya di negara ini saling menyelidiki satu sama lain.
"Apa yang tuan muda ketahui mengenai saya?"
"Berpikirlah untuk mengikutiku, kalau tidak ingin dia mengambil putri angkatku."
Mendengar tuan muda menyebut putri angkat, perasaan gelisahku sedikit sirna. Aku merasakan kasih sayangnya sedikit pada Kela dari kata-katanya itu. Dia melihat Kela sejak masih bayi merah, langsung menggendongnya. Kela bayi menggemaskan, ditambah sekarang pipinya sangat gendut membuatnya semakin lucu.
"Tuan. Aku menghindari Emmeric untuk mengikuti tuan, tidakkah itu bisa lebih berbahaya bagi aku sekeluarga."
"Kalau mau pergi, pergi saja. Kela akan di sini."
Aku menghela napas, tuan muda menyukai kehadiran anak bayi. Sekarang mengusirku untuk mengambil bayiku, apa yang dia lakukan memangnya tidak lebih buruk?
"Mana bisa. Aku ibunya."
"Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin." Tuan muda dan aku seperti bertengkar, tapi dengan nada suara tenang dan dalam. Lucu juga, tidak pernah bertengkar dengan seorang pria dengan gaya seperti ini sebelumnya.
Aku tertawa.
"Kamu ini, aneh." Dia berkata.
"Tuan muda, kamu jauh lebih aneh." Aku mengangkat tubuh mungil Kela.
"Malam ini Kela akan tidur di sini." Tuan muda berkata, aku merasa nada suaranya sedikit canggung.
Aku meliriknya, "Kela terbangun setiap dua jam sekali, kadang dia tidak tidur, menangis saat lapar. Bagaimana tuan muda menjaganya?"
"Kalau begitu kamu yang menjaganya di sini."
Seandainya bola mata bisa keluar, pastilah bola mataku keluar saat ini mendengarkan ucapannya.
Dengan mulut menganga aku melotot ke arahnya.
"Menjaga maksudnya?"
"Kalian tidur di sini."
Aku tertawa, tuan muda orang misterius yang suka membunuh dan menghajar orang. Membuang bunga mawar yang indah ke dalam tong sampah. Sekarang memintaku dan anakku tidur di sini. Mungkin kami akan menemui ajal, karena sesak nafas tertekan oleh auranya.
"Tuan muda, kalau mau mengajakku tidur dengan tuan katakan saja terus terang."
Tubuh tuan muda bergerak sedikit mendengar ucapanku, dia terdiam
"Aku bosan." Dia berkata.
"Aku dan anakku bukan hiburan tuan, kalau mencari kesenangan kenapa tidak memanggil badut sekalian."
"Cerewet sekali." Tuan muda mengataiku seperti keanehan.
"Aku pergi."
"Hei-"
Aku berbalik, "Apalagi yang mau tuan katakan."
"Sikapmu sangat kasar pada penyelamatmu."
Ucapan tuan muda membuatku tak berkutik, sejak dulu selalu memiliki prinsip untuk membalas berkali lipat kebaikan orang lain. Tuan muda ini pastilah sudah mengetahuinya, dia bersikap licik untuk mendapat keinginannya.
☘️