Mataku samar-samar membuka, aku merasa sinar matahari menelusup dari tirai. Aku bahkan tidak mengganti bajuku. Sesosok tubuh duduk di sampingku. Melihat alisnya yang hitam serasi dengan matanya, juga bibir dan hidung yang terpahat sempurna. Aku menangis sejadi-jadinya. Tangan tuan muda membelai pipiku yang basah. Aku selalu berfirasat mengenai ini, hati kecilku sering memikirkannya. Sesuatu yang tidak mungkin, aku pikir itu karena jauh di dalam hatiku aku merasakan keinginan terpendam. Menginginkan kalau sosoknya masih ada. "Kamu marah?" Suaranya melembut, bicara begitu tenang. Tanpa memakai topeng suaranya terdengar lebih merdu. Aku bahkan tidak tau harus menjawab pertanyaan itu, marah? Apa yang aku rasakan saat ini apakah kemarahan atau kekecewaan? Aku memejamkan mataku, mengira ka

