Dengan begitu terhuyung seakan seluruh tulang dalam tubuhku lenyap aku berjalan dan tersungkur. "Kakak!" Reva berteriak saat melihatku. "Apa yang terjadi?" "Emmeric...Dia..." Aku sudah tidak tau apakah suaraku saat ini masih ada. "Kenapa dengan Emmeric?" Reva melihatku yang sangat kacau. "Emmeric biadap! Aku akan membunuhnya!!" Tuan muda bergegas keluar mendengar jeritanku, menarik tanganku. "Reva urus Kela." Dia memerintah. Aku meronta-ronta dalam gendongannya. "Pembunuh!" Aku meneriakkan kata itu berkali-kali, tuan muda membawaku ke kamarnya dan mengunci pintu. Tuan muda menahanku di atas tempat tidur, air mataku mengalir deras bagai air sungai di musim hujan. "Tenangkan dirimu!" Tuan muda berteriak, aku masih begitu sesak. Hatiku sangat sakit mengetahui kenyataan ini. "Zolaa...

