Sekalipun aku bilang tidak takut pada aura kegelapan yang menyelimuti tuan muda bertopeng, tampaknya aku cukup pucat berhadapan dengannya. Tapi sekali lihat bisa tau kalau adikku lebih gugup dari aku. Reva telah menemukan musuh alaminya. Membuatnya diam tak berkutik.
Memandang wajah tuan muda tak bisa membayangkan bagaimana ekspresinya. Bahkan bola matanya dalam tak terlihat karena topeng. Tak juga bisa mengetahui warna kulitnya karena sampai ujung jari setitikpun warna kulit tak terlihat, terbungkus rapat. Lingkaran di matanya berbayang gelap jadi tak juga bisa mengetahui benar dia berkulit putih, kuning atau hitam.
Pria seperti tuan muda sekalipun pahit menderita dalam menjalani hidupnya, telah di manja dan disayangi juga bergelimang kekuasaan sejak masih kecil. Siapa berani melawan kata-katanya.
Dan aku datang ke dalam rumahnya dengan adik dan calon anakku meminta pertolongan serta perlindungan jelas menjadi 'miliknya'.
"Tuan muda, tidak mengerti apa yang tuan katakan. Kami memiliki keluarga lain di desa, suami saya juga sudah menunggu."
Tuan muda hanya diam memandang lurus dari kursi kebesarannya.
"Suami yang mana?" Tuan muda tidak terlalu pendiam sekalipun misterius, dia mampu mengucapkan kata-kata yang panjang.
"Itu..."
"Sudah bersembunyi dari pria yang mengejar selama kehamilan."
Aku memucat, " Bagaimana tuan muda tau?"
"Aku memang jauh dari dunia luar. Tapi tidak buta dan tuli."
"T-tuan muda, apa mengenal kami? Jangan bawa kami pada orang itu." Reva menangis terisak, memikirkan penderitaan kami. Tak tau mau menyalahkan siapa. Bertemu tuan muda Hadikusumo juga tidak tau permainan nasib.
"Jangan menangis seperti kucing."
Aku merasa aneh dengan istilah tuan muda.
Reva menjawab, "Kucing tidak menangis."
"Kami tidak mau melibatkan orang lain lagi dalam kehidupan ini, mengalami suatu yang berbahaya. " Aku berkata.
"Apa menyepelekanku?"
"Bukan itu maksudnya."
"Tuan muda....jangan siksa kami." Reva meraung. Kenapa dia begitu terhadap tuan muda? Aku malah ingin tertawa dengan tingkahnya. Melihat tuan muda bahkan tak bergerak, tak tau apa dia sangat marah. Bagaimana ini?
"Ini bukan permintaan." Kata-kata tuan muda membuat kami diam. "Kalian akan mendapat perlindungan." Tuan muda pergi ke kamarnya.
Perlindungan?
Seperti arahan polisi muda, di ujung dunia bersembunyi akan ditemukan oleh Emmeric Thomas. Bersembunyi di desa menyimpan ketakutan suatu saat akan ditemukan.
"Mungkin sudah jalan hidup." Aku pergi ke kamar diikuti oleh Reva sambil menggendong Kela.
Kela, anak bayi yang mengerti keadaan. Di tengah gunung jarang menangis. Bahkan kalau lapar hanya gelisah. Tuan muda telah menyelidiki informasi tentang kami. Tak ada gunanya berbohong.
"Kak. Tuan muda sedikit aneh."
"Kenapa?"
"Setelah bilang jangan menangis seperti kucing. Aku jadi tidak terlalu takut lagi."
"Tuan muda mungkin saja sejak umur sepuluh telah terasing dari dunia luar, tidak pandai membawa diri kepada orang-orang."
"Kakak setuju dengan permintaan tuan muda?"
Kela mengisap kuat payudaraku tampak haus, aku berbaring miring. "Kamu sudah dengar tuan muda bilang bukan permintaan."
"Jadi apa kita harus lari?"
"Tidur saja, besok baru pikirkan."
Reva mengangguk.
***
Makan bersama tuan muda untuk pertama kalinya, sangat hening. Bahkan Kela si bayi tidak bersuara. Dibilang makan bersama juga salah karena tuan muda tidak makan, dia selalu makan sendirian di kamarnya menurut pelayan. Mungkin susah karena tertutup oleh topeng. Makan dalam kesunyian sampai suara langkah tergopoh-gopoh masuk.
Seorang wanita berambut panjang masuk, dia mengenakan gaun bewarna merah menyala. Cantik tapi make up-nya terlalu tebal.
"Zola." Dia memanggil tuan muda dengan namanya saja, seperti dia memiliki jabatan cukup penting.
"Nona Melly, tuan muda sedang sarapan." Pelayan wanita mengikuti langkah kakinya yang panjang dari belakang.
Matanya yang menarik menatap kaget ke arahku dan Reva terlebih lagi pada kereta bayi.
"Tidak pernah melihat tamu di rumah ini?" Wanita bernama Melly itu menatap ragu.
"Ada apa?" Suara tuan muda sangat dingin, di ruangan yang sejuk ini membuat aku menggigil. Melihat adikku, Reva pun berhenti makan dengan gaya sedikit kaku. Tuan muda Zola selalu mengeluarkan aura kegelapan tapi baru kali ini suaranya terdengar begitu dingin.
Muncul ekspresi tidak senang di wajah wanita bergaun merah, "Aku bertanya kenapa ada wanita dan bayi di sini?"
Pelayan wanita berkata, "Nona Melly, ini adalah tamu tuan muda."
"Tamu? Sulit dipercaya seorang sosiopat seperti dia bahkan memiliki tamu."
"Hei kakak!" Reva bangun dengan kemarahan, tipe orang seperti Reva sangat membenci penghinaan, padahal dia sering memaki.
"Beraninya kamu berteriak! Tidak tahu siapa aku?" Wanita itu sangat marah, tidak menyangka dia dibentak oleh seorang perempuan muda. Wanita itu mengangkat tangan seperti mau menampar Reva, aku segera berdiri. Tapi tuan muda lebih dulu mencengkram tangan wanita itu hingga dia mengaduh.
"Jangan buat keributan atau dilempar keluar."
Melihat sikap tuan muda, wajah Reva jadi jauh dari ketakutan, malah begitu riang karena telah dibela. Semenjak dialog mengenai kucing pandangan Reva berubah dengan cepat. Kata Reva, tuan muda pastilah penyayang kucing dan seorang yang menyayangi hewan pada dasarnya punya sifat baik. Entah darimana dia membuat keputusan seperti itu.
"Reva, duduklah." Aku menegurnya. Reva duduk sambil bersungut.
"Zola! Dengar ya, aku sebenarnya tak sudi datang ke tempat terpencil begini. Hanya karena papa menyuruhku." Melly duduk melengos sambil menggertakkan gigi, memerintah pelayan wanita mengambilkan air dingin yang steril.
Wanita ini berbicara santai tanpa ketakutan dan keseganan pada tuan muda, seketika aku menarik kesimpulan kalau dia adalah kakak dari tuan muda.
"Ulang tahunmu yang ke -27 bulan depan, papa akan mengumumkanmu menjadi pewaris keluarga." Dia bicara langsung tentang tujuan kedatangan.
Tuan muda baru berumur 27? Aku pikir dia sedikit lebih tua. Benar juga mana bisa aku berpikir begitu, seluruh tubuhnya tertutup tidak bisa menduga. Pelayan wanita mengambilkan makanan untuk Melly. Wanita bergaun merah makan dengan lahap seperti kelaparan.
"Hei adik, minta itu yang di depanmu." Dia memerintah Reva mengambil makanan di depan kami. Membuat aku sedikit bingung dengan sikap yang berubah-ubah, apakah semua wanita kaya punya beberapa kepribadian?
"Kalau di rumah selalu menyebalkan, mau makan saja susah. Harus berpura-pura bersikap anggun. Sangat membosankan." Dia mengeluh.
Kami tercengang melihat kelakuan wanita itu. Apaah dia hanya berpura-pura bersikap kasar? Atau memang kasar tapi sebenarnya tidak terlalu keji.
"Hei. Apa kamu calon istri Zola dan kalian memiliki anak diam-diam?" Melly masih berusaha mengorek keterangan mengenai siapa kami.
Suasana yang tegang dan kaku mendadak cair, walau aura menyeramkan masih terlihat dari tuan muda yang berpakaian serba hitam. Kami masih belum menjawab pertanyaan Melly dia sudah bertanya lagi, "Berapa lama kalian telah tinggal di sini?"
"Sudah sekitar dua minggu." Aku menjawab.
"Apa kalian betah dengan kedinginan makhluk hidup itu?" Biar bagaimana pun Melly sedikit ragu memandang kepada Tuan Muda Zola.
"Apa nona kakak tuan muda?" Reva sudah menduga hanya ingin memastikan.
"Mau bagaimana lagi tak bisa mengelak kemalangan, jadi kakak dari pria yang mengurung diri di tempat terpencil. Menyedihkan."
Reva mau bangun lagi dari kursi, kurasa dia mau menjadi bodyguard tuan muda. Tuan muda berdiri dan pergi meninggalkan kami.
"Hei Zola! Ingat ya bulan depan. Kamu harus datang kalau tidak keluarga akan mencoret namamu dari daftar silsilah keluarga Hadikusumo!"
"Zola sampai kapan mau mengurung diri di tengah gunung?"
Kami memandangi suaranya yang berisik dan cerewet, mengalahkan Reva.
"Sialanlah pria bertopeng itu! Membuatku kehabisan energi. Aku butuh makan yang banyak."
Wanita bergaun merah mengeluh, makan begitu banyak seperti tidak ada hari esok. Setelah makan dia berbincang-bincang dengan kami. Bahkan sempat menggendong Kela sebentar. Mengatakan kalau dia adalah kakak kedua dari tuan muda dan hatinya paling baik, cuma dia saja yang berani datang ke villa persembunyian putra bungsu Hadikusumo karena semuanya takut.
Tuan muda sangat mengerikan dan tak segan-segan membunuh orang, begitu kabar yang beredar. Tidak boleh ada yang menyinggungnya. Bahkan tak ada pelayan yang mau datang membantu di sini, hanya dua pasangan suami istri yang bersedia karena kasihan dengan nasibnya.
"Kak, apa benar Tuan Muda terbakar seluruh tubuhnya?"
"Hiiii, adik, itu benar sangat mengerikan. Aku melihat tangannya sedikit waktu dia berumur lima belas tahun. Saat acara ulang tahunnya, sangat meriah waktu itu. Tapi entah kenapa sarung tangannya terbuka, ada luka bakar yang menjijikkan sekali. Semua ketakutan. Itu menyebabkan Zola akhirnya memyembunyikan diri di sini."
"Kasihan ya. Sebelum umur sepuluh tahun bagaimana penampilan tuan muda?" Reva bertanya lagi. Dia terlalu banyak bicara, tapi aku menduga wanita bernama Melly senang menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Dia sangat tampan, orang-orang memanggilnya pangeran Hadikusumo. Kata orang, ibuku yang membakar rumah mereka karena iri tidak punya anak laki-laki. Aku rasa memang begitu." Sambil berkata begitu, terlihat wajahnya menjadi tidak senang.
"Keluarga kaya sangat mengerikan."
"Kamu juga berpikir begitu bukan?" Melly menepuk-nepuk punggung Reva, "Kami bukan keluarga kaya biasa."
"Kak, kamu jadi sombong."
Dia tertawa, "Adik, kamu tidak mengerti. Sulit menjadi baik kalau kamu terus menerus dikelilingi orang jahat dan licik.
Aku seketika teringat pada ucapan polisi muda. Berada dalam lingkaran, agak sulit tidak terbawa arus. Masa singkatnya bersama kami telah banyak mengajarkan pesan-pesan kehidupan. Aku membelai pipi Kela, bahkan kakekmu, seseorang yang sangat bijaksana tidak ada lagi untuk memberimu petuah dan kata-kata kebajikan.
"Ayahhhh...." Reva menangis tersedu.
"Heiii! Kamu kenapa?" Wanita itu segera panik melihat Reva menangis. Reva memelukku dan menangis di bahuku. Wanita itu semakin kebingungan.