Pria Bertopeng

1224 Kata
Tujuh bulan kemudian, "Apa maksudmu?"  Aku mendengar suara pria bertanya dengan panik. "Nona itu sedang hamil tua, Pak. Katanya perutnya mengalami kontraksi." Suara seorang wanita yang membuka pintu untuk kami menjawab. "Apa katamu, Bu? Astaga! Kita tidak bisa menampung wanita hamil di sini. Kalau tuan muda mendengar, dia akan murka." "Bagaimana lagi? Mobil mereka mogok di tengah gunung. Hujan deras begini." "Tolong kakak saya, Pak, Bu." Aku mendengar Reva memohon. Sedang aku dengan nafas terengah, terduduk di sofa. Aku menahan sakit di perutku yang melilit, "Sabar nak." Tubuhku dingin kena rembesan air hujan. Payung yang kecil tak bisa menahan hujan demikian besar, baju adikku Reva bahkan telah basah kuyup. Petir menggelegar, sosok bayangan tinggi terlihat di atas tangga. "Tuan muda!" Sepasang pelayan yang sejak tadi berdebar perihal menerima kami atau tidak di bawah segera memucat, kemunculan sosok itu memang menyeramkan. Terdengar suaranya yang dalam dan tenang. "Bawa ke kamar tamu." Seketika pelayan pria yang sejak tadi ketakutan menghampiriku dan membawaku ke atas tempat tidur. Nak, kamu sudah mau keluar? Aku terengah. Keringat dingin mengucur deras, ruangan itu telah sangat sejuk ditambah hujan petir di luar. Hatiku juga semakin dingin. Seluruh tubuhku bergetar, bibirku memohon tak henti-hentinya untuk jiwa mungil di dalam perut yang tak sabar melihat dunia. Ternyata mereka memanggil dokter, syukurlah ada yang bersedia datang di tengah hujan deras begini. "Kelahirannya lebih cepat satu bulan. Anak perempuan." Dokter berkata, bayi mungil bagai onggokan daging merah itu tak bersuara. Ya Tuhan. Aku terengah seperti nyawaku telah putus. Berjuang untuk tetap sadar. Sosok yang dipanggil Tuan Muda muncul di pintu. Aku melihat wajahnya mengenakan topeng menutupi seluruh wajahnya dan tubuhnya terbungkus rapat pakaian, juga sarung tangan bewarna hitam. Dokter menepuk p****t bayiku. Oeeeeee!!!! Anakku menangis berteriak mengalahkan bunyi hujan. "Anak cantik." Dokter berkata, terdengar suara Reva menghela nafas lega. Reva kular kilir di kamar itu, entah apa yang dia lakukan, mengikuti perintah dokter. Setelah bayiku bersih, dokter membiarkan aku menggendongnya. Menatap wajahnya, mataku menjadi berkaca.  Sangat cantik. "Mirip kamu, Reva." Aku berkata pelan. "Imut dan manis." Reva tertawa gembira, kebahagiaanku tak terkira. Wajahnya mirip ayahku juga, aku bersyukur. Selama kehamilan tak mau membenci apalagi memikirkan Emmeric, agar bayiku tidak mirip. Kupandang dalam wajahnya yang terlalu menggemaskan. Tangannya begitu mungil. Aku memberikannya colostrum pertama. Seketika aku merasa terhubung dengannya. Perasaan seorang ibu. Dulu hampir saja aku melenyapkannya, air mataku menetes pelan. "Tuan muda." Aku berbisik lirih, setelah kurasa bayiku kenyang minum s**u. Aku tak takut sama sekali dengannya yang terlihat begitu seram dan misterius. Dia tak menjawab panggilan aku. "Berikan nama untuknya, aku berterima kasih pada kebaikanmu."  Aku melanjutkan. "Shakela Aella Hadikusumo. Anak perempuan cantik yang lahir di tengah badai." Tuan muda mengatakan dengan tenang. Begitu pintar mendapatkan nama secara mendadak. A..apa? Hadikusumo? Pria bertopeng mengambil bayiku dan menggendongnya, suaranya sangat mencekam. "Dia akan jadi anak angkatku." Pria bertopeng pergi membawa anakku, tapi aku tidak bisa berteriak. A..anakku dibawa ke mana? "Kakak. Jangan bergerak dulu." Reva. Berkata. "Tenanglah, sangat beruntung menjadi anak angkat keluarga Hadikusumo." Suara pelayan wanita terdengar, dia telah berada dalam kamar lagi. "H--Hadikusumo?" Reva bertanya. "Ya, ini villa peristirahatan Tuan Muda Zolandra. Putra bungsu keluarga Hadikusumo." Aku terkesiap, seperti tertarik oleh benang merah. Kenapa lagi-lagi bertabrakan dengan kenangan di masa lalu? Aku menggigiti bibirku. Hujan di luar masih deras disertai petir menggelegar. ***** Tuan muda misterius hampir tak pernah berbicara dengan kami, dia hanya mengawasi aku dan Reva bermain denga Kela. Nama yang cantik, tuan muda Zola adalah penyelamat hidupmu. Begitu juga pelayan yang membuka pintu untuk orang asing di tengah hujan deras, suaminya dan dokter. "Kenapa Tuan Muda memakai topeng dan membungkus tubuhnya?" Reva bertanya. Pelayan wanita berkata dengan sangat pelan seolah takut sosok seram itu mendengar, "Nak, kamu carilah beritanya di internet. Tidak enak bicarakan majikan." Pelayan tuan muda ternyata orang yang tidak suka menggosip. Dengan bersemangat Reva mencari berita di ponsel. Umur sepuluh tahun rumahnya terbakar, dia sendiri mengalami luka bakar di seluruh tubuh dan ibunya meninggal. Aku seketika menggigil, masih ada orang yang begitu menyedihkan nasibnya di banding aku. "Kamu sudah lihat?" tanya pelayan wanita. Reva mengangguk. Ketika sosok bertopeng menghilang dari pandangan kami, pelayan berkata lagi, "Nasib Tuan Muda memang menyedihkan. Padahal dia satu-satunya anak lelaki di keluarga Hadikusumo. Terpaksa menyendiri di tengah gunung begini." "Kenapa tidak operasi plastik? Bukankah uangnya sangat banyak?" Reva bertanya, aku juga ingin menanyakan pertanyaan itu. "Lukanya terlalu parah, sudah tidak bisa melakukan apapun," sahut pelayan wanita. "Kasihan sekali. Apa tak pernah membuka topengnya?" Pelayan wanita menggeleng, "Kami bertahun-tahun bersamanya tak pernah masuk ke kamarnya." "Kalau begitu tuan muda pewaris keluarga, walaupun bertopeng bukankah lebih baik tinggal bersama keluarganya?" "Keluarganya sangat kejam. Istri pertama ayahnya yang melakukan itu. Tuan muda anak dari istri kedua." Reva terpekik. Dia segera melihat ke arah Kela. Berbisik padaku, "Kita beruntung pergi, tak membayangkan kekejaman yang akan diterima oleh bayi yang begini polos dan cantik." "Ada apa?" Pelayan bertanya. Reva buru- buru menggeleng. Villa peristirahatan di tengah gunung memilik halaman dengan bunga-bunga beraneka ragam, aku rasa melemparkan biji bunga akan langsung tumbuh begitu subur dan gemuk. Membuat pandangan mata dibuai oleh keindahan. Kami sudah seminggu berada di sana. Sekalipun lahir lebih cepat sebulan, Kela cukup sehat. Tuan muda memandangi kami dari kejauhan, aku menyuruh Reva memetik beberapa bunga di taman untuk mengisi vas kosong. "Kak. Kapan kita kembali ke rumah?" Adikku bertanya. Dengan serampangan dia menyusun bunga di dalam vas. "Reva, pegang Kela." Reva segera mengganti aku menggendong. Aku menyusun bunga- bunga dengan rapi. "Kakak seorang desainer pakaian, bahkan menyusun bunga di dalam vas bisa terlihat berbeda." "Karena kamu terlalu ceroboh." "Kak, aku takut melihat tuan muda. Dia memakai topeng yang seram. Apa seluruh wajahnya hancur?" "Pssst...diamlah Reva, tidak boleh berkata begitu pada orang yang menyelamatkan kakak dan keponakanmu. Kalau saat itu dia tak mengizinkan kita tinggal atau tidak memanggil dokter, mungkin kamu tinggal sebatang kara di dunia." Reva terpekik. "Kakak, itu sangat mengerikan." Tempat tinggal kami satu jam dari sini, aku dan Reva bermaksud pergi kontrol kehamilan ke rumah sakit di pusat kota. Tapi kami harus melewati gunung, Reva sudah ahli menyetir. Dia putus sekolah kelas dua SMA. Mau bagaimana aku memarahi, dia bergeming. Di sana kehidupan kami sangat baik, dengan uang pemberian Emmeric kami membangun rumah. Juga membangun sekolah dan aula, dengan syarat pak kepala desa merahasiakan identitas kami pada penduduk. Hari-hari berlalu dengan menyenangkan, memang kami tak bisa ziarah ke makam ayah, waktu itu yang terpikirkan hanya pergi dari Emmeric. Tapi, kami mengunjungi makam Iptu Davio. Iptu Davio seorang yatim piatu, dia diasuh oleh buleknya di sana, bulek juga yang membantu kami selama ini. Setelah dua minggu, kondisiku cukup sehat. Aku meminta tolong pada pelayan pria untuk memanggil Tuan Muda bertopeng. Pria itu keluar dengan aura kegelapan. Dia selalu memakai baju hitam, sarung tangan hitam dan topeng hitam. Tentu saja menyeramkan. "Tuan, kami mau berpamitan. Terima kasih, di lain waktu apabila ada kesempatan akan membalas budi baik tuan." Jarak kami dan tuan muda sejauh dua meter, dia tinggi. Aroma woody tercium dari tubuhnya, sangat pas di tengah gunung seperti ini. "Siapa yang bilang boleh pergi?" Dia menjawab. Aku dan Reva terbelalak, kami berpandangan. "M-maksud tuan?" Reva balik bertanya dengan terbata. "Shakela anak angkatku berarti kalian tetap bersamaku." Aku memucat. Seperti yang sudah aku duga. Keluarga berkuasa pastilah begini. Kami keluar kandang singa masuk sarang serigala. "T...tuan muda?" Bahkan Reva tidak berani memaki-maki seperti biasa, sejak awal telah terintimidasi dengan penampilan dan suaranya yang berat.  *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN