"Mungkin kamu cinta sejatinya." Kalimat itu disampaikan oleh tuan muda padaku, di pagi hari saat aku membawa Kela mencari kesejukan pada belaian angin. Aku tersenyum, mungkin sedikit sinis. Emmeric berkata akan pergi berkunjung ke rumah keluarga Hadikusumo untuk makan malam. "Aku sudah tidak percaya cinta sejati, bagaimana kamu, Zola?" Tuan muda, aku sangat ingin melihat wajah di balik topengnya. Aku terkadang merasa kalau luka bakar itu hanyalah tipuan. Tuan muda diam saja, tak mau menjawab pertanyaanku. "Kamu ingin melihatnya, nanti malam?" Dia menanyaiku dengan pertanyaan yang berbeda. "Aku ingin mencabiknya sampai mati." Tuan muda segera merebut Kela dari gendonganku, "Mengatakan hal keji, bagaimana kalau putriku mendengar?" Aku mengangkat alis, tuan muda memiliki pesona pria

