Aku berjalan bergandengan tangan dengan seorang pria tampan yang tidak pernah aku bayangkan akan menjadi suamiku di masa lalu. Pria hangat sekaligus misterius, mata yang bewarna hitam bagai batu alam juga wajah yang sulit berpaling saat memandangnya. Pria itu membawaku ke rooftop hotel tempat pernikahan kami berlangsung, aku dengan gaun putih panjang yang dikerjakan sepenuh hati oleh atasanku berjalan perlahan mengikuti dia. Jas tuan muda begitu pas di tubuhnya, celana berbahan lembut membungkus erat kakinya yang panjang. Keseluruhan dia amat sempurna di mataku. Aku jadi ingin bertanya bagaimana penampilanku di matanya. Aku semakin terkesiap, seperti serbuk bintang beterbangan di sekitarku. Aku melihat balon udara yang bahkan tidak pernah aku mimpikan sebelumnya, kalau suatu ketika aku

