part 7

879 Kata
Rose terpaku di tempatnya. Kakinya seakan membeku, otaknya menolak menerima pemandangan di depannya. Perempuan dengan wajah yang sama persis dengannya — tapi sorot mata itu, meski lemah, jelas menyimpan kisah yang berbeda. “Siapa… dia?” suara Eric serak, matanya bergantian menatap Rose dan Mary “Aku… Mary… istrimu…” ujar wanita terikat itu dengan napas terputus-putus. Rose membuka mulut, tapi tak ada kata yang keluar. Seluruh hidupnya terasa seperti teka-teki yang baru saja dibongkar. Pria bertato berdiri di samping mereka, menyeringai puas. “Lucu, kan? Kembar yang terpisah… satu hidup nyaman, satu dibuang ke jalanan. Dan sekarang… kami punya keduanya.” Eric maju setapak. “Lepaskan dia. Lepaskan mereka berdua.” Pria itu tertawa, suara beratnya menggema di dinding gudang. “Kau pikir ini negosiasi? Bos punya hutang yang harus kau bayar… bukan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk… mereka.” Tiba-tiba, dari belakang, dua pria lain muncul membawa Rio yang meronta. “Papa!” teriak Rio Eric refleks bergerak, tapi dipukul mundur dengan tongkat besi. Rose menjerit, mencoba mendekat, namun lengannya dicengkeram erat. Adrenalin mengalir deras di tubuh Eric. Ia tahu kalau saat ini bukan waktunya bicara. Dengan satu gerakan cepat, ia menendang tongkat dari tangan lawan, lalu menghantamnya dengan siku. Kekacauan pun pecah. Suara benturan logam, teriakan, dan langkah tergesa memenuhi gudang. Rose berusaha memotong tali di pergelangan tangan Mary menggunakan pecahan kaca di lantai. “Cepat… sebelum mereka kembali!” desis Rose Mary menatapnya lekat-lekat. “Kita… saudara?” Rose hanya mengangguk cepat, lalu memutuskan tali terakhir. Saat itu juga, salah satu penjahat melihat mereka dan mengangkat senjata. Tapi sebelum pelatuknya ditekan, sebuah suara berat bergema dari pintu gudang: “Cukup. Semua berhenti.” Sosok pria berjas hitam dengan wajah dingin melangkah masuk. Matanya menyapu seluruh ruangan, lalu berhenti pada Mary dan Rose “Akhirnya… kedua permataku berkumpul.” Gudang yang tadinya ricuh seketika hening. Semua anak buah berhenti bergerak begitu sosok pria berjas hitam itu melangkah ke tengah ruangan. Sepatunya berkilau, setiap langkahnya memantul di lantai semen. Rose merasakan hawa dingin yang menusuk tulang. Ada sesuatu pada tatapan pria itu—tajam, menghitung, seperti seekor burung pemangsa yang baru menemukan mangsanya. “Siapa kau?” tanya Eric dengan rahang mengeras. Pria itu menyeringai tipis. “Aku… orang yang seharusnya menjadi ayah bagi mereka berdua.” Mary memucat. “Bohong… Ayah kami sudah meninggal!” Pria itu berjalan mendekat, jemarinya menyentuh pipi Rose seolah sedang menilai barang antik. “Kalian percaya cerita yang diberikan keluarga kalian? Kenyataannya… aku menyerahkan salah satu dari kalian karena harus melindungi yang lain. Tapi dunia ini berputar, dan sekarang… aku ingin keduanya kembali.” Rose menepis tangannya, mata berkaca-kaca. “Kau meninggalkan kami… kau membiarkan aku hidup di jalanan!” Pria itu hanya tertawa pelan. “Itu bagian dari rencana. Setiap pion punya tempatnya di papan catur. Dan kau, Rose… sudah berkembang menjadi bidak yang jauh lebih berharga dari yang kuduga.” Eric maju setapak, menahan amarah. “Kau sudah menculik istri dan anakku. Aku tidak peduli siapa kau, lepaskan mereka!” Senyum pria itu memudar, diganti sorot dingin. Ia memberi isyarat, dan salah satu anak buahnya mengangkat senjata ke arah Eric. “Jangan coba-coba mengatur permainan ini, Eric. Karena kalau aku mau… satu peluru bisa mengubah segalanya.” Mary menatap Rose, matanya bergetar penuh ketakutan. “Dia… bukan hanya ayah kita. Dia juga…” Suara tembakan meledak di udara, menghentikan kata-kata Mary, Asap tipis mengepul dari ujung pistol pria berjas hitam, yang kini diarahkan ke langit-langit. “Mulai malam ini… kalian semua milikku.” Tembakan peringatan masih bergema di telinga Rose saat ia menatap Eric dan Mary, Denyut jantungnya memburu, seolah seluruh tubuhnya berteriak untuk lari. Pria berjas hitam itu berbalik, memberi isyarat pada anak buahnya untuk mengikat mereka bertiga. Saat dua orang berwajah bengis mendekat, Eric melirik cepat ke sudut gudang—pintu besi kecil yang tampak setengah terbuka. “Ikuti gerakanku,” bisiknya cepat. Begitu tali hendak melingkar di pergelangan tangan, Eric menghantam siku pria itu ke dagu salah satu penjaga. Suara tulang beradu membuat dua penjaga lain bereaksi, tapi Rose dengan sigap menendang ke arah lutut salah satu hingga terjatuh. Mary, yang selama ini jarang terlibat perkelahian, justru berani memukul kepala lawan dengan besi pipa yang entah dari mana ia temukan. “Jangan sentuh suamiku!” serunya, membuat Eric sempat menoleh kaget. Mereka bertiga berlari menuju pintu besi itu. Suara langkah dan teriakan anak buah pria berjas hitam menggema di belakang mereka. Begitu pintu dibuka, udara malam langsung menyambut. Namun jalan keluar itu ternyata menuju lorong sempit di belakang gudang—dan di ujungnya, dua pria lain sudah bersiap dengan senjata. Rose panik. “Kita terjebak!” Eric mengedarkan pandangan cepat, menemukan tumpukan peti kayu di sisi lorong. Ia mendorongnya keras hingga roboh, menciptakan penghalang sementara. “Lari lewat pagar!” seru Eric Mereka memanjat pagar besi yang dingin dan berkarat. Saat hampir sampai di atas, suara tembakan kembali terdengar—peluru menghantam besi tepat di dekat kaki Mary “Cepat!” teriak Rose, menarik tangan kembarannya. Akhirnya, mereka berhasil melompat ke sisi lain pagar dan berlari menembus gelap malam, meninggalkan suara marah dan langkah kaki yang mengejar di belakang. Namun, jauh di dalam gudang, pria berjas hitam itu tersenyum tipis sambil mengamati mereka pergi melalui kamera CCTV. “Lari saja… permainan ini baru dimulai.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN