Eric menuntun Rose masuk ke mobilnya. Tangannya masih memegang erat pergelangan tangan Rose, seolah takut wanita itu menghilang seperti Mary dulu. Rio, yang menunggu di rumah, belum tahu apa yang baru saja terjadi.
Mobil melaju tanpa suara, hanya diisi ketegangan yang pekat. Eric menatap lurus ke jalan, rahangnya mengeras.
“Siapa dia, Rose?” suaranya rendah tapi tegas.
“Aku… aku tidak tahu—”
“Jangan bohong!” bentak Eric, menghentikan mobil mendadak di tepi jalan.
Rose terkejut, tubuhnya bergetar.
“Kau pikir aku tidak lihat ketakutanmu tadi? Orang itu mengancammu, dan dia tahu soal Rio. Siapa mereka?”
Air mata mulai membasahi mata Rose, tapi ia menunduk, mencoba menahan.
“Aku… punya masa lalu yang kotor, Eric, Aku tidak mau kau atau Rio terseret…”
Eric mencondongkan tubuh, memaksa Rose menatap matanya.
“Aku tidak peduli masa lalumu. Yang aku peduli sekarang… nyawamu dan anakku.”
Kata “anakku” membuat hati Rose mencelos. Ia sadar, Eric masih percaya bahwa dirinya adalah Mary, istri yang hilang. Kebohongan ini sudah terlalu jauh.
“eric…” suaranya bergetar, “Aku… bukan orang yang kau kira.”
Eric menatapnya bingung, keningnya berkerut.
“Maksudmu apa?”
Rose menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian.
Namun sebelum kata-kata itu keluar, ponsel Eric berdering. Sebuah pesan masuk — hanya satu kalimat singkat:
“Kalau mau istrimu selamat, bawa anak itu malam ini.”
Eric membeku. Rose pun merasakan darahnya mengalir dingin.
Eric menatap layar ponselnya dengan wajah menegang. Pesan itu singkat, tapi cukup untuk membuatnya merasakan bahaya yang nyata.
“Apa maksudnya… ‘istrimu’?” tanya Rose pelan.
“mary… mereka bilang Mary ada di tangan mereka,” jawab Eric, matanya masih terpaku pada layar.
Rose terdiam. Jika benar, berarti saudara kembar yang bahkan belum pernah ia temui itu masih hidup. Namun pesan itu juga menyebut “anak itu”. Rio.
“Kita harus ke polisi,” kata Rose
Eric menggeleng cepat. “Kalau kita ke polisi, mereka mungkin akan melukai Mary… atau Rio.”
Rose menggigit bibirnya, rasa bersalah menekan dadanya. Ia tahu dirinya bukan Mary, tapi Eric belum mengetahuinya. Kebohongan ini membuat setiap keputusan semakin rumit.
Eric mengambil jaketnya dan mulai mempersiapkan sesuatu di tas.
“Kita akan menemuinya malam ini.”
“Sendirian? Itu gila!” seru Rose
Eric menatap Rose dengan tatapan penuh tekad.
“Kalau kau memang Mary, kau tahu aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh Rio. Tapi… kalau kau bukan…”
Ucapan itu terhenti di udara, tapi Rose tahu kelanjutannya. Eric mulai curiga.
Di luar, malam semakin pekat. Angin membawa aroma hujan. Rose memandang jam dinding — waktu mereka hampir habis. Pilihannya hanya dua: mengatakan kebenaran sekarang atau menunggu sampai mereka berhadapan langsung dengan para penculik itu.
Rose menarik napas dalam-dalam.
“eric… ada sesuatu yang harus kau tahu sebelum kita pergi…”
Suara ketukan pintu mendadak memotong kalimatnya. Ketukan berat, cepat, dan penuh ancaman.
Eric langsung mengambil tongkat baseball di sudut ruangan. Rose merasakan jantungnya meloncat ke tenggorokan.
“Diam di sini,” bisik Eric, berjalan pelan ke pintu.
Ketukan berubah menjadi hentakan keras. Seseorang di luar bersuara parau:
“Waktumu hampir habis, Eric. Jangan coba-coba kabur.”
Pintu terbuka hanya sedikit, cukup bagi Eric untuk melihat dua pria berbadan kekar berdiri di ambang. Salah satunya memiliki tato di leher berbentuk ular melingkar, yang lain memegang amplop cokelat tebal.
“Apa maumu?” suara Eric datar, tapi tangannya tetap menggenggam tongkat baseball.
“Ikut kami sekarang. Bos kami ingin bicara… soal istrimu,” jawab pria bertato sambil tersenyum sinis.
Rose yang bersembunyi di balik dinding menahan napas. Kata istrimu kembali disebut, membuatnya semakin sadar betapa rapuh posisinya saat ini.
“Kalau aku menolak?” tanya Eric
Pria kedua melempar amplop ke lantai. Isinya tumpah — foto-foto Rio yang sedang bermain di halaman sekolah. Ada coretan merah melingkari wajah anak itu.
Rose nyaris menjerit, tapi ia menutup mulutnya sendiri. Eric menunduk menatap foto-foto itu, rahangnya mengeras.
“Baik. Aku ikut.”
Pria bertato melirik ke dalam rumah, matanya berhenti di wajah Rose
“Bawa juga dia. Bos akan senang melihat… betapa miripnya kalian.”
Eric spontan berdiri di hadapan Rose
“Dia tidak ada urusan—”
“Kalau tidak mau, besok anakmu yang kami bawa,” potong pria itu dingin.
Keheningan singkat terjadi sebelum Eric, dengan tatapan penuh kemarahan, mengangguk. Mereka berempat menuju sebuah mobil van hitam yang menunggu di ujung jalan.
Di dalam mobil, suasana mencekam. Lampu jalan berganti-ganti di kaca jendela. Rose berusaha membaca rencana Eric lewat tatapan, tapi pria itu hanya menatap lurus ke depan.
Perjalanan terasa seperti selamanya, hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gudang tua di pinggir kota. Pintu besi bergemerincing saat dibuka. Aroma besi berkarat dan oli memenuhi udara.
Di tengah gudang, duduk seorang wanita dengan tangan terikat di kursi, rambutnya kusut, bibirnya pecah-pecah. Rose menahan napas. Ia seperti sedang menatap cermin hidup — wajah itu persis dirinya.
Eric berdiri kaku.
“mary…”
Wanita itu mengangkat kepalanya perlahan.
“eric… tolong aku…”