part 5

652 Kata
Jam dinding menunjukkan pukul 10 malam. Rumah sudah sepi, hanya suara jam yang terdengar. Rose berdiri di depan lemari, tas kecilnya sudah terisi pakaian seadanya. Ia melangkah pelan menuju pintu belakang, berharap suara langkahnya tak membangunkan Rio, Namun, sebelum tangannya menyentuh gagang pintu, suara berat itu terdengar. “Mau ke mana?” Rose memutar badan. Eric berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja yang setengah terbuka kancingnya. Wajahnya dingin, tapi matanya penuh tanda tanya. “Aku… aku cuma mau keluar sebentar,” jawab Rose gugup. “Sebentar? Dengan tas seperti itu?” Ia terdiam, genggamannya di tali tas semakin erat. Eric berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi tegas. “Kau mau kabur, Rose?” “Aku… tidak ingin merepotkan kalian. Lebih baik aku pergi—” “Repot?” Eric memotong, suaranya meninggi. “Kau datang ke sini, jadi istri pengganti, dan sekarang mau pergi begitu saja tanpa menjelaskan apa-apa?” Rose mengalihkan pandangan, menahan air mata. “Aku cuma ingin Rio aman…” “Kalau begitu, jelaskan padaku. Aman dari apa? Dari siapa?” Diam. Hanya napas mereka yang terdengar. Eric akhirnya meraih tas dari tangan Rose, meletakkannya di lantai. “Aku tidak akan biarkan kau pergi sampai aku tahu semuanya.” Rose menatapnya dengan mata berkaca-kaca, hatinya berperang antara mengatakan kebenaran atau tetap diam. Rose duduk di sofa ruang tamu, jari-jarinya meremas ujung sweater yang ia kenakan. Eric duduk di hadapannya, bersandar dengan kedua tangan terlipat di d**a. Tatapannya tajam, namun tak sekeras sebelumnya. “Ceritakan,” ujar Eric singkat. Rose menarik napas panjang, lalu menunduk. “Sejak kecil aku tinggal bersama paman dan bibi. Kami tidak pernah cukup uang… setiap hari rasanya seperti berutang pada semua orang.” Eric diam, hanya menatapnya. “Paman… dia…” Rose menelan ludah, berusaha melanjutkan, “…mereka terjerat hutang besar. Lalu… ada seseorang yang bilang bisa membantu melunasinya. Tapi ternyata—” Ia berhenti, memejamkan mata sejenak. Wajahnya pucat. “Ternyata itu jebakan. Mereka ingin menjualku.” Eric mendengus pelan, matanya memerah karena marah. “Siapa?” tanyanya. Rose menggeleng. “Aku… tidak bisa bilang. Kalau aku sebut namanya, mereka akan memburu aku. Dan mungkin… Rio juga.” Keheningan menelan ruangan. Eric maju sedikit, menatapnya lekat-lekat. “Mulai sekarang, kau di sini. Aku akan pastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu.” Rose mengangkat wajahnya, terkejut mendengar nada tegas itu. “Tapi… ini bukan rumahku.” “Sekarang, ini rumahmu,” jawab Eric tanpa ragu. Namun, jauh di lubuk hati, Rose tahu… orang yang menjebaknya masih di luar sana, menunggu waktu untuk menyerang kembali. Sore itu, Rose keluar sebentar untuk membeli beberapa kebutuhan dapur. Ia berjalan di trotoar dekat minimarket, berusaha mengabaikan tatapan orang-orang yang terkadang memperhatikan wajahnya terlalu lama. Ia tahu, kemiripannya dengan Mary sering membuat orang salah sangka. Setelah membayar belanjaannya, Rose melangkah menuju parkiran. Udara mulai dingin, langit tampak redup. Namun tiba-tiba, naluri Rose berteriak. Ada seseorang yang mengikutinya sejak ia keluar dari minimarket. Ia menoleh sekilas — seorang pria berjaket hitam, topi menutupi sebagian wajahnya. Langkahnya santai, tapi arah matanya jelas mengawasi Rose. Rose mempercepat langkah. Detak jantungnya memacu cepat, jemarinya menggenggam tas belanja erat-erat. “Tidak mungkin… mereka sudah menemukanku?” gumamnya pelan. Sampai di sudut jalan, pria itu memperpendek jarak. Rose panik, mencoba menyeberang, namun lengannya tiba-tiba ditarik dari belakang. “Lama sekali aku mencarimu…” suara itu rendah, licik. Rose menoleh, dan rasa dingin menjalar di punggungnya. Ia mengenali wajah itu. Salah satu kaki tangan mucikari yang dulu berusaha menjualnya. “Lepaskan aku!” seru Rose, berusaha melepaskan diri. Pria itu mendekat, berbisik di telinganya. “Bos ingin bicara. Kalau kau menolak, anak kecil itu… mungkin akan celaka.” Mata Rose membelalak. Ia tahu, yang dimaksud adalah Rio. Sebelum Rose sempat membalas, sebuah tangan kuat menariknya menjauh. Suara familiar terdengar. “Lepaskan dia!” bentak Eric, matanya penuh amarah. Pria berjaket hitam itu tersenyum tipis, lalu mundur sambil melontarkan ancaman terakhir. “Kau tidak bisa melindunginya selamanya…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN