Bermain dan Menolong

1036 Kata
Karena penasaran Rena mendekat. Ternyata ada gang kecil. Dalam gang itu, Rena melihat seorang gadis yang diganggu oleh 2 preman. Gadis itu ditarik paksa oleh kedua preman. Rena terkekeh melihatnya. "Dua lelaki rendah." Lalu mata Rena menyipit dan mempertajam pengelihatannya melihat gadis itu. Seketika otaknya teringat. Ya, dia salah satu gadis populer di sekolahnya, lebih tepatnya adiknya Leo, Layla. Lalu indra pendengarannya mendengar suara memanggilnya. "Kak Rena tolong!" Rena menatap datar ke arah Layla dan kedua preman itu. Salah satu preman menyadari keberadaan Rena. "Hahaha, keberuntungan kita bos, lihatlah ada gadis lagi," ucap salah satu preman sambil menjilati tangannya. "Biarkan saja dia, lihatlah wajahnya yang jelek itu. Lebih baik gadis cantik ini," kata preman yang dipanggil bos itu. Rena masih diam dan tetap datar menatap mereka semua. Sedangkan Layla yang tangannya ditarik-tarik menangis. "Kak Rena aku mohon tolong aku~" Rena masih saja diam dan tidak bergerak. Ia hanya menatap datar saja ke arah Layla. Lali salah satu preman berkata, "Lihat gadis culun itu. Mana mungkin ia berani menolong 'mu. Lebih baik kamu diam dan turuti saja perintah kami," Layla semakin ketakutan. Ia memasang wajah memohon ke arah Rena. Tapi, tetap saja ia tak menggubrisnya. Rena memilih mengeluarkan 2 botol minuman dinginnya dari kantong plastik dan memasukkannya ke dalam tas ranselnya. Melihat perlakuan Rena yang begitu sibuk dan santainya dengan tasnya, tentu membuat 2 preman itu tertawa. Rena memutar bola matanya. Ia melangkah maju mendekati preman itu yang masih menahan Layla, sambil melepaskan kaca matanya dan memasukkannya ke kemejanya. Rena memegang salah satu tangan preman. "Bisa lepaskan dia?" "Kau ingin mati!" sahut preman itu menepis tangan Rena. Jleb! "Argh!" Secara bersamaan melihat. Salah satu bola mata preman tertusuk sebuah benda tajam. Rena menusuk bola matanya dengan pulpen miliknya. Karena sakit matanya tertusuk lalu terjatuh duduk di tanah. Melihat temannya begitu, pastinya ia panik. Di tengah-tengah kepanikan Rena langsung menarik tangan Layla yang sudah terlepas. Layla masih terdiam dan merasa takut. "Kamu sekarang pergi," ucap Rena. Spontan Layla berlari. Rena menoleh ke arah salah satu preman yang sedang membantu preman lainnya. "Aku ingin sekali bermain dengan kalian. Selagi kita dalam jalan sepi dan sempit ini sungguh menguntungkan untukku," ucap Rena. Tiba-tiba ada pisau datang. Dengan cepat Rena menangkap pisau di tangan preman satunya. Krakk! Rena melintir tangan preman tersebut. Ia langsung kesakitan. Tentu saja pasti sangat sakit. Rena berhasil merebut pisaunya meski ada sayatan pisau saat merebutnya. Dengan rakus Rena menjilati darah yang keluar dari lukanya. Lalu menatap 2 preman yang memegang matanya yang tertusuk dan satunya memegang tangannya setelah Rena melintir 'nya. Kedua preman itu terpaku melihat Rena dengan rakusnya menjilati darahnya sendiri. "Aku ingin mencoba darah kalian," ucap Rena sambil tersenyum polos. *** Di sisi Layla berlari, ia sudah takut setengah mati. Ditambah melihat kesadisan Rena. Pikirannya terbayang-bayang dengan preman tadi. Darah yang keluar dari luka tusukan di mata preman itu, benar-benar tidak berkemanusiaan. Sudah pergi jauh dari preman itu, tapi ada rasa khawatir pada dirinya. Layla khawatir kepada Rena yang melawan 2 preman tadi. Mungkin satu preman sudah tumbang, tapi satunya lagi belum. Ingin sekali Layla berhenti berlari. Tapi kakinya tidak bisa berhenti berlari karena panik dan takut. Lalu ia melihat taksi lewat. Layla segera menghadangnya. Taksi itu pun berhenti, dengan cepat-cepat ia langsung masuk dan menyuruh sang sopir pergi dari tempat tersebut dan menuju ke alamat rumahnya. *** Di sisi lain, Rena terkekeh melihat 2 preman yang ia bunuh. Tubuh 2 preman itu penuh dengan luka tusukan dan sayatan pisaunya, daranya bercecer di tanah. Rena mencongkel kedua mata preman itu. Ia menjilati sisa-sisa darah yang menempel pada tangannya. Rena lalu pergi meninggalkan 2 mayat preman itu. Ia mana sudi mengurusi dan membersihkan sisa-sisa korbannya. Karena dipastikan para petugas rumah sakit dan polisi datang dan membersihkan TKP. Rena santai-santai saja, semua jejaknya sisanya bersih, polisi tak akan menemukannya. "Hanya karena seorang gadis, aku jadi bermain-main, hahaha ... sungguh lucu," kata Rena tertawa. Hey! Kau juga gadis kalek! *** Keesokan harinya. Semua murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Rena memilih duduk disudut pojok kelasnya. Yah memang itu bangkunya. Ia melihat tiga pria populer di sekolahnya, ada yang aneh dengan mereka. Leo melirik Rena dan kedua sahabatnya langsung ikut melihat lirikan Leo. Daniel dan Regan saling berpandangan. Mereka berdua tak percaya kalau Rena dilirik Leo. Apakah Leo menyukai gadis cupu itu? Itulah isi pikiran mereka berdua. Sebenarnya yang dipikirkan Leo adalah, soal adiknya bercerita kalau Rena kemarin menolongnya dari preman. Ia hanya memastikan bagaiman kondisi Rena, karena ia rela mengorbankan nyawanya demi adiknya Layla. Tapi ia juga bingung, bagaimana Rena bisa lolos dari 2 preman itu? Bukankah ia seorang wanita, apalagi ia cupu dan lemah. Membingungkan, itulah yang dipikirkan Leo. Sedangkan Rena, ia malah sibuk menyimak guru yang sedang menerangkan tanpa peduli tatapan Leo dan temannya. Sebenarnya saat tadi malam Layla bisa-bisanya diganggu 2 preman ia baru saja pulang dari rumah saudaranya tanpa minta jemput kakaknya Leo. Saat di tengah jalan tiba-tiba mobilnya mogok. Layla meninggalkan mobilnya di bengkel terdekat, dan meninggalkan nomor telponnya. Saat tak ada taksi yang lewat, Layla milih berjalan kaki sambil melihat-lihat mana tau ada taksi yang lewat. Beruntung kedua orang tuanya pergi keluar kota dan Leo kakaknya juga pergi ke rumah temannya. Di rumahnya hanya diisi pelayan-pelayan rumah tangga saja dan satpam. Layla memilih pergi ke minimarket untuk membeli minuman dingin. Pasca keluar tiba-tiba ada 2 preman muncul dan menyeret Layla paksa. Dan hingga Rena akhirnya datang membantunya dan menyuruhnya lari setelahnya. Saat ini Layla duduk di kelasnya dekat jendela. Ia milih duduk di situ karena ingin melihat para cowok tampan. Ia masih membayangkan pikirannya soal penyelamatan Rena dengan menusuk bola mata salah satu preman. Lalu ia menepis pikirannya dan milih fokus pada pelajaran. Berita pembunuhan misterius sudah menyebar dari berbagai media soal membahan 2 lelaki disangkah preman telah mati di jalan gang kecil minimarket. Kematian dua lelaki itu sangat mengenaskan. Dari berita TV, segala media sosial membahas berita itu. Kasus dalam selidikan, tak ada jejak-jejak si pelaku pembunuhan. Layla yang mendengarnya terkejut bukan main. Di dalam jalan gang kecil dekat minimarket, bukakah tadi malam ia ada disana. Dan itu tentu saja membuat pikiran Layla tertuju pada Rena. Sedangkan Rena sendiri ia terlihat santai tanpa sedikit pun merasa bersalah. See you babay, semoga suka jangan lupa sebelum membaca biasakan tinggalkan jejak dulu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN