Keesokan harinya.
Sesuai dugaan, berita kematian sang bapak guru yang terkenal dingin, tegas dan selalu memberi perintah kepada muridnya, terutama Rena, kini telah menyebar di sekolah.
Semuanya terkejut? Pastinya. Kemarin masih biasa-biasa saja mengajar. Tapi hari ini, berita kematian sang bapak guru mati terbakar di rumahnya dalam keadaan terikat sudah menyebar.
Dan menurut berita, semua polisi sudah melakukan pemeriksaan. Dan hasilnya nihil, yang jelas kasus kematian sang bapak guru, tak menemukan bukti apapun.
Meski terbakar habis, seharusnya ada jejak peninggalan pembunuhan tersebut. Namun, semua bersih tak ada jejak untuk menjadikan bukti.
Rena yang mendengar berita itu hanya diam polos tanpa dosa dengan penampilan cupu atau culunnya. Ia terlalu pandai menyembunyikan ekspresinya, sungguh terlalu.
Kini Rena sedang berjalan menuju kelasnya. Namun secara tiba-tiba ada seseorang yang menarik bajunya pasrah. Mau tak mau ia pasrah, apa maunya si penarik.
***
Telah sampai di gudang sekolah. Rena di dorong secara paksa hingga ia jatuh tengkurap ke tanah. Ia sedikit mendongak wajahnya.
Ternyata yang menarik adalah Zena. Dan ada Celsi di belakangnya. Rena tetap dalam posisi tengkurap di tanah.
"Jadi anak cupu ini yang sudah membuat temanku terluka?" kata Zena.
"Aku sudah tak sabar menghabisi wajahnya," kata Celsi, ia pun akan melayangkan tendangan ke wajah Rena.
Namun ditahan oleh Zena. "Tenang dong."
Zena menahan Celsi, kini mereka berbicara. Dan Rena melirik matanya melihat sekelilingnya. Lalu ia melihat batu besar kepalan tangannya di dekatnya.
"Gimana mau sabar, aku sudah dikerjainnya dua kali," jawab Celsi geram.
Saat Zena akan menoleh, tiba-tiba ada taburan pasir masuk ke matanya. Zena merasakan sakit dan perih. Celsi yang melihat Zena tentu tak tinggal diam, namun saat ia akan maju, tiba-tiba wajahnya terkena sebuah benda.
Ternyata Rena melemparkan tasnya ke wajah Celsi. Dan ia langsung cepat-cepat mengambil batu besar dan langsung ia lemparkan ke kepala Celsi.
Dugh!
Kepalanya yang terkena hantaman batu tentu saja itu sangat sakit. Celsi terjatuh ke belakang dan ambruk, ia tak bisa menahan rasa sakit di kepalanya.
Dugh!
Zena jatuh tak sadarkan diri.
Rena yang melihat itu hanya menggeleng-geleng 'kan kepalanya. "Ck, kalian berhasil membuatku bolos le.,"
Terlihat Celsi akan bangun dan berusaha duduk. Rena mengambil pulpennya dari saku kemejanya.
Celsi terkejut melihat Zena tak sadarkan diri dengan kepalanya mengeluarkan darah.
Dalam masih posisi duduknya, Rena akan menoleh. Baru saja akan menoleh, ujung pulpen sudah ada di depan matanya.
Celsi menelan saliva nya. Lagi-lagi ia harus berada dalam posisi seperti sebelumnya, yaitu dipojokkan oleh Rena. Rena terkekeh. "Aku sarankan kalau ingin menghajar orang harus pakai rencana," ucap Rena memberi saran.
Celsi masih saja diam, Rena menghela nafasnya. "Meskipun kamu memiliki rencana tetap saja itu tak ada apa-apanya denganku."
Ingin sekali menonjok wajah Rena, tapi sayangnya tangannya terluka akibat tusukan garpu kemarin. Dan tangannya yang satu juga terkilir saat ia jatuh tadi.
"Sepertinya aku harus masuk ke kelas," ucap Rena.
Bugh!
Rena memukul keras tengkuk leher Celsi. Celsi pun kembali jatuh tak sadarkan diri. Rena berdiri ia lalu pergi meninggalkan dua manusia itu begitu saja.
Tapi, baru beberapa langkah ia kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Celsi dan Zena yang masih tak sadarkan diri.
Rena mengambil semua uang di dalam dompet mereka berdua. Setelahnya, ia langsung segera pergi.
***
Jam sekolah telah usai. Rena memilih untuk pulang ke kosnya dan tidka berangkat kerja. Buat apa berangkat, lagian ia sudah tak masuk selama 2 hari.
Lebih baik sekalian keluar saja. Toh, dia juga sudah mendapatkan uang dari hasil mencuri yang secara tidak kebetulan dari pencopet, Celsi dan Zena.
"Sepertinya aku akan mencari pekerjaan baru yang tak menyita waktuku," pikirnya.
***
Di sisi lain tempat.
Jennifer dan teman-teman gengnya berkumpul di markas mereka tepatnya di rumah Jennifer pribadi. Rumah pemberian kakeknya.
Saat ini entah percaya atau tidak. Jennifer dan gengnya menatap heran ke arah Celsi dan Zena yang terluka.
Mereka masih tak percaya cerita Celsi dan Zena. Benarkah Rena yang terkenal cupu yang membuat Celsi dan Zena sampai seperti ini?
"Apa kalian yakin Rena si cupu itu yang membuat kalian seperti ini?" tanya Karina yang masih tak percaya.
"Ini memang sulit dipercaya, tapi setelah apa yang dia lakukan padaku dan Celsi. Aku bisa melihat perubahan si cupu itu," jawab Zena.
"Bahkan uangku dan uang Zena juga dirampas olehnya," tambah Celsi.
"Pftttt! Hahaha! Benarkah, seorang gadis cupu bisa melakukan itu?" ucap Karina sambil tertawa.
"Hahaha, aku ragu dengan cerita kalian berdua," kata Keni kepasa Celsi dan Zena sambil tertawa.
Celsi dan Zena memilih untuk diam, percuma mereka bercerita tetap saja tak ada yang percaya. Jelas tak ada yang percaya, kini mereka berdua malah ditertawakan.
Tapi tidak untuk Jennifer, ia malah terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.
Jennifer pun bersuara. "Diam semuanya, coba dengarkan aku."
Karina, Keni, Zena dan Celsi pun menatap Jennifer, sang ketua geng mereka.
"Untuk ke depannya biarkan si cupu itu. Kita awasi dia, jika dia benar berubah, laporkan padaku. Setelah itu kita buat rencana untuk menyadarinya," kata Jennifer.
"Apa kita tidak bawa dia, dan siksa seperti sebelumnya?" tanya Karina.
"Untuk itu nanti dulu, kita bisa bicarakan itu nanti, kita akan mengawasinya dulu. Jika dia benar-benar apa yang dibilang Celsi dan Zena. Maka kita akan buat rencana. Tapi, jika dia masih culun seperti biasanya. Lakukanlah hal yang seperti biasa kita lakukan padanya," kata Jennifer jelas.
Keempat temannya mengangguk kepala. Namun, untuk Celsi dan Zena mereka berdua masih ragu mengikuti rencananya.
Pasalnya mereka berdua sangat mudah dikalahkan. Zena yang mantan anggota taekwondo, bersabuk hitam sangat mudah dikalahkan oleh anak cupu yang bermodal tanah dan batu.
***
Hari sudah malam.
Terlihat Rena sedang berjalan kaki. Ia baru menjadi pelayan di retoran. Soalnya tempat kerjanya yang lama sebagai pelayan caffe ia benar-benar telah dipecat. Hal itu tidak membuatnya sedih ia hanya mengiyahkan 'nya saja.
Hari semakin malam Rena melihat minimarket yang buka 24 jam. Ia berniat membeli minuman.
Beberapa saat kemudian Rena sudah keluar dan menenteng kantong plastik yang berisi teh dalam botol yang dingin.
Baru saat akan pergi jauh, indra pendengarannya menangkap suara teriakan seorang gadis yang meminta tolong.
Karena penasaran Rena mendekat. Ternyata ada gang kecil. Dalam gang itu, Rena melihat seorang gadis yang diganggu oleh 2 preman.
Gadis itu ditarik paksa oleh kedua preman. Rena terkekeh melihatnya. "Dua lelaki dan satu wanita, sungguh pria rendah."
Maafkan aku baru update, jng lupa tinggalkan comennya agar aku semakin semangat update