Kalau ditanya, bagaimana cara Rena masuk? Jawabannya, karena sesuai ingatan pemilik tubuhnya, bapak guru memiliki kebiasaan mengunci pintu saat jam 21:00 atau jam 9 malam.
Karena saat ini masih jam 8 malam jadi ia bisa masuk ke rumah sang guru dengan mudah. Dulu Rena selalu disuruh-suruh oleh bapak gurunya. Bahkan Rena dulu sempat ditelpon mendadak untuk mengambil barang-barangnya yang tertinggal di sekolah. Jika Rena menolak bapak guru itu akan mengancam dan menganggap Rena tidak hadir di kelasnya. Berhubung Rena cupu dan polos, jelas Rena takut dan mematuhi perintahnya.
Rena yang sekarang melihat ingatan tubuh pemilik asli tubuhnya dulu tentu merasa tidak terima. Sudah sering dibully dan sering disuruh-suruh, bahkan ia pernah hampir dilecehkan oleh bapak guru tersebut, sungguh miris nasib Rena dulu. Rena yang sekarang berbeda dengan Rena yang dulu. Ini adalah Clelly sang mantan mafia, pembunuh, dan psikopat tersadis yang tak ada kata ampun saat membunuh. Sekarang namanya menjadi Rena dengan identitasnya sebagai gadis cupu.
Kalau punya kaki lengkap itu digunakan. Dan punya mulut itu digunakan dengan baik, jangan hanya bisa memerintah atau menyuruh orang sesuka hati. Kecuali cacat baru dibantu, itulah yang membuat Rena merasa dendam dengan bapak guru dihadapannya yang sedang terikat ini.
"Selamat malam pak, baiklah sekarang waktunya kita memulai pelajarannya," ucap Rena yang berdiri dihadapan bapak gurunya dengan senyuman manisnya seolah tak ada rasa bersalah sedikitpun.
Bapak guru yang terikat tentu tak bisa bergerak dan berbicara. Ia hanya bisa melotot ke arah Rena.
Rena memasang wajah sedikit sedih. "Bapak ada apa? Saya memberi salam loh, kok bapak tidak menjawab,"
Mau jawab gimana mulutnya saja dilakban.
Rena menarik rambut bapak gurunya dengan kuat-kuat.
Plakk!
Plakk!
"Jawab b4jing4n!" bentak Rena setelah menampar pipi bapak gurunya dengan sekuat tenaga.
Rena menampar dan membentak bapak gurunya lagi. Dan jambakannya semakin keras saat ia menariknya.
Jelas bapak gurunya kesakitan merasakan rambutnya ditarik dan wajahnya ditampar.
Plakk ... ! Plakk ... ! Plakk ... ! Plakk ... !
"Jawab salam saya! Apa kamu tuli?! Cepat jawab!" Rena sambil membentak tepat di depan wajah bapak gurunya.
Rena melepas rambut gurunya. Terlihat sangat jelas pipi bapak gurunya bengkak dan rambut acak-acakan.
"Astaga saya lupa, mulut bapak kan dilakban, hehehe," kata Rena merasa bersalah sambil menepuk jidat 'nya.
Lalu mata Rena menatap ruangan dapur, ia berjalan meninggalkan bapak gurunya. Setelah beberapa detik, Rena kembali.
Mata bapak dosen terbelalak melihat Rena memegang pisau dapur miliknya. Rena mendekat lalu duduk di sebelah bapak dosen.
"Pak saya mau tanya, bagaimana cara ekstrim membuka lakban di mulut bapak?" tanya Rena dengan polosnya bertanya kepada gurunya.
Tidak ada jawaban, jelas tidak ada jawaban mulutnya ditutup lakban!
"Ah aku tau caranya pak!" jawab Rena dengan antusias, padahal itu pertanyaan dari dirinya sendiri.
Kemudian Rena mendekatkan wajahnya ke arah bapak guru. Rena terkekeh geli melihat bapak gurunya gemetar ketakutan.
***
Di lain tempat.
Di rumah dalam kamar Leo. Leo yang sedang tidur di kasurnya, pikirannya tertuju pada tadi pagi di sekolahnya.
Ya, ia teringat sosok Rena yang nampak berbeda. Rena yang ia kenal adalah Rena yang terkenal cupu dan lucu. Melihat sosok Rena, ia teringat dengan seseorang di masa lalunya.
Sebenarnya Leo tidak pernah berpandangan jelek tentang Rena. Melainkan ia ingin menjadi sahabat Rena.
Tapi demi image-nya ia tak mau melakukan itu. Ia tak mau menjadi bahan omongan teman-teman sekolah 'nya.
"Kenapa dia berubah?"
"Apa yang terjadi hingga membuatnya berubah?"
"Kenapa aku khawatir dengan perubahannya?"
Itulah isi pikirannya. Leo masih bingung untuk menyimpulkan tentang apa yang ia rasakan sejak pertama kalinya bertemu Rena di sekolahnya.
***
Kembali ke Rena.
Saat ini Rena sungguh bahagia, ia tertawa senang karena salah satu manusia yang selalu membuat pemilik tubuhnya kerepotan.
"Pak, saya akan membuat bapak selalu tersenyum," ucap Rena sambil berjongkok di hadapan bapak gurunya.
Bapak gurunya tak menjawab. Sedikit gerak di wajahnya ia akan merasakan sakit yang luar biasa.
Mulut bapak guru sekarang sudah terlepas dari lakban. Tapi, mulutnya semakin lebar seperti senyuman. Jelas itu ulah Rena.
"Mulut bapak mirip sekali dengan joker musuhnya batman. Dalam bahagia atau sedih bapak akan selalu tersenyum," kata Rena.
Bisa dibayangkan sendiri pipi kanan bapak guru disayat. Seperti kata Rena barusan, seperti joker. Darahnya cukup banyak yang menetes luka sayatannya.
Bapak gurunya hanya diam. Dalam pikirannya, ingin sekali ia membalas perbuatan Rena.
Rena yang melihat tatapan benci dari gurunya, ia tertawa. "Hahaha, marah yah, wajah tampan mu, jadi lebih jelek dari joker,"
Rena berhenti tertawa, ia menghembuskan nafasnya. Lalu ia berdiri dari jongkoknya. "Aku jadi bosan. Apa ku akhiri saja yah?"
Rena bertanya pada dirinya sendiri. Ia pergi meninggalkan bapak gurunya yang masih diam terikat dengan mulut jokernya.
"Kenapa dia menjadi menyeramkan. Setelah ini kau takkan lepas dariku. Aku akan melaporkanmu!" batin bapak guru.
Lalu Rena datang kembali. Ia berdiri di depan bapak gurunya. "Pak, saya pulang dulu ya, soalnya sudah malam. Haih, gara-gara bapak saya jadi tidak masuk kerja lagi,"
Ya, karena saat kemarin sebelum saat Rena berubah. Rena dibawa jauh dan dibawa Jennifer dan gengnya.
Karena itu ia tak masuk kerja. Dan sekarang hanya demi menyiksa bapak gurunya, ia tak berangkat kerja lagi.
Rena menggaruk kepalanya. "Aku harus kasih alasan apa yah?"
"Dia bodoh atau gimana?" batin bapak guru yang melihat tingkah Rena berubah-ubah.
"Ya, sudah saya pulang dulu, selamat malam," ucap Rena pergi meninggalkan bapak gurunya begitu saja.
Entah bodoh atau pintar. Meninggalkan korban siksaannya hidup-hidup, jelas sama saja bunuh diri. Secara kalau ada tetangga yang curiga, lalu masuk dan menyelamatkannya.
Pasti setelah diselamatkan, bapak gurunya melapor atas kejahatan yang Rena lakukan padanya. Ingin balas dendam tapi tidak pandai meninggalkan jejak.
Beberapa saat kemudian, bapak guru mencium aroma menyengat. Aroma ini tidak asing. Saat menyadarinya, bapak guru tersebut langsung terbelalak. Ini aroma tabung gas yang bocor.
Jadi sebelum berpamitan pergi, Rena membocorkan tabung gas yang ada di dapurnya.
Dan...
Pyarr!
Tiba-tiba salah satu kaca jendelanya pecah. Lagi-lagi bapak guru terbelalak. Kayu yang dilempar masuk ke rumahnya ternyata kayu yang sudah terbakar.
***
Di luar rumah bapak guru.
Rena merentangkan kedua tangannya keatas. "Hari yang melelahkan,"
Rena pergi menjauhi rumah bapak gurunya, sambil melepas sarung tangannya. Beberapa langkah kemudian terdengar suara ledakan dari belakang.
Duar!
Rumah bapak gurunya terbakar dengan api besar. Dari jarak yang sudah jauh Rena tersenyum tanpa dosa.
Sudah hampir jauh, Rena mengambil tasnya yang ada di semak-semak. Ia lalu mengganti pakaian yang ia bawa di dalam tasnya.